Harga Minyak Dunia Naik Tipis di Tengah Kekhawatiran Gangguan Pasokan

Harga minyak dunia bergerak naik di tengah meningkatnya kekhawatiran pasokan global akibat sanksi dan pemblokiran tanker.

Diterbitkan 19 Desember 2025, 07:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia bergerak naik tipis pada perdagangan Kamis, seiring pelaku pasar menilai meningkatnya risiko gangguan pasokan global. Sentimen tersebut dipicu oleh potensi sanksi tambahan Amerika Serikat (AS) terhadap Rusia, serta ancaman pasokan akibat pemblokiran kapal tanker minyak Venezuela.

Mengutip CNBC, Jumat (19/12/2025), harga minyak mentah Brent naik 14 sen atau 0,23 persen dan ditutup di level USD 59,82 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat 21 sen atau 0,38 persen ke posisi USD 56,15 per barel.

Senior Vice President of Trading BOK Financial, Dennis Kissler, mengatakan kontrak berjangka minyak mentah mulai mencari pijakan dari situasi di Venezuela.

“Kontrak minyak mentah mencoba mendapatkan dukungan dari pemblokiran ekspor minyak Venezuela. Jika kondisi ini berlanjut, produksi di wilayah tersebut kemungkinan akan terhenti karena tidak ada tujuan pengiriman,” ujarnya.

Sebelumnya, dilaporkan AS tengah menyiapkan sanksi baru terhadap sektor energi Rusia jika Moskow tidak menyepakati perjanjian damai dengan Ukraina.

Namun, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa Presiden Donald Trump belum mengambil keputusan terkait sanksi tambahan terhadap Rusia.

 

 

Pasokan Makin Ketat

Kissler menilai, jika kesepakatan damai Rusia-Ukraina tidak tercapai, eskalasi serangan terhadap Rusia berpotensi memperketat pasokan minyak global.

“Jika ditambah dengan pemblokiran minyak Venezuela, harga minyak mentah saat ini bisa dibilang masih undervalued,” tambahnya.

Analis ING dalam catatannya menyebutkan, langkah lanjutan yang menargetkan minyak Rusia berpotensi menimbulkan risiko pasokan yang lebih besar dibandingkan pengumuman Trump terkait pemblokiran tanker yang masuk dan keluar dari Venezuela.

Sementara itu, Inggris menjatuhkan sanksi kepada 24 individu dan entitas dalam rezim sanksi Rusia, termasuk perusahaan minyak Rusia Tatneft, sebagaimana tercantum dalam pengumuman resmi pemerintah Inggris pada Kamis.

 

Pemblokiran Venezuela

ING memperkirakan pemblokiran Venezuela dapat memengaruhi sekitar 600.000 barel per hari (bph) ekspor minyak Venezuela, yang sebagian besar dikirim ke China. Namun, sekitar 160.000 bph ekspor ke AS diperkirakan tetap berlanjut. Kapal-kapal Chevron dilaporkan masih berlayar menuju AS berdasarkan izin sebelumnya dari pemerintah AS.

Hingga kini, mekanisme penegakan pemblokiran oleh AS masih belum jelas. Pekan lalu, Penjaga Pantai AS mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan menyita kapal tanker minyak Venezuela. Sejumlah sumber menyebutkan AS bersiap melakukan lebih banyak intersepsi serupa.

Sebagai catatan, minyak mentah Venezuela menyumbang sekitar 1 persen dari total pasokan minyak global.

Di sisi lain, analis Bank of America memperkirakan harga minyak yang lebih rendah akan menekan pasokan ke depan.

Jika harga WTI rata-rata berada di USD 57 per barel pada 2026, sesuai proyeksi mereka, produksi minyak serpih AS berpotensi menyusut sekitar 70.000 barel per hari.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6