Sukses

UMKM dan Perempuan Masih Jadi Titik Lemah Inklusi Keuangan

Liputan6.com, Jakarta Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati terus mendorong percepatan inklusi keuangan, khususnya bagi pelaku UMKM dan perempuan yang masih banyak belum terjamah akses keuangan.

Menurut Global Findex 2017, 69 persen orang dewasa di seluruh dunia telah memiliki rekening di lembaga keuangan, meningkat dari 62 persen pada 2014.

Meskipun demikian, masih ada 30 persen dari populasi global atau sekitar 1,7 miliar penduduk dunia yang masih kekurangan akses ke produk dan layanan keuangan. Mayoritas merupakan perempuan dan UMKM.

"Kami menyadari bahwa meningkatkan akses perempuan ke layanan keuangan formal tidak hanya akan mengamankan kehidupan keluarga perempuan dengan mengelola uang dan menabung dengan lebih baik untuk kebutuhan dasar, seperti kesehatan dan pendidikan. Tetapi juga memberdayakan diri mereka sendiri dengan terlibat dalam kegiatan bisnis seperti UMKM," ujar Sri Mulyani dalam keterangan tertulis, Kamis (12/5/2022).

Bendahara Negara juga menyoroti pengembangan UMKM yang masih menghadapi banyak kendala, termasuk akses terhadap pembiayaan. Sebagai contoh, porsi kredit UMKM terhadap total kredit perbankan relatif stagnan di kisaran 18 persen sejak 2014, jauh di bawah beberapa peer countries yang mencapai sekitar 30-80 persen.

"Pandemi yang terjadi telah memukul UMKM cukup dalam. Dampaknya ialah kerentanan UMKM meningkat, terutama yang dikelola oleh perempuan karena hilangnya pendapatan dan terbatasnya akses keuangan," kata Sri Mulyani.

Padahal, ia menilai, pengusaha perempuan dengan tingkat literasi keuangan baik dapat mengelola keuangan pribadi atau rumah tangganya dengan lebih baik. Sehingga menuai manfaat dari produk keuangan untuk mengembangkan bisnis dan membangun masa depan yang aman secara finansial, sesuai dengan kebutuhan mereka.

"Tanpa literasi dan edukasi keuangan, akan sulit untuk membuka rekening, kemudian mengaitkannya atau memberikan implikasi lain atau manfaat positif lainnya bagi mereka. Itulah mengapa penting untuk meningkatkan literasi digital dan keuangan bagi perempuan untuk membantu mereka mendapatkan akses ke sistem keuangan berbasis digital," tegas Sri Mulyani.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Sri Mulyani Sadar Kejar Inklusi Keuangan Bukan Perkara Gampang

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyadari masih ada berbagai kendala yang menghalangi dalam mengejar inklusi keuangan baik di Indonesia maupun secara global. Inklusi keuangan yang dimaksud yakni sektor UMKM, perempuan, dan anak muda.

Sri Mulyani menyampaikan tiga sektor ini harus jadi perhatian dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kedepannya. Ia menyebut ketiganya tengah terdampak oleh pandemi Covid-19 dan memiliki potensi untuk bisa mengakselerasi pertumbuhan ekonomi kedepannya.

 “Kami juga menyadari bahwa ini masih membutuhkan banyak pekerjaan di depan kami,” katanya dalam International Seminar on Digital Transformation for Financial Inclusion of Women, Youth, dan MSMEs to Promote Inclusive Growth, Rabu (11/5/2022).

Namun, yang jadi keuntungan, kata dia, kemajuan teknologi informasi turut andil dalam menyasar kecakapan di tiga kelompok ini. Misalnya, transformasi digital melalui artificial intelligence hingga analisis big data yang jadi salah satu contoh yang memudahkan.

“Kemajuan inklusi keuangan khususnya pada segmen ini pemanfaatan perempuan dan UMKM,” katanya.

Ini diungkapnya sebagai salah satu sektor yang jadi perhatian negara anggota G20 yang diketuai saat ini oleh Indonesia. ini dibahas secara khusus dalam forum yang juga dihadiri olehnya.

Disamping tujuan inklusi keuangan, kata dia, saat ini dunia tengah dihadapkan oleh berbagai tantangan pemulihan ekonomi. Ditengah pandemi Covid-19, ancaman selanjutnya adalah kondisi geopolitik dunia yang distimulasi oleh perang Rusia-Ukraina.

“Seperti yang Anda lihat dan inisiasi kepresidenan G20, bagaimana kita bisa pulih bersama dan pulih lebih kuat. Jadi upaya kita perlu ditingkatkan, transformasi menuju teknologi digital perlu terus memastikan bahwa populasi terutama yang paling rentan dan tidak layak. Kelompok yang masih membutuhkan jasa keuangan perlu dipromosikan,” paparnya.

“Ini bukan hanya kehidupan moral. Ini akan menjadi penting secara strategis untuk pemulihan ekonomi yang inklusif,” imbuhnya.

3 dari 4 halaman

Berpihak pada Perempuan

Sri Mulyani mengungkapkan banyak perempuan yang terlibat dalam kegiatan ekonomi khususnya sektor UMKM. Namun, ia mengungkap belum banyak perempuan pelaku usaha yang mengakses pembiayaan dari penyedia jasa keuangan.

“Perempuan juga harus kita perhatikan, karena perempuan berperan penting dalam pembangunan ekonomi. peningkatan akses perempuan ke produk jasa keuangan tidak hanya akan mengamankan perempuan dan kehidupan keluarganya tapi memberdayakan dirinya sendiri,” paparnya dalam International Seminar on Digital Transformation for Financial Inclusion of Women, Youth, dan MSMEs to Promote Inclusive Growth, Rabu (11/5/2022).

Ia mengungkap sekitar 11 persen dari GDP global akan bisa diciptakan jika seluruh negara di dunia dan perempuannya mampu berdaya dalam ekonomi. Bahkan jika memaksimalkan potensi lapangan kerja yang tercipta, ia menaksir bisa ada sekitar USD 28 miliar yang diciptakan.

“Di satu sisi kami menyadari potensi besar ini, terutama dalam pemberdayaan perempuan, perempuan sering dikecualikan dari (target) jasa keuangan karena keterbatasan administrasi, sehingga ini bisa menjadi kendala bagi mereka,” terangnya.

4 dari 4 halaman

Anak Muda

Disamping itu, Sri Mulyani menuturkan anak muda juga memiliki potensi sebagai pendorong ekonomi nasional dan dunia. Populasi anak muda di dunia saat ini memegang kunci kemajuan masa depan global.

“Mereka segera akan memasuki dunia kerja dan berkontribusi pada perekonomian, tetapi banyak dari mereka juga dikecualikan secara finansial,” katanya.

Misalnya, dalam akses pembukaan akun bank yang masih minim karena belum memilikinya identitas yang cukup resmi. Ia juga mengungkap pendapatan anak muda yang masih belum pasti dan penyimpanan tabungan yang masih sedikit.

Guna mendorong akses ekonomi pada anak muda, Sri Mulyani punya cara. Misalnya dengan menyediakan akses yang inklusif bagi golongan ini. Artinya, kelompok muda semakin mudah untuk mengakses finansial formal sejak dini, dimulai dari pembukaan akun bank.