Sukses

Petani Kutim Rasakan Manfaat Brigade Alsintan

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Pertanian (Kementan) berharap masing-masing daerah memiliki Brigade Alat Mesin Pertanian (Alsintan). Alasannya, untuk meminjam sewa Alsintan dari Brigade Alsintan ini banyak keuntungannya.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy mengatakan, petani dipersilakan memanfaatkan yang tersimpan di Dinas Pertanian atau Kodim setempat. Petani tinggal membuat surat permohonan melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di wilayah masing-masing.

"Di Brigade Alsintan tersedia berbagai alat pertanian modern. seperti traktor roda dua, traktor roda empat, transplanter (penanam) dan pompa air serta excavator atau backhoe dan semuanya dalam kondisi baik," ungkap Sarwo Edhy.

Menurut Sarwo Edhy, alsintan tersebut dititipkan Kementan untuk membantu petani dalam rangka mewujudkan swasembada tanam. Terkait mekanisme peminjaman, petani tinggal berkoordinasi dengan Distan atau Babinsa dan membuat surat permohonan yang berisi peminjaman Alsintan melalui Gapoktan.

"Mekanisme peminjaman tersebut untuk memperjelas siapa yang bertanggungjawab atas peminjaman. Silahkan membuat surat melalui Gapoktan. Kalau alsintan yang dimaksud tersedia atau tidak sedang dipakai petani lain, bisa langsung dipakai,” jelasnya.

Sarwo Edhy menambahkan, Brigade Alsintan dibentuk dilandasi temuan ribuan alsintan hanya dibiarkan menganggur. Padahal, untuk pengadaan alsintan ini, pemerintah sudah mengeluarkan dana yang tidak sedikit.

"Brigade ini menjadi pengelola alsintan agar penggunaannya lebih maksimal. Kami akan mengubah cara penanganan alsintan. Bila di kelompok tidak maksimal, maka pengelolaannya diserahkan ke Brigade," kata Sarwo Edhy.

Manfaat Brigade Alsintan ini telah dirasakan petani Kutai Timur (Kutim). Ratusan Alsintan yang pengadaannya menggunakan APBN, diserahkan Dinas Pertanian Kutim kepada petani, namun ada juga yang dikelola Brigade Alsintan yang nantinya bisa disewa petani.

Kepala Dinas Pertanian Kutim Sugiono menyebutkan, semua biaya pemeliharaan alsintan menjadi kelompok tani, karena untuk perbaikan tersedia dalam APBD.

“Karenanya dimungkinkan untuk menarik biaya kepada si pengguna alat itu namun biayanya fleksibel, sesuai dengan SK,” terangnya terkait penggunaan alsitan yang dikelola Brigade Alsintan.

Dijelaskan, petani melalui kelompok tani bisa menyampaikan permohonan alsintan yang ada, namun harus ada perjanjian atau kontrak. Setiap penggunaan alsintan yang dikelola Brigade Alsintan ada tarifnya sesuai alat yang disewa. Seperti alat panen hanya Rp 25 ribu perkarung sudah termasuk BBM, operator dan biaya service alat.

“Brigade Alsintan diprogramkan Kementan untuk membantu petani karena sewa Alsintan di brigade Alsintan banyak keuntungannya, penggunaanya diaudit BPKP karenanya ada aturan yang harus dipenuhi,” terangnya.

Sugiono mengingatkan, karena alsintan yang dikelola Brigade Alsintan terbatas, petani yang akan menyewa harus memperhatikan waktu dan perkiraan waktu pemakaian sehingga semua penyewa terlayani terutama alat panen.

Diakui Sugiono, saat ini petani mengeluhkan mereka kekurangan tenaga untuk memanen. Pasalnya banyak tenaga kerja pertanian telah beralih profesi menjadi pekerja tambang atau perkebunan kelapa sawit.

 

(*)

Loading
Artikel Selanjutnya
Kementan akan Tegas Melawan Usaha Alih Fungsi Lahan Pertanian
Artikel Selanjutnya
Dekopin Puji Komitmen Kementan Tingkatkan SDM Koperasi Pertanian melalui Konstratani