Hilirisasi Biofuel, Pemerintah Siapkan Pengganti Pertalite dan Pertamax

Pemerintah siapkan biofuel E20 sebagai pengganti Pertalite dan Pertamax, berbahan jagung, ubi, dan tebu untuk tekan impor BBM.

Diterbitkan 30 Maret 2026, 18:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah tengah menyiapkan langkah strategis melalui hilirisasi biofuel sebagai alternatif pengganti bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite (RON 90) dan Pertamax (RON 92). Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada impor energi di tengah tingginya harga minyak dunia.

Presiden Prabowo Subianto disebut mendorong pengembangan bahan bakar berbasis nabati sebagai solusi jangka panjang untuk ketahanan energi nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan, konsep yang tengah disiapkan adalah pencampuran etanol dengan bensin hingga 20 persen atau dikenal sebagai E20.

“Mimpi kita E20, ethanol campuran bensin 20% dari jagung, ubi, dan tebu. Iya, itu menggantikan (Pertalite dan Pertamax),” ujar Amran di Kantor Kementerian Pertanian, Senin (20/3/2026).

Menurut dia, bahan baku biofuel tersebut berasal dari komoditas dalam negeri seperti jagung, ubi, dan tebu. Bahkan, Indonesia saat ini memiliki potensi besar dari produksi molases atau tetes tebu yang selama ini menjadi komoditas ekspor.

Amran mengungkapkan, produksi molases nasional mencapai sekitar 1 juta ton. Potensi ini dinilai dapat dioptimalkan untuk mendukung program biofuel nasional.

“Bahan baku kita yang kita ekspor, itu ada 1 juta ton itu molases, tetes (tebu),” jelasnya.

Ke depan, pemerintah akan membahas lebih lanjut rencana ini bersama Kementerian BUMN guna memastikan kesiapan implementasi di sektor energi.

Mentan Amran: Hilirisasi Kunci Indonesia jadi Negara Kuat dan Dorong Kemandirian Energi

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, hilirisasi kunci Indonesia menjadi negara kuat, memperkuat ekonomi nasional, mendorong kemandirian energi, serta menjaga ketahanan pangan di tengah dinamika global.

"Hilirisasi sebagai kunci utama untuk memperkuat ekonomi nasional, kemandirian energi, serta ketahanan pangan di tengah dinamika global," ujar Mentan Andi Amran sebagaimana keterangannya di Jakarta, melansir Antara, Sabtu 28 Maret 2026.

Menurut dia, Indonesia tidak boleh lagi hanya mengekspor bahan mentah, tetapi harus masuk pada tahap hilirisasi agar nilai tambah dinikmati di dalam negeri.

"Sejumlah komoditas unggulan seperti kelapa, kelapa sawit (CPO), dan gambir memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui hilirisasi," ucap Amran.

Dia menjelaskan, produk turunan seperti minyak olahan, santan, coconut water, hingga produk turunan industri lainnya dinilai mampu meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan dibandingkan produk mentah.

"Kelapa kita kuasai dunia, nomor satu dunia. Masalahnya adalah kelapa dikirim bulat-bulat. Kalau ini diolah menjadi virgin coconut oil, coconut milk, coconut water, nilainya bisa puluhan sampai ratusan kali lipat. Air kelapa saja sekarang dijual mahal di luar negeri hanya karena packaging, padahal bahan bakunya dari Indonesia," kata Amran.

Indonesia Kuasai Pasar Gambir Dunia

Selain kelapa, menurut Mentan Andi Amran, Indonesia juga menguasai sekitar 80 persen pasar gambir dunia, namun masih diekspor dalam bentuk setengah jadi sehingga nilai tambah dinikmati negara lain.

"Gambir itu 80 persen kita suplai dunia. Tapi yang dikirim setengah jadi. Kalau kita hilirisasi, nilainya ribuan triliun. Nilai tambah tertinggi itu ada di hilir, bukan di hulu," papar dia.

Amran juga menyinggung potensi besar hilirisasi kelapa sawit (CPO) yang menurutnya dapat mengubah peta ekonomi dunia karena Indonesia menguasai lebih dari 60 persen produksi CPO dunia.

"Kalau CPO kita olah semua menjadi margarin, kosmetik, dan produk turunan lainnya, dunia akan sangat bergantung pada Indonesia. Kita kuasai lebih dari 60 persen pasar dunia. Artinya Indonesia sangat menentukan," ucap dia.

Ia menegaskan, hilirisasi tidak hanya akan memperkuat ekonomi nasional, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani, membuka lapangan kerja, serta memperkuat posisi Indonesia di dunia internasional.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6