Sukses

Menteri Muda Kabinet Baru Jokowi Tak Harus dari Generasi Milenial

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bakal menempatkan orang-orang muda atau milenial dalam kabinet periode 2019-2024. Pernyataan mantan Walikota Solo ini pun menuai beragam tanggapan dari publik.

Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mempunyai pandangan yang agak berbeda terkait kata 'muda'. Dia mengatakan bahwa muda tidak melulu berkaitan dengan usia.

"Jadi muda, muda itu terkait lagi bukan soal usia, tapi bagaimana kreativitas. Itu yang sebenarnya ingin direpresentasikan dari kata-kata muda," ujar dia, dalam diskusi, di Jakarta, Sabtu (6/7/2019).

Dia pun membantah bahwa era digital yang tengah berkembang harus selalu dikaitkan dengan generasi muda atau milenial.

"Sekali lagi, digital tidak eksklusif anak muda. Salah. Digital itu bukan anak muda dan juga sebagaimana olahraga tidak harus anak muda," ujarnya.

Terkait komposisi menteri, dia pun mengatakan, bahwa penting bagi Jokowi maupun partai politik pengusung untuk terbuka kepada publik. Dengan demikian, dapat muncul masukan atau feedback dari masyarakat.

"Menteri sekarang kita mentang-mentang ekspor turun ujug-ujug muncul menteri ekspor tidak begitu cara memunculkan, mempunyai ide untuk efektivitas kerja. Tak masalah mewacanakan. Tapi justru dengan muncul wacana di publik nanti benar-benar akan tersaring mana ide yang paling ideal, mana Kementerian benar-benar nanti bekerja secara efektif membangun perekonomian kita ke depan dan membawa perbaikan," tandasnya.

Reporter: Wilfridus Setu Embu

Sumber: Merdeka.com

2 dari 3 halaman

Milenial Hanya Cocok Jadi Menpora dan Kepala Bekraf

Wacana untuk mengikutsertakan golongan muda atau generasi milenial ke dalam jajaran kabinet pemerintahan baru Presiden Joko Widodo (Jokowi) kini tengah ramai. Beberapa nama pengusaha muda seperti founder Go-Jek Nadiem Makarim hingga CEO Bukalapak Achmad Zaky dinilai punya potensi untuk jadi menteri untuk masa jabatan 2019-2025.

Ekonom sekaligus Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah Redjalam berpendapat, ide penarikan milenial menjadi menteri atau petinggi negara di bawah Jokowi merupakan sebuah rencana baik. 

Namun, menurutnya, kesempatan bagai milenial hanya cocok diberikan untuk dua posisi jabatan menteri saja, yakni Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora) serta Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

"Itu usulan bagus. Menteri milenial kita butuhkan menyesuaikan zaman. Tapi untuk posisi yang tepat, seperti Menteri Pemuda dan Olah Raga atau Kepala Bekraf," ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com, Jumat (5/7/2019).

Di luar kedua jabatan itu, milenial dianggapnya belum terlalu berkompetensi untuk mendudukinya. Sebab, ia mengatakan, posisi menteri memiliki tanggung jawab besar yang harus disertai dengan pengalaman, khususnya di bidang ekonomi.

"Saya kira itu saja. Terlalu banyak yang milenial berisiko juga. Untuk bidang ekonomi diperlukan mereka yang punya latar belakang dan pengalaman bidang ekonomi yang kuat," tegas dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Wakil Ketua Sebut MPR Fokus Realisasikan Jumlah Pimpinan Jadi 5 Orang
Artikel Selanjutnya
Jeritan Sopir Kala Pengguna Kopaja dan Metromini Menghilang