Siap-siap, Harga Emas Bisa Tembus USD 3.500 Pekan Depan

Secara teknikal, pergerakan harga emas ditopang sinyal penguatan tren naik yang semakin solid. Meski demikian, arah pasar tidak sepenuhnya satu sisi. Simak analisisnya dalam tulisan berikut ini.

Diterbitkan 15 Juni 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia kembali menunjukkan ketahanannya pada pekan kedua Juni 2025, setelah mengalami tekanan yang dalam pada minggu pertama bulan keenam ini.  Harga emas tetap menjadi primadona aset lindung nilai, terutama setelah ketegangan geopolitik antara Israel dan Iran kembali memanas.

Analis Dupoin Futures Indonesia Andy Nugraha menjelaskan, serangan militer dari Israel ke Iran mendorong lonjakan permintaan terhadap aset safe haven, sementara Iran menanggapi dengan peringatan keras.

"Situasi ini ikut mendorong pergerakan emas naik sekitar 1% pada Jumat pagi, seiring dengan lonjakan kekhawatiran pasar terhadap risiko eskalasi konflik kawasan Timur Tengah," jelas dia dalam keterangan tertulis, Minggu (15/6/2025).

Di sisi ekonomi, pelaku pasar juga disuguhi kejutan dari data inflasi Amerika Serikat (AS). Rilis data CPI dan PPI terbaru memperlihatkan hasil yang lebih rendah dari perkiraan, memperbesar peluang bahwa The Fed mungkin akan mulai mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter pada akhir 2025.

Sentimen ini memberi tekanan pada Dolar AS, yang dalam beberapa sesi mengalami pelemahan tajam. Kelemahan Dolar ini secara otomatis mendorong harga emas lebih tinggi karena daya beli investor non-AS menjadi lebih kuat.

 

Analisis Teknikal

Meski demikian, arah pasar tidak sepenuhnya satu sisi. Di tengah isu geopolitik, penguatan sementara dolar AS sempat muncul menyusul kabar dari pengadilan AS yang membatalkan beberapa tarif dagang, mendorong selera risiko pasar.

Optimisme terhadap pembicaraan damai dagang antara AS dan Tiongkok pun turut menekan minat investor pada aset lindung nilai, walaupun ketidakpastian tetap membayangi.

Andy Nugrahamemperkirakan pasar masih menahan posisi di emas karena belum ada kejelasan soal arah final kebijakan fiskal dan moneter AS.

Secara teknikal, pergerakan harga emas ditopang sinyal penguatan tren naik yang semakin solid. Kombinasi candlestick bullish dan posisi harga di atas garis Moving Average memperkuat proyeksi bahwa tren naik bisa berlanjut.

"Jika tekanan beli terus berlanjut dan tidak ada kejutan negatif dari data ekonomi atau pernyataan The Fed, maka harga emas berpotensi menguji area USD 3.500 pada minggu depan," ujar Andy Nugraha.

 

Waspada Pembalikan

Namun, ia juga mengingatkan adanya skenario pembalikan (reversal). Jika emas gagal bertahan di atas level support kritis USD 3.212, maka peluang koreksi ke zona USD 3.133 cukup terbuka.

Level ini bisa menjadi titik uji penting untuk sentimen pasar, terutama jika rilis data inflasi PCE minggu depan atau imbal hasil obligasi AS kembali melonjak.

Andy menambahkan bahwa fokus pasar selanjutnya adalah pada data PCE (Personal Consumption Expenditures) dan pernyataan pejabat The Fed. Selain itu, dinamika konflik geopolitik tetap akan jadi pemicu volatilitas, mengingat pasar sedang dalam fase sensitif terhadap risiko global.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6