Pentingnya Literasi Keuangan bagi Perempuan dan Birokrasi

Menpan RB Rini Widyantini menuturkan, perempuan memiliki peran strategis sebagai pilar ketahanan ekonomi sehingga literasi keuangan jadi hal penting.

Diterbitkan 09 Februari 2026, 13:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB), Rini Widyantini, menekankan pentingnya literasi keuangan bagi kalangan perempuan. Juga dalam menunjang reformasi birokrasi di kalangan aparatur sipil negara (ASN) alias PNS. 

Menurut dia, penguatan literasi finansial bukan sekadar upaya memahami instrumen investasi, melainkan bagian dari strategi membangun ketahanan keluarga, masyarakat, dan bangsa secara berkelanjutan. Pengelolaan kekayaan juga bukan sekadar urusan hari ini, melainkan tanggung jawab lintas generasi yang dapat diwariskan.

Rini mengatakan, penguatan tersebut juga perlu dilakukan untuk kaum perempuan. Lantaran, perempuan memiliki peran strategis dalam penguatan ekonomi keluarga dan bangsa. 

"Perempuan memiliki peran strategis sebagai pilar ketahanan ekonomi, penggerak kepemimpinan ekonomi keluarga dan komunitas, serta agen literasi keuangan," ujar dia dalam keterangan tertulis, Senin (9/2/2026).

Ia menilai, pemberdayaan literasi keuangan bagi perempuan harus lebih diperkuat sebagai agenda strategis. Perempuan memegang posisi sentral dalam merencanakan pengeluaran dan tabungan keluarga. 

"Ini tentunya, seorang ibu akan menjadi pendidik yang mempengaruhi perilaku keuangan lintas generasi terutama bagi anak," dia menegaskan.

Literasi Keuangan di Birokrasi 

Sementara itu dalam perspektif reformasi birokrasi, literasi keuangan yang kuat merupakan fondasi penting bagi aparatur negara yang berintegritas, adaptif, dan berdaya saing. 

"Kita meyakini bahwa kekayaan sejati bukan hanya pada apa yang dimiliki, tetapi pada nilai yang diwariskan. True legacy is not wealth alone, but wisdom that endures across generations," kata Menpan RB.

Dalam konteks reformasi birokrasi, kepemimpinan yang visioner dan inklusif menjadi kunci menghadirkan tata kelola pemerintahan yang tangguh dan berdaya saing. Sebagai fondasi penting bagi pelayanan publik yang stabil, berkelanjutan, dan berpihak yang diwariskan untuk masa depan bangsa.

"Perlu kita sadari bahwa keputusan yang kita ambil hari ini akan menentukan warisan kepemimpinan ke depan. Karena sejatinya tidak semua keputusan meninggalkan angka, tetapi sebagian justru meninggalkan jejak nilai yang membentuk arah dan kepercayaan jangka panjang," serunya.

Jaga Nilai Secara Konsisten

Rini menyampaikan, setiap keputusan strategis hari ini bukan hanya menjawab kebutuhan sesaat, melainkan dapat membangun atau meruntuhkan kepercayaan yang menentukan masa depan organisasi. 

Oleh karena itu, nilai yang dijaga dengan konsisten akan menjadi fondasi ketahanan lintas generasi, terutama ketika kepemimpinan berganti dan  tantangan  terus berubah. 

Kepemimpinan sejati pun tidak diukur dari seberapa cepat keputusan diambil, melainkan dari keberanian memilih yang paling berdampak serta keteguhan menolak yang tidak bernilai. 

"Pada akhirnya seperti emas, nilai kepemimpinan diuji oleh waktu. Bukan oleh momen. Semakin tepat keputusan yang diambil, semakin berharga warisan yang ditinggalkan dari waktu ke waktu," pungkas Rini.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6