Bos BPJS Kesehatan Sebut Keuangan Masih Sehat meski Beban Klaim Tinggi

Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti menanggapi mengenai kondisi keuangan lembaga yang dipimpinnya.

Diterbitkan 13 November 2025, 20:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan harus menanggung beban klaim yang cukup tinggi. Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ali Ghufron Mukti mengatakan keuangan lembaganya masih dalam kondisi sehat.

Dia menjelaskan, alasan keuangan BPJS Kesehatan masih sehat. Salah satunya karena masih memiliki simpanan dari pendapatan sebelum-sebelumnya.

"Tapi BPJS masih sehat. Kenapa masih sehat? Karena dulu punya simpanan," ungkap Ghufron, ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (13/11/2025).

Beban klaim BPJS Kesehatan seringkali lebih tinggi ketimbang pendapatan dari iuran peserta. Ghufron mengamini, jika kondisi ini berlanjut, maka bisa membebani keuangan, sehingga diharapkan ada solusi konkret.

"Tapi ini kalau terus-menerus ke sini enggak cukup, artinya mantab, makan tabungan, enggak cukup, makanya harus ada semacam solusi," ungkapnya.

Data Kementerian Kesehatan mencatat, beban klaim pernah lebih rendah dari pendapatan iuran, namun hal itu terjadi ketika iuran peserta naik. Ketika disinggung soal perlunya kenaikan iuran, Ghufron enggan menanggapi.

Pemerintah Belum Bahas Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan pemerintah belum membahas kenaikan iuran Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Namun, Rp 20 triliun tambahan anggaran diharapkan bisa menjaga keuangan BPJS Kesehatan.

Budi sebelumnya menyatakan kalau kenaikan iuran berpengaruh kemampuan BPJS Kesehatan membiayai klaim Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Iuran BPJS Kesehatan naik terakhir pada 2019 lalu, untuk saat ini belum ada pembahasan terbaru.

"Berkaitan dengan rencana kenaikan iuran, pemerintah sampai sekarang belum membicarakan mengenai kenaikan iuran. Tetapi kami sadar BPJS bisa enggak sustain," ungkap Budi dalam Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR, di Jakarta, Kamis, 13 November 2025.

Ada Tambahan Anggaran

Itu melandasi salah satunya penambahan anggaran Rp 20 triliun ke kas BPJS Kesehatan. Adapun, Rp 10 triliun sudah masuk ke Kemenkes dan tinggal disalurkan. Sisanya, masih menunggu proses di Kementerian Keuangan.

"Makanya saya bilang ke Pak Ghufron (Dirut BPJS Kesehatan) 'yuk kita percepat prosesnya' , sehingga kalau bisa masuk ke BPJS Januari, jangan lama-lama," ujarnya.

Budi juga menyatakan, beban klaim JKN sering lebih tinggi dibandingkan pendapatan BPJS Kesehatan dari iuran. Ada beberapa waktu saat pendapatannya lebih tinggi, tapi itu terjadi ketika ada kenaikan iuran.

 

Beban Iuran BPJS Kesehatan

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin buka-bukaan kondisi keuangan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Ternyata, BPJS Kesehatan baru bisa mencatatkan positif ketika ada kebaikan iuran.

Budi menuturkan, beban jaminan kesehatan nasional (JKN) kerap lebih tinggi dibandingkan pendapatan iuran BPJS Kesehatan. Ada beberapa kali kondisi positif, namun itu atas pengaruh kenaikan iuran.

"Memang BPJS itu enggak pernah sustainable, dia positif kalau dinaikin iuran. Jadi kenaikan iuran itu selalu telat, minus, minus, minus, naikin, di 2016 positif, kemudian ada Covid, di 2020, 2021, 2022 positif, ini (2023) negatif lagi," ungkap Budi dalam Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR, di Jakarta, Kamis (13/11/2025).

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6