Sukses

Defisit Neraca Transaksi Berjalan Turun, Ini Kata Menko Airlangga

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) merilis defisit transaksi berjalan pada kuartal III 2019, sebesar USD 7,7 miliar atau sekitar 2,7 persen dari PDB. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan defisit pada kuartal sebelumnya yang mencapai USD 8,2 miliar atau sekitar 2,9 persen dari PDB.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, defisi transaksi berjalan membaik dipengaruhi oleh penggunaan Biodiesel 20 persen (B20) yang digalakkan sejak tahun lalu.

"Ya ini kan ada perbaikan dari hasil unemployment rate naik. Sehingga dengan demikian ekonomi kita bergerak jadi lapangan pekerjaan terserap kemudian neraca perdagangan kan ada perbaikan dari nonmigasnya naik, migas turun sedikit. Ini mencerminkan program B20 berjalan," ujar Airlangga di Kantornya, Jakarta, Jumat (8/11).

Airlangga mengatakan, ke depan pemerintah masih akan terus mengoptimalkan penggunaan B20 untuk berbagai sektor. Selain itu, pemerintah berencana meningkatkan peran kelapa sawit atau biodiesel dalam bahan bakar hingga 100 persen.

"Oleh karena itu, ke depan salah satu prioritas rapat kemarin kita akan merapikan untuk B30. Dan kita sedang buat roadmap B30, B40, B70 sampai B100. Sehingga ini salah satu langkah quick win untuk neraca perdagangan," jelasnya.

Untuk mendorong transaksi berjalan agar tidak mengalami pelebaran defisit, pemerintah akan memperkuat kinerja ekspor serta investasi.

"Nilai tambah yang kita dorong dari segi produk ekspor kita tingkatkan, dan kemudian kalau dilihat investasi juga cukup meningkat," kata Airlangga.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

2 dari 3 halaman

Jokowi Perintahkan Luhut Segera Atasi Defisit Transaksi Berjalan

Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan fokus membuat terobosan baru guna menekan defisit transaksi berjalan. Ini disampaikan Jokowi dalam rapat terbatas Penyampaian Program dan Kegiatan di Bidang Kemaritiman dan Investasi.

"Pertama menyiapkan, membuat program-program terobosan dalam rangka menekan defisit transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan," kata Jokowi di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (30/10/2019).

Jokowi menginginkan, peningkatan investasi sejalan dengan pengurangan ketergantungan pada barang impor, khususnya BBM. BBM disebut salah satu pemicu terbesar defisit neraca perdagangan.

Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, ini menekankan produksi minyak dalam negeri harus terus ditingkatkan.

"Sehingga implementasi kebijakan EBT juga harus dipercepat lagi, terutama percepatan mandatory dari B20 ke B30 dan melompat dari B50 ke B100," sambungnya.

Jokowi kemudian menyoroti soal investasi. Dia ingin ke depan investasi fokus pada beberapa kawasan saja, salah satunya Morowali, Sulawesi Tengah.

"Saya ingin contoh yang ada di Morowali bisa dicopy untuk produk bahan mentah yang selama ini kita ekspor seperti bauksit, kenapa tidak dibuat jadi barang setengah jadi atau barang jadi sekalian dengan menggandeng BUMN atau swasta," ucap dia.

Reporter: Titin Supriatin

Sumber: Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Bamsoet Mengaku Didukung 367 Suara DPD untuk Maju Jadi Ketum Golkar
Artikel Selanjutnya
Bamsoet Optimistis Kalahkan Petahana Airlangga Hartarto di Munas Golkar