Selamat Tinggal Tupperware, Intip Sejarah 'Ratu' Wadah Plastik dari AS

Dari revolusi penjualan langsung hingga gulung tikar, kisah Tupperware di Indonesia penuh lika-liku, meninggalkan kenangan manis sekaligus getir bagi jutaan keluarga Indonesia.

Diterbitkan 14 April 2025, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Tupperware, wadah plastik ikonik asal Amerika Serikat, resmi menutup bisnisnya di Indonesia setelah 33 tahun berkiprah. Keputusan ini diambil setelah induk perusahaan di Amerika Serikat memutuskan untuk mengakhiri perjalanan panjang merek yang pernah begitu populer dan identik dengan kehidupan rumah tangga Indonesia.

Dalam catatan sejarahnya, seperti dirangkum BBC, Tupperware didirikan pada 1946 oleh seorang pria, Earl Tupper, tapi wajah publik perusahaan tersebut adalah seorang perempuan bernama Brownie Wise. Produk Tupper menandai era baru, menggunakan plastik berbeda untuk menjaga makanan segar dalam waktu lebih lama.

Ini merupakan "produk yang sangat berharga saat kulkas masih terlalu mahal bagi banyak orang," sebut BBC. Produk tersebut sempat tidak laku, setidaknya sampai Wise hadir. Ia mulai menyelenggarakan berbagai acara untuk menjual wadah-wadah tersebut, bertemu langsung dengan para ibu rumah tangga dan ibu-ibu yang ingin dijangkau perusahaan.

Pertemuan-pertemuan itu dikatakan lebih banyak membahas sosialisasi daripada bisnis. Gaya inovatif dan angka penjualannya menarik perhatian Tupper, dan Wise dipromosikan ke jajaran eksekutif saat sebagian besar perempuan dikecualikan dari ruang rapat.

Dampak Brownie Wise dan Tupperware masih diperdebatkan oleh para akademisi. Tapi, banyak yang mengatakan bahwa perusahaan tersebut berperan penting dalam membawa perempuan ke dunia kerja di Amerika Serikat pascaperang, dan menyediakan sumber pendapatan bagi perempuan lain di seluruh dunia.

Alison Clarke, profesor sejarah dan teori desain di Universitas Seni Terapan, Wina, dan penulis "Tupperware: The Promise of Plastic in 1950s America" mengatakan, "Saya pikir, warisan (Tupperware) adalah cara menyediakan sumber pekerjaan bagi perempuan yang tidak selalu memiliki akses ke pekerjaan yang fleksibel."

"Saat pertama kali dijual di pesta-pesta di Amerika Serikat, banyak perempuan yang terisolasi di kota-kota pinggiran pascaperang yang jauh dari keluarga mereka. Pesta-pesta Tupperware mengagungkan pekerjaan rumah tangga yang membosankan, dan Anda hanya dapat membelinya jika Anda mengenal seseorang yang menjualnya, jadi itu eksklusif, dan sosial, dan tentang hubungan dengan perempuan lain."

"Saya awalnya berpikir itu adalah konspirasi kapitalis yang eksploitatif terhadap perempuan, kemudian saya bertemu dengan semua perempuan ini, yang memiliki kehidupan yang fantastis karena itu, dan melihat bagaimana bisnis tersebut memberdayakan mereka."

 

Tupperware Party dan Kejayaan di Era 1950-an

Strategi penjualan Tupperware melalui pesta rumahan atau 'Tupperware Party' menjadi kunci kesuksesan perusahaan di era 1950-an. Acara ini tidak hanya sekadar demonstrasi produk, tetapi juga ajang pertemanan dan interaksi sosial bagi para perempuan.

Hal ini menciptakan loyalitas pelanggan dan jaringan penjualan yang kuat. Suksesnya Tupperware Party bahkan membuat Brownie Wise, sang wakil presiden pemasaran, lebih dikenal publik dibanding Earl Tupper sendiri. Inovasi 'burping seal' pada wadah Tupperware juga menjadi faktor kunci yang membedakannya dari produk sejenis.

Keberhasilan Tupperware juga tak lepas dari kemampuannya beradaptasi dengan kondisi sosial ekonomi saat itu. Pada masa Perang Dunia II, peluang usaha yang ditawarkan Tupperware kepada para perempuan sangatlah berarti. Banyak perempuan yang mendapatkan penghasilan tambahan melalui penjualan produk Tupperware, sekaligus turut berkontribusi pada perekonomian rumah tangga mereka.

Popularitas Tupperware begitu tinggi hingga tercatat di Guinness Book of World Records pada tahun 1956 berkat tutup kedap udaranya yang inovatif. Kesuksesan ini membuktikan daya tarik produk dan strategi pemasaran yang tepat sasaran.

Angkat Kaki dari Indonesia

Meskipun memiliki sejarah panjang dan reputasi yang kuat, Tupperware tak luput dari tantangan era modern. Munculnya e-commerce dan toko online yang menawarkan produk sejenis dengan harga lebih murah menjadi salah satu faktor penyebab penurunan penjualan.

Perubahan gaya hidup masyarakat juga turut memengaruhi permintaan produk Tupperware. Banyak konsumen beralih ke alternatif penyimpanan makanan lain yang lebih terjangkau dan mudah didapatkan.

Pada 19 September 2024, Tupperware dinyatakan bangkrut di Amerika Serikat. Keputusan ini berdampak besar pada operasional Tupperware di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pada 31 Januari 2025, Tupperware resmi menghentikan aktivitas bisnisnya di Indonesia setelah 33 tahun berkiprah di Tanah Air. Pengumuman resmi ini disampaikan melalui akun Instagram resmi Tupperware Indonesia, menyatakan rasa terima kasih kepada konsumen Indonesia yang telah setia selama bertahun-tahun.

Penutupan Tupperware di Indonesia meninggalkan dampak yang signifikan, baik bagi karyawan maupun jaringan distribusi yang telah terbangun selama bertahun-tahun. Namun, warisan Tupperware sebagai merek yang inovatif dan pernah sangat populer akan tetap dikenang dalam sejarah bisnis Indonesia.

Meskipun Tupperware telah resmi menghentikan operasionalnya di Indonesia, kenangan dan dampak positifnya akan tetap dikenang. Merek ini telah meninggalkan jejak yang signifikan dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan menjadi bagian dari sejarah bisnis di Tanah Air.

Banyak keluarga Indonesia memiliki kenangan dan pengalaman pribadi terkait dengan produk-produk Tupperware, mulai dari menyimpan makanan sisa hingga menjadi wadah untuk berbagai keperluan rumah tangga lainnya. Hal ini menunjukkan betapa Tupperware telah terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Kehadiran Tupperware di Indonesia juga telah memberikan kontribusi pada perekonomian nasional, baik melalui penciptaan lapangan kerja maupun kontribusi pajak. Penutupan operasional ini tentu akan berdampak pada karyawan dan jaringan distribusi yang telah terbangun selama bertahun-tahun. Meskipun telah resmi menghentikan operasionalnya, kenangan dan dampak positif Tupperware di Indonesia akan tetap dikenang.

Merek ini telah meninggalkan jejak yang signifikan dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan menjadi bagian dari sejarah bisnis di Tanah Air.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6