Harga Minyak Dunia Melemah Dampak OPEC+ Siap Tambah Produksi

Harga minyak global turun setelah meredanya ketegangan Iran-Israel dan sinyal kenaikan produksi dari OPEC+. Brent turun ke USD 67 per barel, WTI AS turun ke USD 65 per barel.

Diterbitkan 01 Juli 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah dunia melemah pada penutupan perdagangan Senin. Penurunan harga minyak mentah ini didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, sinyal peningkatan produksi dari kelompok produsen minyak OPEC+ pada Agustus mendatang juga menekan harga minyak.

Mengutip CNBC, Selasa (1/7/2025), harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan harga minyak dunia ditutup turun 16 sen atau 0,24% ke level USD 67,61 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS melemah 41 sen atau 0,63% menjadi USD 65,11 per barel.

Pelemahan ini terjadi setelah sebelumnya harga minyak sempat melonjak tajam akibat konflik militer antara Israel dan Iran yang pecah pada 13 Juni 2025, menyusul serangan Israel ke fasilitas nuklir Iran.

Ketegangan yang memuncak membuat harga Brent sempat menembus USD 80 per barel, namun kemudian anjlok setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata antara kedua negara.

Menurut analis pasar IG, Tony Sycamore, pasar kini telah "menghapus sebagian besar premi risiko geopolitik" yang sebelumnya membuat harga minyak melonjak tajam.

 

Rencana OPEC+

Selain faktor geopolitik, pasar minyak juga tertekan oleh prospek kenaikan pasokan global. Empat sumber dari OPEC+ menyatakan bahwa kelompok tersebut berencana meningkatkan produksi sebesar 411.000 barel per hari mulai Agustus 2025.

Ini akan menjadi kenaikan kelima secara bulanan sejak OPEC+ mulai melonggarkan pemangkasan produksi pada April lalu.

Pertemuan resmi OPEC+ dijadwalkan berlangsung pada 6 Juli 2025, dan pelaku pasar akan mencermati keputusan resmi kelompok ini terkait strategi produksi ke depan.

 

Produksi AS

Di sisi lain, data dari perusahaan jasa energi Baker Hughes menunjukkan bahwa jumlah rig minyak aktif di Amerika Serika yang menjadi indikator produksi masa depan, turun sebanyak enam unit menjadi 432 rig, level terendah sejak Oktober 2021. Penurunan ini mengindikasikan bahwa produksi AS mungkin akan melambat dalam waktu dekat.

Meskipun harga melemah minggu lalu yang merupakan terbesar sejak Maret 2023, harga minyak Brent dan WTI masih mencatat kenaikan bulanan lebih dari 5% untuk bulan Juni, menandai kenaikan dua bulan berturut-turut.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6