Gantikan Kembang Api, GWK Bali Pukau Wisatawan dengan Musical Laser Show

GWK Cultural Park sukses menggelar perayaan tahun baru ramah lingkungan dengan menghadirkan teknologi laser modern dan seni kontemporer.

Diterbitkan 05 Januari 2026, 18:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park kembali membuktikan posisinya sebagai salah satu motor penggerak industri pariwisata dan ekonomi kreatif Bali melalui penyelenggaraan GWK Bali Countdown 2026.

Mengusung konsep berbeda dari perayaan tahun-tahun sebelumnya, GWK memilih menghadirkan Musical Laser Show sebagai puncak acara pergantian tahun, menggantikan pesta kembang api yang ditiadakan sesuai regulasi pemerintah daerah Bali.

Keputusan strategis ini tidak hanya menunjukkan kepatuhan terhadap kebijakan publik, tetapi juga mencerminkan kemampuan adaptasi industri event dan hiburan dalam menghadirkan alternatif atraksi bernilai tinggi, ramah lingkungan, serta relevan dengan kondisi sosial masyarakat.

Dengan menarik sekitar 10 ribu pengunjung, GWK Bali Countdown 2026 menjadi bukti bahwa inovasi konsep tetap mampu menjaga daya tarik wisata, sekaligus menggerakkan roda ekonomi lokal di tengah tantangan global dan pemulihan pascabencana.

Berbeda dengan perayaan tahun baru pada umumnya, rangkaian acara dibuka dengan doa bersama dan penggalangan solidaritas untuk korban bencana alam, yang sekaligus memperkuat citra GWK sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan dan berorientasi nilai sosial. Momentum pergantian tahun dimaknai bukan sekadar hiburan, tetapi juga refleksi kolektif dan optimisme ekonomi menuju 2026.

Dari sisi bisnis, gelaran ini menciptakan multiplier effect yang signifikan, mulai dari keterlibatan lebih dari 1.000 tenaga kerja, penguatan ekosistem UMKM lokal, hingga eksposur bagi pelaku seni, musisi, dan komunitas kreatif Bali.

Tanpa kembang api, namun dengan tata cahaya laser modern dan pertunjukan seni kontemporer, GWK berhasil membangun narasi baru bahwa inovasi industri pariwisata tidak selalu bergantung pada atraksi konvensional, melainkan pada kreativitas, kolaborasi, dan nilai keberlanjutan.

Musical Laser Show Jadi Alternatif Inovatif Industri Event

Puncak perayaan ditandai dengan Musical Laser Show yang dipadukan dengan tarian kontemporer modern dari Manubada Art, salah satu komunitas seni berpengaruh di Bali. Pertunjukan bertajuk “Sunya Sunyi Nemu Ayu” tersebut menghadirkan harmoni antara teknologi visual, seni tari, dan pesan spiritual, yang memperkuat positioning GWK sebagai pusat seni budaya modern berbasis kearifan lokal.

Menurut Ch. Rossie Andriani, Direktur Operasional GWK Cultural Park, konsep perayaan tahun baru kali ini dirancang untuk menjawab tantangan sosial dan ekonomi secara bersamaan.

“Perayaan tahun baru seharusnya tidak hanya menjadi momen suka cita, tetapi juga momen untuk bersyukur. Pada penutupan tahun 2025 ini, kami berfokus pada pemulihan dan percepatan kebangkitan ekonomi, serta menumbuhkan optimisme masyarakat di tahun yang baru,” ujar Ch. Rossie Andriani, Direktur Operasional GWK Cultural Park.

Dorong UMKM dan Ekonomi Lokal Lewat Festival Rakyat Modern

Dari sisi ekonomi kreatif, kehadiran MyMelali X Pasar Keliling yang beroperasi hingga pukul 01.00 WITA menjadi daya tarik tersendiri. Puluhan pelaku UMKM lokal meramaikan area festival dengan berbagai produk kuliner dan kreatif, memperpanjang durasi belanja wisatawan dan meningkatkan perputaran ekonomi di kawasan GWK.

Tagline “Siapkan Neon Gear-mu” semakin memperkuat konsep pesta rakyat modern, menggabungkan hiburan, seni, dan konsumsi kreatif dalam satu ekosistem event pariwisata terpadu.

Selain di Main Stage yang menampilkan nama besar seperti Whisnu Santika, Maliq & D’Essentials, Lomba Sihir, Navicula, Lolot, dan Up Girls, pengunjung juga menikmati berbagai aktivitas di Bazaar Stage, mulai dari Tari Kecak, Color Party, pemutaran film pendek Indonesia, hingga beauty demo.

Strategi Bisnis Pariwisata Berbasis Keberlanjutan

Dengan ditiadakannya kembang api, GWK menunjukkan bahwa strategi pariwisata berkelanjutan dapat berjalan seiring dengan kepentingan bisnis. Penggunaan teknologi laser, penguatan unsur budaya, serta pelibatan komunitas lokal menjadi model perayaan yang lebih adaptif terhadap regulasi dan isu lingkungan.

Langkah ini sekaligus memperkuat posisi GWK Cultural Park sebagai venue event berskala nasional dan internasional yang mampu berinovasi di tengah perubahan kebijakan dan preferensi wisatawan.

Bagi industri pariwisata Bali, model seperti GWK Bali Countdown 2026 dapat menjadi referensi baru dalam mengelola event besar yang tetap kompetitif secara bisnis, namun selaras dengan nilai sosial dan lingkungan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6