Harga Emas Hari Ini Lesu Setelah Rilis Data Ekonomi AS

Harga emas dunia melemah di tengah rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS).

Diterbitkan 25 September 2026, 07:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas melemah pada perdagangan Kamis, 24 September 2026 waktu setempat. Pergerakan harga emas dunia ini dipengaruhi rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) dan Purchasing Manager’s Index (PMI).

Mengutip Vietnam.vn, Jumat (25/9/2026), harga emas spot turun US$ 30 menjadi US$ 4.263 per ons. Kontrak berjangka emas untuk pengiriman November 2026 diperdagangkan di kisaran US$ 4.297 per ons.

Sementara itu, berdasarkan Departemen Tenaga Kerja AS, jumlah klaim awal tunjangan pengangguran (yang disesuaikan secara musiman) turun menjadi 197.000, lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 201.000. Angka minggu lalu direvisi sedikit naik menjadi 198.000.

Inflasi yang persisten dan pasar tenaga kerja yang relatif kuat memperkuat harapan kalau the Federal Reserve (the Fed) akan mempertahankan kebijakan moneter ketatnya, sehingga mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan nilai tukar dolar AS. Hal itu memberi tekanan ke harga emas.

Sebelumnya, harga emas sempat tertekan setelah AS merilis data PMI September yang lebih baik dari perkiraan. Angka awal PMI gabungan (composite PMI) September naik menjadi 58,4 poin dari 56 poin pada Agustus, yang merupakan level tertinggi sejak Juli 2021. PMI manufaktur naik dari 53,9 menjadi 57 poin. Sementara itu, PMI jasa naik dari 56,5 menjadi 58,7 poin.

Dalam survei PMI tersebut, indeks biaya input naik menjadi 66,4 poin dari 59,9 poin pada bulan sebelumnya, level tertinggi sejak Oktober 2022. Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran akan inflasi dan memperkuat ekspektasi pasar kalau The Fed akan terus menaikkan suku bunga pada Oktober.

 

 

Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed

Pasar telah memperhitungkan probabilitas sebesar 70,9%The Fed akan menaikkan suku bunga pada Oktober, naik dari sekitar 53% sebelumnya.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun sempat naik ke angka 5,106%, level tertinggi sejak tahun 2007. Imbal hasil obligasi tenor 2 tahun juga mendekati level 4,9%. Dolar AS menguat terhadap euro, poundsterling Inggris, yen Jepang, dan dolar Kanada (CAD), yang semakin menambah tekanan pada harga emas.

Harga minyak mentah Brent sempat melampaui US$ 103 per barel, sementara minyak mentah WTI diperdagangkan di kisaran US$ 92,6 per barel. Perkembangan situasi di Selat Hormuz dan ketegangan antara AS dan Iran memicu kekhawatiran pasar mengenai pasokan energi, terutama di tengah ketatnya pasokan bahan bakar diesel.

 

Prediksi Harga Emas

Senior Commodity Strategist TD Securities, Ryan McKay menuturkan, harga emas masih berada di bawah tekanan akibat suku bunga tinggi. Namun, permintaan investasi tetap stabil dan menunjukkan tanda-tanda peningkatan di kalangan banyak kelompok investor.

Menurut TD Securities hubungan tradisional antara harga emas dan suku bunga riil telah melemah. Secara historis, emas mampu mengalami kenaikan nilai seiring dengan kenaikan imbal hasil riil ketika risiko makroekonomi lainnya mendominasi sentimen pasar. Faktor-faktor seperti ketidakstabilan geopolitik, berkurangnya ketergantungan pada dolar AS, kekhawatiran akan devaluasi mata uang, memburuknya kondisi fiskal, dan inflasi yang terus berlanjut terus mendukung permintaan emas sebagai instrumen investasi.

Pasar saat ini mencerminkan kemungkinan The Fed akan menaikkan suku bunga tiga kali lagi. TD Securities meyakini ekspektasi kenaikan suku bunga juga membuka peluang bagi kenaikan harga emas. Hal ini dikarenakan jika The Fed tidak menaikkan suku bunga seagresif perkiraan pasar, ekspektasi kebijakan moneter dapat disesuaikan dengan cara yang mendukung logam mulia tersebut.

 

Arus Masuk Dana ke ETF

Arus masuk dana ke ETF emas juga menunjukkan tanda-tanda peningkatan. TD Securities memperkirakan bahwa ETF emas global telah mengakumulasi sekitar 6,3 juta ons sejak Juli.

Permintaan ini tetap kuat bahkan saat The Fed kembali melanjutkan tren pengetatan moneter, yang mengindikasikan daya tarik emas didukung oleh faktor-faktor di luar suku bunga.

TD Securities meyakini bahwa meskipun The Fed mempertahankan kebijakan moneter yang ketat, arus investasi jangka panjang dapat membantu emas bertahan di tengah suku bunga tinggi. Bank tersebut memperkirakan harga emas akan melampaui US$ 5.000 per ons pada 2027.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6