Biosolar Campur Minyak Kelapa Sawit 50% Dimulai Juli 2026

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan, program biosolar dilakukan sebagai upaya kemandirian energi nasional.

Diterbitkan 31 Maret 2026, 20:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan pemerintah akan memulai program biosolar dengan campuran 50% minyak kelapa sawit atau B50 pada Juli 2026. Langkah ini disebut mampu menghemat anggaran hingga Rp 48 triliun.

Airlangga menyampaikan, langkah itu dilakukan sebagai upaya kemandirian energi nasional. Adapun, program B50 ini dimulai pada 1 Juli 2026.

"Sebagai bagian dari upaya kemandirian energi dan efisiensi energi, pemerintah menerapkan kebijakan B50 ini mulai berlaku 1 Juli 2026," kata Airlangga dalam konferensi pers daring, Selasa (31/3/2026) malam.

Dia mengakui PT Pertamina (Persero) telah memiliki kesiapan untuk melakukan pencampuran atau blending dengan formulasi B50 tersebut. Cara ini diyakini mampu mengurangi penggunaan BBM fosil sebanyak 4 juta kiloliter (KL) dalam setahun.

"Pertamina telah siap untuk mengimplementasikan blending dan ini berpotensi mengurangi penggunaan BBM berbasis fosil sebanyak 4 juta kiloliter dan ini dalam satu tahun," ungkapnya.

Penghematan anggaran juga dibidik dari program B50 ini. Airlangga menghitung, negara bisa hemat Rp 48 triliun jika diterapkan hingga akhir 2026 ini atau selama 6 bulan.

"Tentu ini dalam 6 bulan ada penghematan dari fosil dan juga ada penghematan subsidi daripada biodiesel yang diperkirakan nilainya Rp 48 triliun," ungkapnya.

Diolah di Kilang Pertamina Balikpapan

Pada kesempatan yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan manfaat dari pelaksanaan B50 ini. 

"Saya juga menyampaikan bahwa dengan implementasi B50, maka insyaallah di tahun ini kita akan mengalami surplus untuk solar kita," kata dia.

Adapun pengolahan B50 akan memanfaatkan fasilitas kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) PT Pertamina (Persero) di Balikpapan, Kalimantan Timur. "Jadi ini menjadi kabar baik begitu RDMP (Refinery Development Master Plan) di Kalimantan Timur sudah kita operasikan," imbuh Bahlil.

Setop Impor Solar

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membocorkan rencana Presiden Prabowo Subianto untuk melanjutkan program biodesel sawit. Program ini didapuk bisa membuat Indonesia tidak lagi perlu impor solar dari luar negeri.

"Kita menyetop impor solar digantikan oleh biofuel sawit B50. Itu 5,3 juta ton. Itu tahun ini kita tidak impor. Dan itu selesai,” katanya di Kementerian Pertanian, Senin (30/3/2026).

Ia melanjutkan, program tersebut semakin dibutuhkan karena situasi geopolitik yang kian memanas. Berbagai wacana krisis energi menjadi perhatian agar tidak terpapar ke Indonesia.

"Ini ada hikmah. Kondisi geopolitik yang memanas itu ada hikmahnya bagi Indonesia,” ujarnya. 

 

Hilirisasi Biofuel

Sebelumnya, Pemerintah tengah menyiapkan langkah strategis melalui hilirisasi biofuel sebagai alternatif pengganti bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite (RON 90) dan Pertamax (RON 92). Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada impor energi di tengah tingginya harga minyak dunia.

Presiden Prabowo Subianto disebut mendorong pengembangan bahan bakar berbasis nabati sebagai solusi jangka panjang untuk ketahanan energi nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan, konsep yang tengah disiapkan adalah pencampuran etanol dengan bensin hingga 20 persen atau dikenal sebagai E20.

"Mimpi kita E20, ethanol campuran bensin 20% dari jagung, ubi, dan tebu. Iya, itu menggantikan (Pertalite dan Pertamax),” ujar Amran di Kantor Kementerian Pertanian, Senin (20/3/2026).

 

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6