Sukses

Dagangan Tidak Laku Langsung Ludes Berkat Twitter

Liputan6.com, Texas - Frasa "Twitter do your magic!" belakangan ini sedang populer di Indonesia, biasanya untuk membantuĀ bisnis yang sepi total. Efek "sihir" Twitter itu ternyata benar terjadi, bahkan di-endorse langsung oleh pihak Twitter.

Ini terjadi pada toko Billy's Donuts yang berlokasi di Texas, Amerika Serikat (AS). Anak dari pemilik toko tidak tega melihat kekecewaan bapaknya karena toko sepi total saat grand opening. Pemuda dengan akun @hibillyby memakai Twitter untuk menceritakan kondisinya.

"Bapak saya sedih karena tak ada yang datang ke toko donatnya," ucapnya yang turut menampilkan foto toko yang sepi serta bapaknya yang berdiri sendirian di kassa.

Tak disangka, ratusan ribu orang sudah me-retweet dan mefavoritkan tweet tersebut. Toko pun diserbu pelanggan dan pengguna Twitter ramai-ramai memamerkan foto mereka di dalam toko. Kejadian ini terpantau oleh pihak Twitter turut mempromosikan.

"Kalian donut (do not, tidak mau) melewatkan Billy's dan begitu pun kami! Kami akan berkunjung besok pagi!" ucap Twitter via akun resminya. Dan kemudian Twitter benar mengirim tim ke Billy's Donut.

Berkat promosi ini, bisnis Billy's Donut menjadi sangat lancar. Pihak Billy's pun menyampaikan terima kasihnya ke Twitter beserta para penggunanya.

"Ingin memberi update ke kalian semua! Kami telah ludes me jual seluruh donat kolach! Kalian semua luar biasa. Saya tidak bisa memberikan cukup rasa terima kasih pada semuanya yang berkunjung dan mendukung bisnis lokal. Ini berarti banyak bagi keluarga saya," ucap akun @hibillyby yang telah berganti nama jadi @billysdonutsHTX.

2 dari 2 halaman

Kurang Pendampingan, UMKM RI yang Go Digital Masih Minim

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) digadang-gadang menjadi tonggak ekonomi Indonesia.

Hanya saja, di tengah perkembangan era digitalisasi, UMKM Indonesia belum mampu memaksimalkan peluang dan potensi itu sebagai alat mengembangkan usahanya.

Pengamat Ekonomi Digital, Yudi Candra mengatakan, hingga akhir 2018Ā  jumlah usaha mikro sebanyak 58,91 juta unit, usaha kecil 59.260 unit dan usaha besar 4.987unit. Namun begitu yang sudahĀ go digitalĀ baru lima persen saja. Sisanya masih sangat konvensional dalam pengembangan usahanya.Ā 

"Kalau di Amerika Serikat sudah 90 persen yang sudah go digital, Indonesia baru sekitar 5 persenan saja," ujar dia di Jakarta, Selasa, 12 Februari 2019.

Dia menuturkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan UMKM Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan usaha yaitu permodalan, sumber daya manusia (SDM), dan kemampuan untuk menembus pasar.Ā 

"Selain modal, UMKM kita terkendala masalah jaringan pasar. Itulah pentingnya UMKM melek media supaya mampu merambah pasar lebih luas," ungkap dia.

Hanya saja, di tengah hiruk pikuk kemudahan promosi yang bisa dilakukan di media berbasis online seperti media sosial (medsos), kurang bisa dimanfaatkan oleh pelaku UMKM. Ini karena minimnya pendampingan dari pemerintah akan pemahaman tentang digitalisasi, dan potensi media sosial sebagai sarana promosi.

"Yang sadar dan tahu melakukan promosi melalui medsos masih sangat minim. Masih sangat banyak sekali pelaku usaha yang belum membuat medsos, bahkan tidak sedikit pula yang sudah punya hanya saja tidak bisa mengoperasikan karena dibuatkan orang. Lantas bagaimana mereka bisa mempromosikan produknya kalau tidak punya akun atau tidak mengoperasikan medsos," ujar dia.

Untuk itu, pria yang juga menjabat sebagai CEO PT Duta Sukses Dunia ini berharapā€ŽĀ pemerintah mulai memberikan perhatian secara serius terhadapĀ UMKMĀ nasional guna mendongkrak ekonomi nasional dan terlebih mampu meningkatkan taraf kehidupan masyarakat luas.

"UMKM butuh perhatian lebih, bukan dibiarkan liar jalan sendiri-sendiri," kata dia.ā€Ž

Loading
Artikel Selanjutnya
Sukacita Warganet Sambut Uji Coba Publik MRT Jakarta
Artikel Selanjutnya
Setelah Twitter, Kini Ratu Elizabeth II Mulai Main Instagram