Sukses

India Lebih Pilih Minyak Sawit Malaysia Dibanding Indonesia

Liputan6.com, Denpasar - Kisruh kelangkaan minyak goreng membuat pemerintah mengeluarkan aturan pelarangan ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan turunannya termasuk refined, bleached and deodorized palm oil; bleached and deodorized palm olein; dan used oil. Kebijakan itu hanya bertahan sebulan lalu dicabut pada 23 Mei 2022.

Dampak kebijakan tersebut tak hanya dirasakan pengusaha dan petani di dalam negeri, Pakistan pun sampai kena imbasnya.

Abdul Rasheed Janmohammed, Chairman Pakistan Edible Oil Refiners Association (PEORA) mengatakan, pelarangan ekspor CPO Indonesia memberikan tekanan pada negaranya.  

“Pakistan menghadapi kerawanan stok paling rawan akibat embargo tersebut,” kata dia saat menjadi pembicara diskusi bertajuk Global Vegetable Oil Markets: Regional Perspective di Indonesian Palm Oil Conference (IPOC), 4 November 2022.

Berdasarkan data, konsumsi minyak nabati per kapita sekitar 20 kilogram, dengan total konsumsi sekitar 4,4 juta ton. Sementara produksi lokal hanya bisa menyediakan sekitar 0,5 juta ton.    

Dia menambahkan, ketergantungan Pakistan pada impor kelapa sawit dari Indonesia hampir 90 persen.

“Dalam hal ketahanan pangan, kami menghadapi tantangan yang luar biasa.”

Yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat awam, menghadapi kelangkaan suplai dan melonjaknya harga. “Saya berharap Indonesia memiliki kebijakan yang lebih liberal yang tidak sampai menghentikan bisnis,” Abdul Rasheed menambahkan.  

Pelarangan ekspor yang sempat diberlakukan membuat Pakistan mencari alternatif lain, yakni mendatangkan minyak sawit dari Malaysia, juga mengimpor soft oil, rapeseed oil, dan minyak canola. Namun, jumlahnya belum bisa menggantikan yang berasal dari Indonesia. 

Pakistan adalah importir terbesar nomor empat untuk produk minyak sawit dan turunannya, setelah China, India, dan Uni Eropa.  

“Di masa depan Pakistan akan membeli sawit dari Indonesia. Kami tidak punya banyak pilihan, seperti India yang punya CPO. Indonesia akan terus mendominasi pasar Pakistan,” kata Abdul Rasheed.

Di Pakistan, minyak sawit dipasarkan dalam dua bentuk, yakni sebagai minyak masak (cooking oil) dan ghee. 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Masih Dianggap Produk Kelas Dua

Sementara itu, BV Mehta, Direktur Eksekutif The Solvent Extractor’s Association of India mengatakan, sebelum dua tahun terakhir, minyak sawit Indonesia mendominasi di negaranya. Namun, posisi itu kini tergeser oleh Negeri Jiran, Malaysia.

Ia mengatakan, prosentase impor dari Malaysia sekitar 50 persen, Indonesia 45 persen, dan 5 persen sisanya dari Thailand dan sejumlah negara. Dari semua minyak nabati, konsumsi minyak sawit saat ini di atas 33 persen, sementara minyak kedelai 23 persen, diikuti minyak mustard (15 persen) dan minyak biji bunga matahari (8 persen).

Meski tak dijadikan yang pertama, ia menjamin, pasar sawit Indonesia di Asia Selatan masih besar. Di India, Pakistan, dan Sri Lanka.

Kebanyakan minyak sawit di India dipakai di sektor industri perhotelan, restoran, dan katering karena bagus untuk menggoreng, efisien secara biaya, dengan harga lebih terjangkau.

Diakuinya, minyak sawit belum banyak di pakai di rumah tangga. Menurut BV Mehta, itu karena belum popular dan kurang bergengsi.

“Minyak sawit dianggap murah dan untuk orang yang tidak mampu. Belum setara dengan produk premium,” kata dia.

Untuk memperbaiki citra negatif minyak sawit, menurut dia, promosi harus dilakukan. “Industri sawit harus memberikan pemahaman yang lebih baik terkait produknya di India,” kata dia.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS