Sukses

Deretan Artis Ini Ramai-Ramai Protes ke PLN soal Tagihan Listrik Bengkak

Liputan6.com, Jakarta - Keluhan akan membengkaknya tagihan listrik PLN rupanya masih terus kencang pada bulan Juli ini. Tak hanya masyarakat biasa, sejumlah selebritas pun turut berkomentar pedas akibat lonjakan tersebut di media sosial.

Terbaru, Chef Arnold Poernomo juga melontarkan kegeramannya pada PT PLN (Persero). Melalui akun Twitter resmi @ArnoldPoernomo pada Kamis (9/7/2020) kemarin, ia mempertanyakan tagihan listriknya yang naik empat kali lipat.

"WOI @infoPLN KENAPA TAGIHAN HARGA LISTRIK RUMAH SAYA NAIK TURUN DARI 2.5Jt JADI 10Jt!?!!!! KENAPA?!!!" tulis Arnold, seperti dikutip Jumat (10/7/2020).

Arnold yang merasa tak terima dengan kenaikan di luar kewajaran tersebut kembali melanjutkan cuitannya dengan nada lebih tinggi.

"TAGIHAN SEGITUTAPI KENAPA LAMPU DAN RUMAH SAYA TIDAK SE SHINNING SHIMMERING DAN SE SPELNDID 10JT?!!!!ENTE MAUNYA APA INI HA?!!!!!!!!" serunya gusar.

Tak berselang lama setelah cuitan tersebut dibuat, PLN langsung mendatangi kediamannya di Surabaya. Setelah mendapatkan penjelasan dari PLN, Arnold pun kemudian berdamai dan bersedia untuk membayar tagihan listriknya.

"Ok kita sudah damai...thank you pelayanannya dan penjelasan ente @pln_123 cepet & gesit....dan team di Surabaya makasih...JADI SAYA HARUS TETEP BAYAR," ungkapnya.

Kicauan selebritas soal menggilanya tagihan listrik sebenarnya bukan barang baru. Beberapa artis kenamaan Tanah Air telah banyak melaporkan kenaikan tarif di luar ambang batas sejak Juni 2020.

 

2 dari 6 halaman

Raffi Ahmad dan Nagita Slavina

Seperti pasangan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, yang mengeluhkan masalah tingginya biaya pembelian token listrik di rumah mewahnya di kawasan Green Andara Residence, Jakarta Selatan yang mencapai Rp 17 juta.

"Bukannya enggak bisa bayar! Tapi, ini tuh sudah sebulan sekitar Rp 17 juta, masih ngejepret terus. Kemarin Siwon datang, tahu enggak? Mati lampu," keluh Nagita seperti dikutip dari YouTube Rans Entertainment.

Namun, wanita yang akrab disapa Gigi tersebut kemudian memberi klarifikasi tentang ucapannya itu. Dia mengaku itu bukan keluhan soal tagihannya, melainkan masalah listrik di rumahnya.

"Sebenarnya yang gue keluhkan bukan Rp 17 jutanya, tapi aliran listrik di sini tuh ada banyak yang bolong. Jadi kebuang, jadi di bawah ini hidup, di atas jegrek. Kalau di atas hidup di bawah jegrek, gitu aja terus ganti-gantian," ucapnya.

 

3 dari 6 halaman

Tompi

Penyanyi Tompi juga ikut menyoroti kenaikan tagihan listrik di kantornya. Padahal, ia menyampaikan bahwa kantornya sudah tutup dan tidak terpakai sejak 3 bulan.

"TAGIHAN PLN MENGGILA! Ini dr PLN kagak ada konfirmasi2 main sikat aja," cuit Tompi lewat akun Twitternya @dr_tompi pada 10 Juni 2020.

Tompi kemudian meminta penjelasan dari PLN atas lonjakan tarif listrik yang membingungkannya. Setelah mendapat penjelasan langsung, ia lalu mewajari hal tersebut.

"Barusan ketemuan ama petugas lapangan PLN, mrk jelaskan hal2 yg menurut sy di jelaskan diawal berlangganan secara gamlang. PUBLIK harus tau hak dan kewajibanya. Sehingga tdk terkesan negatif saat ada kasus salah hitung," tuturnya.

 

4 dari 6 halaman

Tora Sudiro

Lonjakan tagihan listrik juga dirasakan oleh aktor Tora Sudiro. Suami Mieke Amalia ini mengeluhkan biaya listrik di rumahnya yang naik dua kali lipat.

"Bener bgt iniiii. perasaan pemakaiannya sama ama sebelum covid?? naiknya 100 persen dong rumah guaa," tulis Tora lewat akun Twitter resminya @t_ORASUDI_ro pada 10 Juni 2020.

 

5 dari 6 halaman

Penjelasan PLN

Selain kepada Chef Arnold dan Tompi, PT PLN (Persero) sebenarnya telah menjelaskan penyebab membengkaknya tagihan listrik rumah tangga yang mulai terjadi pada masa awal penerapan PSBB di April 2020. Pembengkakan itu disebabkan oleh dihentikannya sementara pemeriksaan meter ke rumah pelanggan oleh petugas baca meter.

Direktur Niaga dan Manajemen Pelayanan Pelanggan PLN Bob Saril mengungkapkan, tagihan pemakaian listrik sejak Maret-Mei dihitung berdasarkan mekanisme pencatatan rata-rata tiga bulan sebelumnya.

"Untuk cegah penyebaran virus di bulan Maret, maka diminta petugas PLN Tidak mencatat. Cara kita mengetahuinya dengan melihat standar internasional rata-rata tiga bulan, karena pada Desember (2019)-Januari-Februari normal. Maka digunakan itu," terangnya.

Executive Vice President Corporate Communication and CSR PLN, I Made Suprateka, mengambil contoh sederhana bahwa pemakaian listrik pada Desember 2019, Januari dan Februari 2020 cenderung stabil, semisal berada di kisaran 50 kWh.

Diumpamakan pemakaian listrik pada Maret 2020 sebesar 70 kWh. Berarti ada selisih 20 kWh yang belum tertagih di bulan tersebut lantaran perhitungannya memakai acuan 50 kWh.

Sisa tagihan tersebut kemudian dialihkan untuk April 2020, sehingga pada saat pembayaran di bulan tersebut ada tambahan tanggungan listrik 20 kWh. Namun, pada waktu tersebut pemakaian listrik justru semakin meningkat.

"Saat bulan April full 24 jam 30 hari itu PSBB diterapkan. kWh realisasi April itu 90 kWh. Di sini mulai gunakan catatan mandiri. Tercatat 90 kWh, plus 20 kWh yang carry over dari bulan Maret," papar Made.

Oleh karenanya, Made menyatakan, penagihan tarif listrik pada bulan tersebut jadi terhitung 110 kWh. "Ini yang jadi polemik. Pada saat tagihan bulan April, itu yang tertagih adalah 110 kWh. Ini seolah kenaikan 200 persen lebih," tandasnya.

6 dari 6 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: