Sukses

PLN: Proyek PLTS Terapung Terbesar ASEAN Peroleh Dukungan Pendanaan Bank

Liputan6.com, Jakarta Guna mendukung tujuan penggunaan energi baru terbarukan di Indonesia, PT PLN menggandeng perusahaan asan Uni Emirat Arab, Masdar. Kerja sama itu akan membangun PLTS terbesar di Asia Tenggara.

Direktur Utama PT PLN, Zulkifli Zaini mengatakan, langkah ini membuka kesempatan investasi dan kerja sama dengan perusahaan internasional.

“Hari ini telah sampai Finansial Close, ini penting, ini menandakan pendanaan proyek telah mendapat dukungan dari perbankan internasional,” katanya dalam Deklarasi Finansial Close Proyek PLTS Cirata 145 MWac, Selasa (3/8/2021).

Melihat perkembangan hingga saat ini, Ia optimistis PLTS Terapung Cirata akan mulai beroperasi pada kuartal IV 2022 atau sekitar November. Ia menilai dengan pelaksanaan pembangunan akan jadi revolusi pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia.

“Sampai semester I 2021 total kapasitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT) mencapai 13 persen, ini akan memberikan kontribusi EBT sekitar 0,2 persen,” katanya.

Dalam mengejar target penggunaan EBT 23 persen pada 2025 mendatang, kedepannya akan juga dilakukan pengembangan EBT lainnya, seperti pembangkit hidro, panas bumi, aneka energi, dan bio energi.

“Ini akan jadi pemicu, dengan tarif yang kompetitif, sebagai upaya PLN untuk menghadirkan energi bersih yang murah. Karena ada istilah Green yang ada di transformasi PLN,” katanya.

 

2 dari 2 halaman

Membangun Ekonomi Masyarakat

Dalam pelaksanaan proyek ini, ia menjamin akan memanfaatkan tenaga kerja dalam negeri, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kemudian, juga diharapkan akan mampu memberikan nilai tambah bagi pemerintah di tingkat provinsi dan kota atau kabupaten.

“Akan menyerap sekitar 500-800 tenaga kerja dalam proses konstruksinya, dan tentu tapi proyek strategis juga menambah nilai tambah ekonomis bagi masy dan industri lokal,” katanya.

Informasi, pembangunan ini akan berlokasi di waduk Cirata di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Purwakarta.

Proyek ini akan bernilai sekitar USD 145 juta dengan hitungan 80 persen dibiayai oleh lenders asing dan 20 persen diantaranya oleh modal sendiri. Dari 20 persen tersebut, sahamnya dibagi 51 persen milik PJBI dan 49 persen lainnya dimiliki Masdar asal Uni Emirat Arab.