Di KTT ASEAN, Indonesia Soroti Energi Merata hingga Wilayah Terpencil

Di KTT ASEAN, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapka tantangan Indonesia untuk memperluas akses energi di wilayah 3T.

Diterbitkan 08 Mei 2026, 13:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM), Bahlil Lahadalia membahas pemerataan akses energi di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Keduanya menyuarakan hal ini saat Special BIMP-EAGA (Brunei-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area) Leaders' Summit di Filipina, Kamis, 7 Mei 2026.

Bahlil mengatakan, hal itu masih menjadi tantangan di Indonesia sebab masyarakat masih bergantung pada genset dengan biaya operasional tinggi, sementara aktivitas ekonomi dan layanan publik berjalan terbatas akibat pasokan listrik yang belum sepenuhnya andal. 

"Pertemuan ini merupakan inisiatif kerja sama ekonomi subregional yang dibentuk pada tahun 1994 untuk mendorong pembangunan di daerah 3T bagi empat negara anggota," kata Bahlil dalam keterangan resmi, Jumat (8/5/2026).

Bahlil mengungkapkan, hasil dari pertemuan ini diharapkan mampu menghadirkan akses listrik yang merata, andal, dan terjangkau hingga ke daerah paling terpencil. Sebab, kerja sama semua pemimpin negara yang hadir  menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat sinergi pembangunan kelistrikan lintas kawasan.

Ia memandang, rencana itu bisa terwujud melalui proyek interkoneksi energi, elektrifikasi pedesaan, hingga pengembangan energi baru terbarukan. 

"Sinergi ini akan memperkuat kolaborasi sehingga masyarakat di daerah remote area mampu mengakses energi dengan harga yang terjangkau untuk kesejahteraan yang lebih baik," ujar Bahlil.

Dalam pidatonya, Prabowo mengingatkan agar para pemimpin negaea dapat melindungi mata pencaharian rakyatnya. Maka, kerja sama subkawasan tersebut harus menjadi lebih adaptif, berdampak, dan responsif terhadap dinamika global yang terus berubah.

"Prioritas kita jelas, melindungi keselamatan dan mata pencaharian rakyat kita. Visi BIMP-EAGA 2035 telah memberi kita arah yang jelas. Sekarang tugasnya adalah mewujudkannya," ucap Prabowo.

Prabowo ingin, supaya peningkatan kapasitas jaringan listrik Trans Borneo Power Grid agar distribusi energi dapat berjalan lebih efisien di kawasan.

"Semua ini tidak akan terjadi tanpa dukungan yang tepat. Kita perlu mengamankan pendanaan, memobilisasi keahlian teknis; dan memperdalam kemitraan dengan penasihat regional dan Mitra Pembangunan kita," ujar dia.

 

Prabowo Ajak ASEAN Percepat Jaringan Energi dan Ketahanan Pangan di Tengah Gejolak Global

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyoroti isu ketahanan energi sebagai tantangan utama yang mendesak untuk dihadapi bersama.

Prabowo menilai tekanan global yang meningkat serta ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah membuat isu energi bukan lagi sekadar tantangan jangka panjang, melainkan kebutuhan yang harus segera direspons.

Hal ini disampaikan Prabowo saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia–Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA), Kamis (7/5/2026). Forum ini menjadi bagian dari rangkaian KTT ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina.

"Ketahanan energi adalah salah satu isu penting yang kita hadapi saat ini. Dengan meningkatnya tekanan global dan ketidakstabilan di Timur Tengah, ini bukan lagi masalah jangka panjang, melainkan masalah mendesak," kata Prabowo dikutip dari siaran pers Sekretariat Presiden, Kamis (7/5/2026).

Dia menyampaikan, kawasan BIMP-EAGA memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan. Mulai dari tenaga air, tenaga surya, tenaga angin, hingga lahan subur yang belum dimanfaatkan secara optimal.

 

Pertanyakan Kesiapan Negara Anggota

Prabowo pun mempertanyakan kesiapan negara-negara anggota untuk memanfaatkan potensi tersebut demi memenuhi kebutuhan kawasan sekaligus mendukung transisi energi ASEAN.

"Pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk bertindak berdasarkan potensi tersebut. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan subregional kita, tetapi juga untuk berkontribusi pada transisi energi ASEAN," ucap dia.

Lebih lanjut, Prabowo mendorong langkah konkret untuk mempercepat pengembangan energi bersih di kawasan. Beberapa langkah yang disoroti antara lain pengembangan tenaga air di Borneo, perluasan proyek energi surya di Palawan, serta pemanfaatan energi angin di wilayah pesisir.

Presiden Prabowo mencontohkan sejumlah langkah yang tengah dijalankan Indonesia dalam mempercepat pengembangan energi surya.

"Transisi kita sedang melaju dengan kecepatan penuh. Kita tengah bangun tenaga surya 100 GW. Bersama-sama kita tingkatkan infrastruktur energi kita. BIMP-EAGA memiliki potensi yang besar," tutur dia.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6