Wamentan Ungkap Tantangan Swasembada Bawang Putih

Pemerintah menyiapkan bantuan benih Rp 75 juta per hektare untuk mempercepat swasembada bawang putih dan mengurangi ketergantungan impor.

Diterbitkan 17 Juni 2026, 20:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkapkan dua tantangan utama yang dihadapi pemerintah dalam upaya mewujudkan swasembada bawang putih, yakni ketersediaan lahan dan bibit.

Meski demikian, menurut dia, tantangan tersebut masih relatif lebih ringan dibandingkan target swasembada beras yang membutuhkan lahan jauh lebih luas.

"Tantangannya kalau menurut Pak Mentan dan tim bukan kita mau meremehkan suatu tantangan, tapi setidaknya lebih tidak terlalu menantang dibanding swasembada beras. Karena kalau beras ini kan butuhnya jutaan hektare, terus harus cetak sawah pun juga harus banyak dan lain-lain," ujar Sudaryono di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Sudaryono menjelaskan, pengembangan bawang putih membutuhkan lahan di kawasan dataran tinggi. Karena itu, Kementan telah mengidentifikasi sejumlah wilayah yang dinilai potensial, antara lain Sembalun di Nusa Tenggara Barat (NTB), Temanggung di Jawa Tengah, dan Humbang Hasundutan di Sumatera Utara.

Selain itu, pemerintah juga menjajaki kemungkinan pemanfaatan lahan perkebunan yang sudah tidak produktif.

"Salah satunya kita sedang bicara dengan Kang Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, bagaimana di daerah Bandung sana itu kebun teh yang sebagian sudah tidak beroperasi kemudian bisa kita konversi menjadi lahan untuk bawang putih," tuturnya.

Menurut Sudaryono, tantangan lain yang tak kalah penting adalah penyediaan bibit yang sesuai dengan kondisi lahan dan iklim di Indonesia.

"Tantangannya adalah tantangan pembibitan, tantangan varietas yang cocok dengan tempat itu, kemudian juga waktu," katanya.

 

Pemerintah Siapkan Bantuan Benih Rp 75 Juta per Hektare

Untuk mengatasi persoalan bibit, pemerintah menyiapkan bantuan benih senilai Rp 75 juta per hektare bagi petani. Program tersebut menjadi bagian dari strategi mencapai swasembada bawang putih dalam tiga hingga empat tahun ke depan.

Sudaryono mengatakan saat ini lebih dari 90 persen kebutuhan bawang putih nasional masih dipenuhi melalui impor.

"Sekarang ini impor sekitar lebih dari 90 persen bawang putih kita adalah impor. Nah keinginan dari Presiden adalah bagaimana barang yang namanya bawang putih ini, barang pokok penting ini kemudian bisa swasembada. Kalau ini cukup menanam bawang putih di kurang lebih 100.000 hektare," ungkapnya.

Pada tahap awal, pemerintah akan menyalurkan bantuan benih untuk sekitar 5.000 hektare lahan. Dengan nilai bantuan Rp 75 juta per hektare, total anggaran yang disiapkan mencapai sekitar Rp 375 miliar.

"Mulai dari tahun ini, kita 5.000 hektare pakai APBN, 20.000 hektare BUMN, dan swasta diharapkan 20.000 hektare karena kita mengarah ke 100.000 hektare," ujar Sudaryono.

 

Petani Diminta Mengembalikan Benih

Sudaryono menjelaskan bantuan benih tersebut menggunakan skema pengembangan bibit nasional. Petani yang menerima bantuan nantinya diminta mengembalikan benih sebanyak satu setengah kali dari jumlah yang diterima kepada Kementerian Pertanian.

Sementara hasil panen di luar kewajiban tersebut dapat dimanfaatkan atau dijual oleh petani.

Benih yang dikembalikan akan didistribusikan kembali kepada petani lain sehingga produksi benih nasional dapat meningkat secara bertahap.

"Nah oleh karenanya kalau kita biarkan saja, enggak akan ada yang mau membibit karena untuk bibit butuh modal besar. Sehingga Rp 75 juta dari Rp 120 juta total biaya tanam bawang putih tadi kemudian diberikan dalam bentuk pinjaman bibit dari Kementerian Pertanian," jelas Sudaryono.

Melalui skema tersebut, pemerintah berharap ketersediaan bibit bawang putih dalam negeri dapat meningkat sehingga target swasembada dan pengurangan impor bisa tercapai dalam beberapa tahun mendatang.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6