Sukses

Mengintip Strategi Ekspansi Bisnis Internasional BNI pada 2022

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Negara Indonesia Tbk atau BNI (BBNI) berencana membawa produk UMKM go internasional. Untuk akomodasi rencana tersebut, BNI menyiapkan sejumlah strategi yang akan dijalankan pada 2022.

Direktur Treasury & International BNi, Henry Panjaitan menuturkan, saat ini ada dua bisnis utama di international banking BNI yaitu refinance dan remittance. Pada 2021 mencatatkan pertumbuhan cukup baik, sejalan dengan momentum menguat perdagangan luar negeri tahun lalu.

"Volume ekspor yang disalurkan di BNI tumbuh 75 persen. Import volume 120 persen, melebihi dari pertumbuhan nasional di mana ekspor nasional tumbuh 41 persen dan impor tumbuh 30 persen. Volume Ini menghasilkan pertumbuhan fee based sebesar 7,46 persen tahun 2021," urainya dalam paparan publik perseroan, Rabu (26/1/2022).

Adapun kebanyakan komoditas yang ditangani oleh BNI untuk ekspor adalah oil and gas, mineral, iron, dan steel, dan juga wood product. Sedangkan untuk yang impor, juga ada oil and gas, mineral, iron, steel, dan chemical.

"Pertumbuhan ini sangat disupport dari akuisisi nasabah eksportir baru di sektor corporate banking dan komersial. Dan juga kita sudah mengimplementasikan digitalisasi dari trade online, dengan penambahan user yang cukup tinggi 79 persen di tahun 2021,” kata dia.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Bisnis Internasional

Selain dari trade finance, bisnis internasional BNI lainnya adalah kiriman uang. Volume untuk remittance corporate tumbuh 8,4 persen yoy. Capaian itu didukung pemulihan dari perekonomian 2021 dan perbaikan dan pengembangan OTR dalam BNI Direct.

Di samping juga untuk kiriman uang untuk segmen individual tumbuh 6,8 persen, ini juga dilakukan dengan partnership BNI dengan global payment provider di luar negeri dan perbaikan fitur dari BNI Mobile Banking.

Sedangkan untuk segmen pekerja migran Indonesia walaupun volume remitansi PMI secara nasional belum naik, tetapi transaksi remitansi TKI PMI di BNI bisa tumbuh 2,2 persen yoy.

"Ke depannya, pengembangan bisnis internasional adalah pemenuhan kebutuhan diaspora di luar negeri, dengan beberapa produk dan layanan yang dapat diakses anywhere, anytime. BNI akan segera menyiapkan pembukaan rekening diaspora secara detail yang tentunya juga akan melibatkan kantor cabang luar negeri,” kata Henry.

Bagi diaspora  pelaku bisnis, BNI juga udah siapkan skema lending khusus untuk diaspora yang bisa mendukung bisnis diaspora. Misalnya impor barang-barang produksi yang akan diproduksi oleh eksportir atau produsen UMKM Indonesia.

"Inilah kerja sama bisnis yang akan kita tekan tahun 2022 adalah bagaimana UMKM bisa ekspor ke luar negeri melalui diaspora,” kata dia.

Untuk memenuhi kebutuhan dari para pekerja profesional luar negeri, kantor cabang BNI luar negeri juga sudah mengembangkan produk atau layanan dengan mengembangkan penjualan dari instrumen surat berharga di pasar sekunder. Ini untuk memberi memberikan layanan bagi diaspora kelas medium profesional untuk invest di Indonesia.

"Sehingga dana yang di luar negeri bisa masuk untuk membangun Indonesia,” pungkasnya.