Sri Mulyani Ramal Kondisi Ekonomi Global 2023 Gelap Gulita

Angka prediksi tersebut turun drastis jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi global sebelumnya. Sehingga diperkirakan akan banyak negara yang mengalami resesi.

Diterbitkan 31 Juli 2023, 11:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut kondisi ekonomi global tahun 2023 akan gelap gulita. Lantaran, pertumbuhan ekonomi global diproyeksi hanya akan tumbuh 2,1 persen tahun ini.

"Kondisi ekonomi global sekarang ini di dunia akan gelap gulita tahun 2023 ini, karena pertumbuhan dunia hanya 2,1 persen," kata Sri Mulyani dalam Penyerahan Insentif Fiskal Kategori Kinerja Pengendalian Inflasi di Daerah, Senin (31/7/2023).

Menurutnya, angka prediksi tersebut turun drastis jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi global sebelumnya. Sehingga diperkirakan akan banyak negara yang mengalami resesi.

"Ini turun drastis dari pertumbuhan tahun sebelumnya yang 6,3 persen. Jadi, memang diperkirakan banyak negara akan mengalami resesi," ujar Menkeu.

Kendati demikian, bendahara negara ini mengatakan memasuki pertengahan tahun 2023, kondisi perekonomian global masih termasuk "cukup baik" dibandingkan perkiraan sebelumnya.

"Sekarang situasi sudah tengah tahun dan kondisinya ternyata agak lebih baik dari yang diperkirakan semula," katanya.

Di sisi lain, pertengahan tahun 2023 ini pertumbuhan volume perdagangan global masih dalam kondisi 'The Lowest Point' yakni paling rendah dikisaran 2,0 persen, jika dibandingkan pada tahun 2021 pertumbuhan perdagangan global mencapai 10,7 persen.

"Namun kalau kita lihat di tengah, pertumbuhan dari perdagangan dunia ini adalah the lowest point, paling rendah hanya 2,0 persen. Tahun 2021 petumbuhan perdagangan global mencapai 10,7 persen," jelas Menkeu.

Menkeu berpendapat, jika dunia tidak saling berdagang, pasti ada bagian dunia yang tadinya membutuhkan barang/jasa menjadi tidak mendapatkannya dan kemudian akan mendorong harga-harga menjadi naik.

Oleh karena itulah, disrupsi yang terjadi baik dari sisi supply maupun dari sisi perdagangan, serta dari sisi distribusi itu akan sangat menentukan inflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada 2022, seluruh dunia mengalami kenaikan yang sangat tinggi.

"Dunia inflasinya di 8,7 persen, tadinya 0 persen atau mendekati 0. Negara maju bahkan beberapa negara mengalami deflasi, kemudian loncat menjadi 7,3 persen relatif tinggi," ujarnya.

 

Pengaruh PMI Manufaktur

Faktor lainnya dilihat dari Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur. Menkeu menyebut mayoritas negara-negara di dunia PMI manufakturnya mengalami kontraksi.

"Lihat di dunia sekarang ini indikator PMI manufaktur, indikator mengenai kegiatan manufaktur global, mayoritas mendekati kontraksi 61,9 persen, dan hanya 14,3 persen negara-negara yang mengalami ekspansi dan akselerasi, itu termasuk Indonesia," ujarnya.

Adapun negara-negara yang PMI manufakturnya kontraksi terdiri dari Amerika Serikat, Eropa, Jerman, Perancis, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Vietnam, Italia, Brazil, Afrika Selatan, dan Singapura.

Sementara, negara yang PMI manufakturnya ekspansi-akselerasi adalah Indonesia, Turki dan Meksiko. Kemudian, negara yang PMI Manufakturnya ekspansi melambat ada Tiongkok, Thailand, Filipina, India, dan Rusia.

"Jadi, Indonesia masuk yang sebelah kiri bersama Turki dan Mexico, mayoritas negara 61,9 persen mengalami PMI manufaktur yang kontraktif. Ini yang menggambarkan bahwa dampak global pelemahan ekonomi akibat termasuk salah satunya adalah inflasi yang menggerus daya beli itu sangat besar," pungkasnya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6