Sukses

Permodalan hingga Minimnya Internet Jadi Kendala Pengembangan UMKM di NTB

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan, memaparkan permasalahan utama rendahnya pemanfaatan internet oleh Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Hal ini dikarenakan pemanfaatan internet pelaku UMKM pada 2018 saja masih 3,56 persen atau rendah.

“Kami ambil provinsi jadi NTB ini rendah pemanfaatan internetnya, saya pikir perlu nanti kita lihat hingga 2018 terdapat hanya 96 ribuan unit usaha mikro kecil di provinsi NTB, dengan konsentrasi terbesar itu ada di kabupaten Lombok Tengah 35,14 ribu unit usaha,” kata Luhut dalam webinar, Kamis (9/7/2020).

Lanjutnya, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik, masalah utamanya yang dihadapi oleh pelaku UMKM adalah dalam aspek permodalan 62,54 persen, dan pemasaran 15,75 persen.

Hingga 2018, baru terdapat 3,56 persen pelaku UMKM yang memanfaatkan internet untuk menunjang aktivitas usahanya.

Dari jumlah tersebut, 51,24 persen diantaranya memanfaatkan internet, sebagai sarana pemasaran. Dan hanya 9,31 persen pelaku usaha yang memanfaatkan internet sebagai alat penjualan produknya.

Apalagi sekarang ditambah adanya pandemi covid-19 yang sangat berdampak pada UMKM. Umumnya UMKM mengalami penurunan permintaan 26,8 persen, dan kendala pemasaran 24,9 persen.

2 dari 3 halaman

Pelatihan Online

Kendati begitu, Luhut mengatakan disaat pandemi banyak peluang yang bisa dimanfaatkan oleh UMKM, untuk mengikuti pelatihan-pelatihan secara online, yang diadakan baik oleh Pemerintah yang bekerja sama dengan berbagai platform digital, seperti Blibli, Gojek, Tokopedia, dan DANA.

“Saya kira bisa dimanfaatkan oleh gubernur NTB untuk men-training masyarakatnya karena UMKM adalah backbone ekonomi kita, jadi menurut saya, itu sebabnya program ini kita buat kemarin kita sudah launching program bantuan dari pemerintah untuk UMKM,” ujarnya.

Oleh karena itu, Luhut berharap agar pelaku UMKM di NTB bisa memanfaatkan bantuan dari Pemerintah berupa program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk UMKM, seperti restrukturisasi pinjaman UMKM yang saat ini nilainya mencapai 317 triliun rupiah dengan jumlah debitur 5,3 juta.

Lalu subsidi bunga UMKM yang akan mengcover 60,6 juta rekening nasabah dengan nilai subsidi sebesar 35 triliun rupiah. Serta penyaluran modal kerja sektor UMKM yang dijamin ini adalah sejumlah 100 triliun rupiah sampai dengan tahun 2021.

“Jadi dengan masuk di online ini kita melihat perubahan yang besar sebenarnya, jadi sekarang ini target kita sampai tahun 2020 menjadi 10 juta UMKM masuk online, sebelumnya 8 juta ditambah 2 juta sampai akhir tahun 2020, akan tercapai,” pungkasnya.   

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: