Hemat BBM Diakui Jadi Satu Cara Hadapi Situasi Krisis Energi

Perang Iran versus Israel-Amerika Serikat (AS) telah membawa dampak secara global, khususnya terhadap ketersediaan suplai energi seperti BBM

Diterbitkan 18 Maret 2026, 14:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto berharap agar seluruh lapisan masyarakat bisa menghemat konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan tidak menimbunnya, terutama menyambut momentum Lebaran serta terjadinya gejolak ekonomi global yang terjadi di Timur Tengah.

"Tentunya kita juga sekarang harus melakukan langkah-langkah yang proaktif, dalam arti kita harus melakukan penghematan konsumsi BBM. Kita tidak bisa menganggap bahwa apapun terjadi kita aman, ya kita bersyukur kita aman, tapi kita tidak ada upaya untuk mengurangi konsumsi BBM kita," kata Prabowo melansir Antara, pekan lalu.

Presiden menyampaikan bahwa perkembangan situasi global di kawasan Eropa dan Timur Tengah berpotensi mempengaruhi harga BBM. Kenaikan harga energi tersebut dinilai dapat berdampak pada harga pangan sehingga pemerintah perlu menyiapkan langkah-langkah proaktif.

Terkait ini, Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Andalas, Harif Amali Rivai, menilai ini bisa menjadi salah satu strategi menghadapi kondisi saat ini.

“Saya sepakat dengan ajakan Presiden untuk efisien dan menghemat BBM. Efisiensi BBM ini menjadi salah satu strategi untuk mengurangi ketergantungan pada penggunaan BBM, misal dengan work from home (WFH) yang mengurangi mobilitas. Ini merupakan solusi jangka pendek,” kata Harif.

Harif mengatakan terjadinya perang Iran versus Israel-Amerika Serikat (AS) telah membawa dampak secara global, khususnya terhadap ketersediaan suplai energi.

Situasi geopolitik itu turut berdampak terhadap kondisi perekonomian Indonesia. “Untuk itu sebaiknya masyarakat dapat mengonsumsi BBM sewajarnya saja,” ujarnya.

Harif menambahkan efisiensi dapat juga dilakukan dalam kondisi normal dalam rangka mengubah kebiasaan masyarakat dalam menggunakan energi. Namun demikian, penerapan efisiensi dalam kondisi yang serba ketidakpastian tentunya akan memberikan manfaat yang lebih banyak.

Jangan Menimbun

Dalam kondisi seperti sekarang, kata Harif, bila ada masyarakat yang menumpuk stok BBM tentunya dapat mengganggu kebutuhan masyarakat lain serta berpotensi menimbulkan kepanikan.

“Dengan demikian masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi BBM secara tidak wajar. Kondisi itu justru dapat memberikan dampak tekanan psikologis dan dampak ikutan masyarakat bersama-sama melakukan penimbunan,” katanya.

Harif menilai psikologis masyarakat terhadap ketersediaan BBM ini memang terganggu menyusul kabar pasokan BBM yang hanya cukup selama 20 hari.  Jangka waktu ketersediaan stok nasional 20-30 hari seiring keterbatasan tempat penyimpanan dengan konsumsi yang tinggi karena populasi yang padat.

“Ini bukan berarti dalam jangka waktu akan habis, namun setiap terjadi penurunan stok dalam jangka waktu tertentu maka pemerintah dan Pertamina mengisi kembali persediaan tersebut,” ujar Harif.

Harif berharap pemerintah Indonesia tetap menjaga situasi kondusif secara berkelanjutan. Caranya, dengan memastikan tersedianya jaminan bahwa stok BBM nasional berada dalam level yang aman untuk jangka pendek, terutama menjelang Idul Fitri 2026.

Dia juga menginginkan konflik di Timur Tengah yang berujung blokade Selat Hormuz tidak berkepanjangan. “Harapannya semoga perekonomian global, terutama untuk rantai pasok BBM, bisa kembali normal,” katanya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6