Produksi Freeport 2025 Diprediksi Anjlok, Ini Penyebabnya

Freeport Indonesia masih mengandalkan zone deep mill level zone dan Big Gossan untuk berkontribusi terhadap produksi 2025.

Diterbitkan 27 November 2025, 10:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Freeport Indonesia (PTFI) memproyeksikan penurunan signifikan dalam rencana produksi 2025 akibat dampak lanjutan penghentian operasi di area Grassroots Block Cave (GBC).

Presiden Direktur Freeport Indonesia Tony Wenas, menjelaskan produksi tembaga tahun depan diperkirakan turun sekitar 32%, sementara produksi emas merosot lebih dari 40% dibandingkan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) sebelumnya.

"Tahun depan akan berkurang sekitar 32% untuk tembaga dan sekitar 40% lebih untuk produksi emas, dibandingkan dengan RKAB sebelumnya," kata Tony PLN CEO Forum, di ICE BSD, Tangerang Selatan, ditulis Kamis (27/11/2025).

Secara volume, Freeport memperkirakan hanya akan memproduksi sekitar 1 miliar ton tembaga dan 1 juta ounces emas sepanjang 2025. Penurunan ini merupakan yang paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dan mencerminkan masih terbatasnya kapasitas operasional akibat insiden yang terjadi pada awal tahun.

"Jadi, sekitar 1 miliar ton tembaga dan 1 juta ounces masing-masing yang akan kita produksi. Tapi harapan kami agar harga-harga juga bisa baik sehingga bisa ter-offset lah," ujarnya.

Tony mengatakan, perusahaan masih mengandalkan zona Deep Mill Level Zone dan Big Gossan untuk menopang produksi pada 2025. Namun, dua wilayah tersebut hanya mewakili sekitar 30% kapasitas tambang, jauh di bawah kondisi normal ketika GBC beroperasi penuh.

"Karena memang kami berhenti produksi GBC, grassroot blockading, itu kan kita hentikan semuanya. Yang sekarang produksi yang berjalan itu adalah deep mill level zone dan juga Big Gossan," ujarnya.

 

Kinerja 2025 Terkoreksi

Presiden Direktur Freeport Indonesia, Tony Wenas mengakui kinerja operasional sepanjang tahun 2025 mengalami tekanan berat akibat longsor di area Grasberg Block Cave (GBC).

Insiden tersebut memaksa perusahaan menghentikan produksi selama lebih dari 50 hari, sehingga target produksi tahun ini dipastikan tidak tercapai.

Tony menuturkan, operasional baru kembali berjalan pada 28 Oktober, dengan kapasitas yang masih terbatas, yakni sekitar 30% dari kondisi normal.

"Kinerja kami tentu berkurang, di produksi berkurang. Produksi tahun ini tidak tercapai karena kami berhenti berproduksi 50 hari lebih. Total produksi berhenti dan juga baru tanggal 28 Oktober itu mulai produksi 30%-nya," kata Tony saat ditemui usai menghadiri PLN CEO Forum, di ICE BSD, Tangerang Selatan, Rabu (26/11/2025).

 

 

Antam Tetap Jadi Prioritas Freeport

Tony menambahkan, sekalipun gangguan produksi terjadi lebih dari 50 hari, Freeport tetap mengutamakan pemenuhan kebutuhan Antam.

Keputusan ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan menjaga keberlanjutan pasokan bagi industri hilir mineral nasional. Ia menegaskan bahwa isu pasokan belum sepenuhnya selesai, namun prioritas penyaluran tetap berlaku.

"Tetap. Yang emas yang kita produksi itu kita utamakan untuk disuplai ke Antam," pungkasnya.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6