Sukses

Sudah Dilarang, Banyak Truk Batu Bara di Bengkulu Nekat Tenggak BBM Subsidi

Liputan6.com, Jakarta - Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel terus mengajak masyarakat dan pelaku usaha di Bengkulu, agar distribusi BBM subsidi bisa tepat sasaran.

Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Regional Sumbagsel Tjahyo Nikho Indrawan mengatakan, Pertamina mencatat untuk wilayah Bengkulu, konsumsi BBM jenis Bio Solar Subsidi sudah menyentuh angka 7 persen dari proyeksi kuota BBM Bio Solar Subsidi untuk Juli 2022, dengan rerata konsumsi harian mencapai 310 KL per hari.

"Kami terus mengajak masyarakat untuk bijak menggunakan bahan bakar minyak (BBM), yaitu sesuai dengan spesifikasi kendaraan agar BBM Subsidi dapat diterima oleh masyarakat yang berhak," jelas Nikho, Selasa (16/8/2022).

Selain itu, ia menyayangkan masih banyak truk pengangkut batu bara yang masih melakukan pengisian BBM Subsidi. Pertamina juga terus menginstruksikan kepada seluruh SPBU untuk dapat menyalurkan BBM Subsidi kepada masyarakat yang berhak.

Berdasarkan surat edaran dari Kementerian ESDM / Nomor 4.E/MB.01/DJB.S/2022 tentang penyaluran BBM Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) dan Peraturan Presiden No. 191 Tahun 2014, mobil truk pengangkut mineral dan batu bara dilarang mengisi BBM Subsidi jenis Bio Solar.

Nikho menegaskan, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel terus berkomitmen untuk menyalurkan BBM Subsidi secara tepat sasaran dan dapat di nikmati oleh masyarakat yang benar-benar berhak.

"Bagi masyarakat yang membutuhkan informasi lebih tentang berbagai layanan dan produk Pertamina dapat menghubungi Pertamina Call Center (PCC) 135," pungkasnya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Pemerintah Akui Subsidi BBM Belum Tepat Sasaran

Sebelumnya, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengungkapkan selama ini subsidi BBM yang diberikan pemerintah tidak tepat sasaran.

Menahan harga kenaikan BBM dari nilai keekonomiannya ini telah membuat beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terbebani. Sementara yang memanfaatkan subsidi pemerintah justru bukan masyarakat yang layak mendapatkan subsidi.

"Subsidi kita ini malah kepada mobil-mobil yang di atas 500 CC. Mobil Aplard pakai minyak subsidi. (Misalnya) kayak saya pakai minyak subsidi, kan enggak fair dong," ungkap Bahlil di kantor Kementerian Investasi, Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Jumat (12/8/2022).

Bahlil menuturkan, pemerintah akan tetap memberikan subsidi BBM. Hanya saja akan diarahkan kepada kendaraan-kendaraan menengah ke bawah.

Misalnya untuk motor dibawah 250 CC, angkutan umum dan kendaraan logistik kepentingan masyarakat. Sedangkan sisanya tidak diperbolehkan menggunakan BBM bersubsidi.

"Kalau yang lainnya ini mungkin tidak subsidi, (tapi). sebagiannya tetap akan kita subsidi," kata dia.

Pembatasan konsumsi BBM ini kata Bahlil dalam rangka menjaga kesehatan APBN. Mengingat dengan tren kenaikan harga minyak dunia sekarang semakin tinggi. Sehingga membuat beban kompensasi dan subsisi yang dibayarkan pemerintah bisa makin bengkak.

"Mungkin ya, ini mungkin akan ada perubahan (alokasi subsidi dan kompensasi BBM)," kata Menteri Investasi.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 3 halaman

Pembatasan Lewat MyPertamina

Pembatasan konsumsi BBM kata Bahlil bisa dilakukan menggunakan aplikasi My Pertamina. Instrumen digitalisasi tersebut akan mempermudah pemerintah dalam mendeteksi konsumen BBM pemerintah.

"My Pertamina itu kan bagian dari instrumen digitalisasi untuk mengkanalisasi agar subsidinya tepat sasaran," kata dia.

Berdasarkan pengalamannya saat menjadi pengusaha, banyak pengusaha yang menggunakan BBM bersubsidi untuk kegiatan tambang. Padahal seharusnya mereka menggunakan minyak untuk industri.

"Itu dulu yah, mudah-mudahan sudah tidak lagi. Makanya sekarang kita kanalisasi lewat aturan-aturan," kata dia.

"My Pertamina itu salah satu instrumen agar tidak terjadi pemakaiann minyak yang tidak tepat sasaran," kata dia mengakhiri.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS