Perang Logam Global Memanas, Harga Emas dan Perak Bangkit Usai Aksi Jual

Harga emas dan perak bangkit usai aksi jual tajam di tengah “perang logam” global, didorong permintaan industri, AI, dan kebijakan bank sentral.

Diterbitkan 31 Desember 2025, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pasar logam mulia kembali menunjukkan ketahanannya. Setelah sempat tertekan akibat aksi jual tajam, harga emas dan perak berbalik arah menguat. Pemulihan ini memicu optimisme reli panjang logam mulia belum sepenuhnya berakhir, bahkan berpotensi berlanjut di tengah persaingan global yang semakin ketat dalam perebutan sumber daya strategis.

Pada perdagangan Selasa, harga emas berjangka kembali naik kurang dari 1% dan bertengger di kisaran USD 4.362 per ons. Sementara itu, harga perak mencatatkan yang jauh lebih agresif dengan kenaikan sekitar 8%, setelah sehari sebelumnya mengalami penurunan harian terdalam sejak 2021. Demikian dikutip dari Yahoo Finance, Rabu (31/12/2025).

Secara tahunan, performa kedua logam tersebut terbilang impresif. Emas dan perak berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan tahunan terbesar sejak 1979, mencerminkan kuatnya permintaan global di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik yang berubah cepat.

Tak hanya emas dan perak, logam lain seperti platinum dan tembaga juga diperdagangkan mendekati rekor tertinggi. Lonjakan ini tak lepas dari meningkatnya kebutuhan logam untuk industri teknologi, terutama terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta dorongan berbagai negara untuk memindahkan pusat produksi kembali ke dalam negeri.

Bank Sentral dan Negara Berlomba Amankan Logam

Pendiri sekaligus CEO Scottsdale Mint, Josh Phair, menyebut situasi saat ini sebagai bentuk persaingan global yang semakin intens. "Kita sedang berada dalam perang logam," ujar dia.

Menurut Phair, pengamanan logam strategis oleh negara-negara besar sebenarnya sudah dimulai sejak beberapa tahun terakhir, terutama melalui pembelian emas oleh bank sentral. Aksi tersebut mendorong harga emas melonjak sekitar 68% sejak awal tahun, setelah sebelumnya mencatat kenaikan 27% pada tahun lalu.

Tak hanya emas, perak dan tembaga juga mengalami lonjakan harga signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Salah satu pemicunya adalah keputusan Amerika Serikat memasukkan kedua logam tersebut ke dalam daftar mineral penting, yang dinilai krusial bagi stabilitas ekonomi dan keamanan nasional.

 

Perak Jadi Kunci Industri Masa Depan

Peran perak kian strategis seiring pesatnya pembangunan pusat data dan infrastruktur digital. Phair menilai kebutuhan ini tak terelakkan.

"Pusat data dibangun begitu cepat di Amerika Serikat. Negara ini harus memiliki pasokan perak untuk mempertahankan posisinya di dunia,” katanya.

Kekhawatiran pasar juga meningkat setelah muncul kabar China, yang merupakan penambang perak terbesar ketiga di dunia, berencana membatasi ekspor perak mulai 1 Januari. Kebijakan tersebut dikhawatirkan akan memperketat pasokan global.

"Jika China membatasi ekspornya, negara-negara lain harus mencari sumber logam itu dari tempat lain,” Phair menambahkan.

Data dari Silver Institute menunjukkan sekitar 60% pasokan perak global digunakan untuk keperluan industri, mulai dari panel surya, komponen pusat data, hingga baterai kendaraan listrik. Angka ini menegaskan bahwa perak bukan sekadar aset investasi, tetapi juga tulang punggung teknologi masa depan.

 

Perusahaan Global Ikut Berebut Pasokan

Kebutuhan industri yang tinggi tercermin dari langkah sejumlah korporasi besar. Pada Oktober lalu, Samsung dilaporkan menandatangani kesepakatan senilai USD 7 juta untuk mengamankan pasokan perak jangka panjang dari sebuah tambang di Meksiko. Langkah ini memperlihatkan bagaimana perusahaan teknologi mulai bersikap proaktif dalam mengamankan bahan baku penting.

Meski demikian, sejumlah analis memperingatkan bahwa pasar logam mulia berpotensi mengalami kondisi overheated atau terlalu panas. Namun Phair menilai, khusus untuk perak, harganya masih tergolong murah jika dihitung secara riil.

"Jika harga tertinggi perak pada 1980 sekitar USD 50 disesuaikan dengan inflasi, nilainya bisa lebih dari USD 200. Dari sudut pandang itu, harga saat ini justru masih terbilang rendah,” jelasnya.

Didukung Pelemahan Dolar AS dan Penurunan Suku Bunga

Reli harga logam mulia sepanjang tahun ini juga didorong faktor makroekonomi. Dolar AS melemah hampir 10%, sementara Federal Reserve telah memangkas suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang 2025. Kondisi tersebut membuat aset yang bermata uang dolar, termasuk emas dan perak, menjadi lebih menarik bagi investor global.

Dengan kombinasi permintaan industri, kebijakan negara, dan kondisi moneter yang mendukung, pasar menilai era “perang logam” global masih akan terus berlangsung dalam waktu dekat.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6