Badan Pusat Statistik (BPS) menilai banyak masyarakat menganggap petani Indonesia sejak lama merupakan kalangan tak berpendidikan. Sehingga tak ada kebanggaan apabila melakoni profesi sebagai petani, termasuk di kalangan para kawula muda yang lebih memilih cari duit dari jadi tukang ojek.
"Itulah fenomena yang terjadi saat ini. Mereka (petani) dianggap tidak berpenghasilan karena imejnya sudah tak punya pendidikan," ungkap Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, Adi Lumaksono dalam acara Peningkatan Wawasan Statistik Pertanian di Bogor, Jakarta, seperti ditulis Minggu (8/9/2013).
Ironisnya, Direktur Analisis dan Pengembangan Statistik BPS, Y Bambang Kristianto menambahkan, sebanyak 60% dari total petani Indonesia hidup dalam garis kemiskinan. "Mereka rela mengurangi jatah makan dari biasanya tiga kali menjadi dua kali dalam sehari hingga menjual asetnya," lanjutnya.
Hal senada juga diutarakan Pemimpin Redaksi Media Indonesia Usman Kansong bahwa terjadi tren pergeseran jika petani sekarang ini bergeser memilih profesi sebagai buruh. "Anak petani malu karena lebih baik menjual sawahnya untuk membeli motor dan menjadi tukang ojek dibandingkan naik traktor," paparnya.
Namun menanggapi pernyataan tersebut, Bambang menerangkan, sikap tersebut menunjukkan kondisi realistis dari para petani maupun putra-putrinya. "Mending lahan sawah mereka dibangunkan rumah, lalu dijadikan kontrakan sehingga kehidupan bisa lebih terjamin karena ada sewa rumah setiap bulan," ucapnya. Â
Adi mengakui, peralihan tersebut menjadi tantangan pemerintah untuk menghambat urbanisasi dengan mulai memberdayakan potensi yang ada di pedesaan.
"Contohnya saja menentukan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk komoditas atau hasil pertanian harus menguntungkan petani supaya bisa menjadi daya tarik dan meningkatkan produktivitas pertanian dalam negeri," pungkas dia. (Fik/Igw)
Baca Juga:
[VIDEO] Anak Muda Indonesia Ogah Jadi Petani Karena Takut Miskin
Mentan: Lahan Sempit, Bagaimana Petani Mau Kaya?
[VIDEO] Masihkah Indonesia Disebut Negara Agraris?
"Itulah fenomena yang terjadi saat ini. Mereka (petani) dianggap tidak berpenghasilan karena imejnya sudah tak punya pendidikan," ungkap Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, Adi Lumaksono dalam acara Peningkatan Wawasan Statistik Pertanian di Bogor, Jakarta, seperti ditulis Minggu (8/9/2013).
Ironisnya, Direktur Analisis dan Pengembangan Statistik BPS, Y Bambang Kristianto menambahkan, sebanyak 60% dari total petani Indonesia hidup dalam garis kemiskinan. "Mereka rela mengurangi jatah makan dari biasanya tiga kali menjadi dua kali dalam sehari hingga menjual asetnya," lanjutnya.
Hal senada juga diutarakan Pemimpin Redaksi Media Indonesia Usman Kansong bahwa terjadi tren pergeseran jika petani sekarang ini bergeser memilih profesi sebagai buruh. "Anak petani malu karena lebih baik menjual sawahnya untuk membeli motor dan menjadi tukang ojek dibandingkan naik traktor," paparnya.
Namun menanggapi pernyataan tersebut, Bambang menerangkan, sikap tersebut menunjukkan kondisi realistis dari para petani maupun putra-putrinya. "Mending lahan sawah mereka dibangunkan rumah, lalu dijadikan kontrakan sehingga kehidupan bisa lebih terjamin karena ada sewa rumah setiap bulan," ucapnya. Â
Adi mengakui, peralihan tersebut menjadi tantangan pemerintah untuk menghambat urbanisasi dengan mulai memberdayakan potensi yang ada di pedesaan.
"Contohnya saja menentukan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk komoditas atau hasil pertanian harus menguntungkan petani supaya bisa menjadi daya tarik dan meningkatkan produktivitas pertanian dalam negeri," pungkas dia. (Fik/Igw)
Baca Juga:
[VIDEO] Anak Muda Indonesia Ogah Jadi Petani Karena Takut Miskin
Mentan: Lahan Sempit, Bagaimana Petani Mau Kaya?
[VIDEO] Masihkah Indonesia Disebut Negara Agraris?
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515623/original/045243200_1772182225-dinas_perhubungan_-_klaim_facebook_cpns.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8327596/original/000770900_1782197299-cek_fakta_-_dishub_lowongan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5471300/original/019987800_1768283249-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-01-13T124627.766.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/182/original/062214200_1470970983-Fiki_Aprianti_kecil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/26541/original/lahan-petani-130610b.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/159/original/053053200_1469445063-Irna_Profile.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261515/original/075937400_1781733992-IMG-20260618-WA0000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258677/original/006830300_1781400870-000_B6Z639C.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261507/original/086752300_1781723618-063_2282082971.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261500/original/047650500_1781713643-bosnia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263929/original/069841500_1782033777-portugal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262977/original/095515100_1781855197-20260616HK_Latihan_Timnas_Prancis_01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262514/original/049328500_1781828863-Canada_s_Jonathan_David__left__and_Stephen_Eustaquio.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261544/original/016069100_1781743382-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8275504/original/022503000_1782129376-Untitled-1-04.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261718/original/051731600_1781755469-IMG-20260618-WA0022.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261448/original/088941000_1781704030-000_B7CB6XU.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8327170/original/046346200_1782196768-AP26174048235003.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261962/original/095248300_1781764587-35.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261580/original/038583000_1781748031-hl1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6578834/original/084195200_1779421747-durian.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257659/original/072472100_1781250462-543cb57a-f647-4b95-8f1a-bac665f3178c.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257128/original/046032100_1781222997-140785.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8068079/original/094363900_1780912927-Foto1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2233928/original/002087300_1527755223-Bungkus-Rokok7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3397779/original/072950500_1615352732-000_94J2LB.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8072348/original/062786700_1780917597-WhatsApp_Image_2026-06-08_at_17.53.47.jpeg)