Bank Indonesia Ungkap Biangkerok Kredit Perbankan 2025 Melambat

Bank Indonesia melihat bahwa pengusaha masih melihat kondisi ketidakpatian sehingga membuat mereka berhati-hati dalam mengambil kredit.

Diterbitkan 22 Desember 2025, 18:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat laju pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2025 belum mampu menyamai kinerja tahun sebelumnya. Faktor utama yang menahan akselerasi kredit berasal dari sisi permintaan, khususnya dunia usaha yang masih bersikap konservatif dalam mengambil pembiayaan baru.

Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Solikin M. Juhro, menilai kehati-hatian pelaku usaha menjadi cerminan ketidakpastian ekonomi yang masih dirasakan. Perusahaan cenderung menunda ekspansi dan memilih menunggu kondisi yang dianggap lebih kondusif sebelum menambah utang perbankan.

“Masih, masih memang perlu turunan lagi. Sehingga itu, atau mungkin, nanti kita lihat, faktor-faktor dari sisi demand maupun sisi supply yang mempengaruhi, kredit yang tumbuh, yang tidak sekuat tahun lalu gitu ya,” kata Solikin dalam Taklimat Media, di Kantor Bank Indonesia, Senin (22/12/2025).

Fenomena tersebut terlihat dari tingginya nilai komitmen kredit yang belum ditarik atau undisbursed loan. Banyak korporasi telah mengantongi persetujuan pinjaman, namun realisasi pencairan dana belum dilakukan karena strategi pembiayaan masih mengandalkan kas internal.

‎"Kenapa? Mereka masih, wah, ini ekonominya benar-benar, mereka masih wait and see. Dan juga, mereka, waduh, saya masih punya simpanan internal atau dana internal. Daripada saya ngambil ke bank, mendingan saya pake duit saya sendiri. Kenapa? Karena mungkin bisa saja, oh, yield atau sumbernya masih tinggi,” ujarnya. 

 

Kredit Konsumsi

Dari sisi rumah tangga, permintaan kredit konsumsi juga belum menunjukkan lonjakan berarti. Solikin menyebut keputusan masyarakat untuk berutang sangat dipengaruhi keyakinan terhadap pendapatan di masa depan, yang saat ini masih tergolong moderat berdasarkan hasil survei.

‎“Keputusan rumah tangga untuk mengambil kredit sangat bergantung pada keyakinan terhadap penghasilan ke depan. Dari hasil survei, ekspektasi tersebut memang belum cukup kuat, sehingga konsumsi berbasis kredit masih tertahan,” jelasnya.

Walaupun demikian, BI menegaskan telah menyiapkan berbagai insentif likuiditas guna mendorong penyaluran kredit. Namun, seperti disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo, dorongan dari sisi pasokan tidak akan efektif tanpa penguatan permintaan.

‎“Nah, makanya disampaikan oleh Pak Gubernur (Perry Warjiyo) beberapa kali, isunya ini masalah demand. Duitnya ya, BI itu sudah memberikan insentif yang banyak kepada perbankan. Tapi, kalau itu nggak diabsorb oleh demand, ya sama sajalah,” ujarnya. 

 

Biaya Dana Perbankan

Di luar faktor permintaan, BI juga mencermati mahalnya biaya dana perbankan. Persaingan memperebutkan dana pihak ketiga membuat bank menawarkan suku bunga simpanan khusus kepada nasabah besar, sehingga biaya penghimpunan dana meningkat dan ruang penurunan suku bunga kredit menjadi terbatas.

‎"Itu praktek yang banyak terjadi. Ya, ini praktek yang special. Nah, kalau itu tinggi seperti itu, berarti kan otomatis cost of loanable fund atau biaya penghimpunan dana kan lebih tinggi banknya itu,” pungkasnya.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6