Sukses

Profil Tjahjo Kumolo, dari Mendagri Bergeser ke Menteri PANRB

Liputan6.com, Jakarta - Hari ini, Rabu (23/10/2019), Presiden Jokowi memperkenalkan nama menteri-menteri yang akan membantunya di kepemimpinan 5 tahun mendatang. Kabinet bernama Indonesia Maju itu diisi oleh nama-nama tokoh partai dan profesional, salah satunya Tjahjo Kumolo.

Sebelumnya di Kabinet Indonesia Kerja, Tjahjo Kumolo menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri. Kini di kabinet yang baru, dirinya dipercaya menjadi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB) periode 2019-2024.

Lantas, seperti apa sosok Tjahjo Kumolo ini? Tjahjo Kumolo lahir di Surakarta, 1 Desember 1957. Dirinya pernah bersekolah di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro tahun 1985.

Sejak muda, dia aktif dalam berbagai organisasi. Dia pernah menjadi Ketua Biro Organisasi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Dati I Jawa Tengah.

Kemudian, dia menjadi Ketua DPD KNPI Dati I Jawa Tengah periode 1985-1988 dan Sekretaris Jenderal KNPI Dati I Jawa Tengah untuk periode 1987-1990.

Karir kepolitikan Tjahjo dimulai saat ia menjadi Anggota Komisi II, III dan Anggota BKSAP DPR RI (1987,1992) dan Ketua Umum DPP KNPI pada 1990-1993. Kemudian, dia menjabat sebagai Wakil Sekretaris Fraksi PDIP DPR RI (1999-2002) dan Sekretaris Fraksi PDIP DPR RI setahun kemudian.

Pada 2004, menteri Jokowi ini terpilih menjadi Anggota Komisi XI dan Anggota BKSAP DPR RI (2004-2008). Dia menjadi Ketua Fraksi PDIP DPR RI (2004-2009).

2 dari 2 halaman

Profil Sri Mulyani, Cetak Hattrick Jadi Menteri Keuangan

Sri Mulyani terpilih lagi menjadi Menteri Keuangan (Menkeu) di Kabinet Indonesia Maju.  Dengan hal ini, maka Sri Mulyani berhasil mencetak hattrick.

Sri Mulyani pertama kali ditunjuk untuk menjadi menteri keuangan pada tahun 2005 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Salah satu kebijakan pertamanya sebagai menteri keuangan ialah memecat petugas korup di lingkungan depertemen keuangan.

Dia berhasil meminimalisir korupsi dan memprakarsai reformasi dalam sistem pajak dan keuangan Indonesia, dan mendapat reputasi sebagai menteri yang berintegritas.

Selepas itu, Sri Mulyani menghabiskan waktunya menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia. Jabatan ini diembannya mulai 1 Juni 2010 hingga dia dipanggil kembali oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kedua, Sri Mulyani ditunjuk Presiden Jokowi menjadi Menteri Keuangan pada Juli 2016 menggantikan Bambang Brodjonegoro.

Perjalanan Sri Mulyani hingga 2019 ini terbilang mulus. Berbagai kebijakan dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi Indoensia di atas 5 persen banyak diapresiasi.

Belum setahun menjabat, Sri Mulyani dinobatkan sebagai Menteri Keuangan Terbaik se-Asia 2017 oleh majalah Finance Asia yang berkedudukan di Hong Kong.

Pemberian penghargaan tersebut dinilai karena keberhasilannya mengurangi target defisit fiskal dari yang dikhawatirkan menembus angka 3 persen menjadi 2,5 persen dari PDB.

Dengan berbagai prestasinya ini, Jokowi kembali meminta Sri Mulyani menjadi Menteri Keuangan di Kabinet Indonesia Maju yang akan bekerja hingga 2024.

Tiba di Istana sekitar pukul 09.07 WIB mengenakan kemeja putih pada Selasa (22/10). Mantan Menteri Keuangan itu baru keluar dari istana sekitar pukul 10.25 WIB.

Ia menyatakan, diminta untuk kembali menjadi Menteri Keuangan. "Beliau menugaskan saya untuk tetap menjadi menteri keuangan," kata Sri di Istana, Selasa (22/10/2019).

Sri Muyani menyebut telah diizinkan Presiden Jokowi untuk menyampaikan posisinya pada media. "Diizinkan untuk sampaikan ke media," ucapnya.

Sebelumnya, Sri Mulyani mengaku ditelepon pihak Istana pada Senin, 21 Oktober 2019. "Dihubungi kemarin," ujar dia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati merupakan perempuan kelahiran Tanjung Karang, Lampung, pada 26 Agustus 1962.

Dia pernah masuk dalam daftar 100 wanita berpengaruh di dunia versi majalah Forbes tahun 2016.  Sri Mulyani menjadi satu-satunya wanita asal Indonesia dalam daftar.

Dalam daftar yang dirilis Forbes, Kamis, 9 Juli 2016, dia berada di peringkat ke-37 di daftar wanita paling berpengaruh di dunia.

Satu peringkat di atas Dirjen WHO Margaret Chan di posisi 38, dan di bawah Perdana Menteri Bangladesh Shikh Hasina Wajed.

Loading
Artikel Selanjutnya
Menteri PAN-RB: Reformasi Birokrasi Kita Ibaratnya Baru Operasi Kulit
Artikel Selanjutnya
Pemerintah Pastikan Pemangkasan Eselon Tak Berdampak ke Gaji