Sukses

Sukses Cetak Laba Hingga Rp 3,93 Triliun, PT Bukit Asam Kembali Masuk Kategori Global Indeks

Liputan6.com, Jakarta PT Bukit Asam, Tbk (PTBA) telah mengumumkan kinerja keuangan periode Januari - September 2018. Dengan peningkatan penjualan yang cukup siginifikan, PT Bukit Asam berhasil mencatatkan laba bersih di 9 bulan tahun 2018 menembus angka Rp 3,93 Triliun atau 150% dari periode 9 bulan tahun 2017 yang hanya sebesar Rp 2,63 Triliun.

EBITDA juga mengalami meningkat signifikan yaitu dari Rp 4,26 triliun di 9M 2017 menjadi Rp 5,96 triliun pada 9M 2018 atau naik 40%. Sehingga laba per lembar saham 9M 2018 juga mengalami peningkatan menjadi sebesar Rp 373,- dari sebelumnya Rp 249,- pada 9M 2017.

Direktur Utama PT Bukit Asam, Tbk Arviyan Arifin mengaku sangat bersyukur dengan pencapaian perseroan. Padahal sebelum ini perseroan menghadapi tantangan terkait kondisi pasar batubara belum terlalu sesuai dengan harapan sejak kebijakan penjualan batubara ke PLN dan domestic market obligation (DMI) yang dipatok USD 70 per metric ton.

"Alhamdulillah, selama 9 bulan di tahun 2018 ini kinerja PT Bukit Asam tetap positif dan lebih baik daripada kinerja 9 bulan pertama di tahun 2017. Baik dari sisi operasional maupun keuangan," kata Arviyan Arifin mengawali pemaparan kinerja keuangan Triwulan 3 Tahun 2018 di  Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta, Rabu (14/11/2018).

Lebih lanjut, Arviyan Arifin menjelaskan kinerja operasional pada 9 bulan di 2018 mampu menghasilkan volume produksi yang meningkat hingga 16%. Peningkatan produksi dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan kereta api dalam meningkatkan kemampuan angkutannya. Seiring dengan volume produksi, volume penjualan ekspor juga mengalami kenaikan hingga 39% dan harga jual rata-rata mengalami kenaikan sebesar 13% dibandingkan pencapaian pada 9 bulan di 2017.

"Pencapaian ini menunjukkan bahwa di tengah pasar batubara yang bergejolak, perseroan masih bisa survive dan meningkatkan volume penjualan baik ekspor maupun domestik," jelas Arviyan.

Dari sisi pendapatan, PT Bukit Asam berhasil membukukan pendapatan usaha periode 9 bulan di 2018 sebesar Rp 16,04 triliun, meningkat Rp 2,75 triliun atau 21% dibandingkan pendapatan usaha 9 bulan di 2017. Pendapatan terbesar 9M 2018 diperoleh dari penjualan batubara ekspor yaitu sebesar 52% dari total pendapatan, sedangkan penjualan batubara domestik hanya sebesar 46% dan selebihnya yaitu 2% merupakan pendapatan dari aktivitas usaha lainnya, yang terdiri dari penjualan listrik briket, minyak sawit mentah, jasa kesehatan rumah sakit dan jasa sewa.

Kinerja operasional dan keuangan yang positif ini membuat PT Bukit Asam, Tbk kembali masuk menjadi perusahaan dengan kategori global indeks. "Per hari ini bisa saya umumkan kita kembali masuk dalam perusahaan kategori global indeks. Hal ini menjadi cerminan bahwa kinerja perseroan yang menjadi lebih baik," ujar Arviyan.

Selain memaparkan kinerja perusahaan triwulan 3 tahun 2018, PT Bukit Asam, Tbk juga merilis daftar pengembangan proyek. Di antaranya;

- PLTU Sumsel 8

PLTU Sumsel 8 merupakan Independent Power Producer (IPP) berkapasitas 2x620 MW yang berada di Muara Enim, Sumatera Selatan. PLTU ini dibangun oleh PTBA melalui PT Huadian Bukit Asam Power (“PT HBAP”).  

- PLTU Feni Halmahera Timur

Proyek pembangkit listrik Halmahera Timur dengan kapasitas PLTU 3x60 MW dan PLTD 3x17 MW merupakan proyek sinergi BUMN Holding Pertambangan.

- PLTU Pomalaa

PLTU Pomalaa berkapasitas 2x30 MW dan PLTD berkapasitas 8x17 MW telah beroperasi dalam menyediakan energi listrik bagi pabrik feronikel milik ANTAM di Pomalaa.

- PLTS Fotovoltaik Angkasa Pura II

Melalui sinergi BUMN, PTBA dan PT Angkasa Pura II akan membangun PLTS fotovoltaik sesuai dengan Nota Kesepahaman tanggal 5 September 2018.

- Proyek Coal to Chemicals

Sejalan dengan tagline PTBA “Beyond Coal”, Perusahaan akan mengembangkan peluang bisnis dari rencana Industri Hilirisasi Batubara. Perusahaan telah menandatangani Head of Agreement dengan PT Pertamina (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero) dan PT Chandra Asri Petrochemical pada tanggal 8 Desember 2017 untuk mendirikan Coal-to-Chemical-Plant di mulut tambang, Tanjung Enim, Sumatera Selatan dengan konsumsi batubara mencapai 9 juta ton/tahun.

Selain itu, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) bersama dengan PT Pertamina (Persero) dan Air Products and Chemicals, Inc, menandatangani kerja sama untuk gasifikasi batubara menjadi dimethyl ether (DME) dan synthetic natural gas (SNG), di Allentown, Amerika Serikat (7/11). Rencana usaha gasifikasi batubara yang ditandatangani di Allentown ini berlokasi di Mulut Tambang Batubara Peranap, Riau.

- Proyek Angkutan Batubara

Untuk optimasi pengangkutan batubara, PTBA bekerjasama dengan PT KAI mengembangkan proyek angkutan batubara jalur kereta api dengan kapasitas 60 juta ton/tahun pada Tahun 2023, termasuk jalur baru yang terdiri dari;

a). Tanjung Enim — Arah Utara:

- Dengan kapasitas angkut 10 juta ton/tahun, beserta fasilitas dermaga baru Perajin yang direncanakan akan beroperasi pada tahun 2023.

- Pengembangan Dermaga Kertapati direncanakan siap beroperasi dengan kapasitas mencapai 5 juta ton/tahun pada bulan Juli 2019.

b). Tanjung Enim — Arah Selatan: (-Tarahan First Line) pada Tahun 2020 akan siap beroperasi dengan kapasitas menjadi 25 juta ton/tahun

- (Tarahan Second Line), dengan kapasitas angkut 20 juta ton/tahun, direncanakan akan beroperasi pada tahun 2023.

 

(*)

Loading
Artikel Selanjutnya
Bukit Asam Kembali Raih PROPER Emas dan Hijau
Artikel Selanjutnya
Bukit Asam Raih Indonesia Raih Dua Penghargaan GCG