Harga Minyak Dunia Turun, Badai Musim Dingin Siap Menerjang

Harga minyak dunia ditutup melemah seiring pasar menilai dampak badai musim dingin dan ketegangan AS-Iran.

Diterbitkan 27 Januari 2026, 07:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia ditutup melemah tipis pada perdagangan Senin, setelah sebelumnya melonjak lebih dari 2% di sesi sebelumnya. Pelaku pasar kini mencermati dampak badai musim dingin terhadap produksi minyak di Amerika Serikat (AS), sekaligus perkembangan ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.

Mengutip CNBC, Selasa (27/1/2026), harga minyak mentah Brent ditutup turun 29 sen atau 0,4% ke level USD 65,59 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 44 sen atau 0,7% menjadi USD 60,63 per barel.

Meski melemah pada awal pekan, kedua patokan harga minyak tersebut masih mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 2,7% dan ditutup pada level tertinggi sejak 14 Januari pada perdagangan Jumat lalu.

Badai musim dingin yang melanda sejumlah wilayah AS akhir pekan lalu sempat mengganggu produksi minyak. Analis dan pelaku pasar memperkirakan produsen minyak AS kehilangan hingga 2 juta barel per hari, atau sekitar 15% dari total produksi nasional.

Konsultan Energy Aspects memperkirakan gangguan produksi minyak mencapai puncaknya pada Sabtu. Cekungan Permian disebut mengalami dampak terbesar, dengan penurunan produksi sekitar 1,5 juta barel per hari.

Namun, gangguan mulai mereda pada Senin, dengan produksi yang dihentikan di Permian diperkirakan turun menjadi sekitar 700.000 barel per hari dan diproyeksikan pulih sepenuhnya pada 30 Januari.

Regulator juga mencatat sekitar dua lusin laporan gangguan di fasilitas pemrosesan gas alam dan stasiun kompresor di Texas selama akhir pekan. Meski demikian, jumlah tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan lebih dari 200 gangguan yang terjadi dalam lima hari pertama badai musim dingin parah pada 2021, menurut analis TACenergy.

 

Produksi Kazakhstan

Dari kawasan Asia Tengah, Kazakhstan bersiap kembali memulai produksi di ladang minyak terbesarnya, menurut pernyataan kementerian energi setempat. Namun, sumber industri menyebutkan volume produksi masih rendah dan status force majeure pada ekspor CPC Blend masih diberlakukan.

Sementara itu, Caspian Pipeline Consortium (CPC) menyatakan terminal Laut Hitam miliknya telah kembali beroperasi penuh setelah perawatan di salah satu dari tiga titik sandar selesai dilakukan.

Pelaku pasar juga tetap waspada terhadap risiko geopolitik. Ketegangan antara AS dan Iran terus membayangi pergerakan harga minyak.

 

Armada AS Menuju Iran

Presiden AS Donald Trump pekan lalu mengatakan bahwa AS memiliki sebuah “armada” yang bergerak menuju Iran, meski ia berharap tidak perlu menggunakannya. Pernyataan itu kembali memperingatkan Teheran agar tidak membunuh para pengunjuk rasa atau melanjutkan kembali program nuklirnya.

Seorang pejabat senior Iran menegaskan bahwa Iran akan memperlakukan setiap serangan sebagai “perang besar-besaran terhadap kami”.

“Secara keseluruhan, minyak mentah masih bergerak dalam pola perdagangan menunggu, sampai ada kejelasan bagaimana Pemerintahan Trump akan menangani Iran,” ujar Dennis Kissler, Senior Vice President of Trading di BOK Financial.

Ia menambahkan, kelanjutan pembicaraan damai Ukraina-Rusia-AS serta sikap OPEC yang kemungkinan mempertahankan kebijakan produksi saat ini, masih menjadi faktor penekan harga.

 

Produksi OPEC

OPEC+ diperkirakan akan mempertahankan keputusan menunda peningkatan produksi minyak untuk Maret dalam pertemuan Minggu ini, menurut tiga delegasi OPEC+.

Di sisi lain, CEO Rystad Energy Jarand Rystad memperingatkan produksi minyak serpih AS bisa turun hingga 400.000 barel per hari pada 2026 jika negara-negara OPEC berupaya meningkatkan pangsa pasar dan harga minyak jatuh ke level USD 40 per barel.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6