Sukses

PT PAL Ekspor 2 Kapal Militer ke Filipina pada 2018

Liputan6.com, Jakarta - PT Penataran Angkatan Laut (PT PAL) akan ekspor dua kapal militer ke Filipina pada 2018. Salah satu jenis kapal yang akan di ekspor adalah Landing Platform Dock (LPD) sepanjang 143 meter dengan harga sekitar USD 43 juta atau sekitar Rp 626,24 miliar (asumsi kurs Rp 14.563 per dolar AS). 

"(Harga) tergantung sebenarnya atas permintaan mereka, type seperti ini (LDP) misalnya sampai USD 43 juta USD, tapi terkait spesifikasi keinginan mereka itu (harga) bisa naik bisa turun," ujar Manager Humas PT PAL Bayu Witjaksono di JiExpo, Jakarta, Kamis (7/11).

Kapal jenis LDP ini memiliki banyak kelebihan antara lain kecepatan penuh (full load speed) sebesar 20 knots, kecepatan berlayar hingga 12 knots dan daya tahan dalam 12 knots selama 30 hari.

Kapal ini juga sempat digunakan untuk evakuasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 PK-LQP di Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

"Ini paling disukai, di samping dia sebagai support atau kapal pendukung untuk military dia juga bisa untuk kegiatan sosial, korban bencana alam. Kemarin juga produk PT PAL bisa membantu mencari korban JT 610, itu punya PT PAL. Memang kapal ini dilengkapi alat untuk mendeteksi," ujar dia.

Bayu mengatakan, sejauh ini kapal milik PT PAL cukup diminati oleh negara lain. Bahkan pemesanan kapal banyak yang datang dari Afrika, Timur Tengah dan Asia Tenggara.

"Alhamdulillah, untuk kapal kapal ini sampai ke Afrika, Timur Tengah, Asia Tenggara termasuk Brunei, Malaysia, Thailand. Itu tertarik sejenis ini (LDP)," tutur dia.

Meski demikian, kapal buatan Indonesia ini nampaknya masih sulit menembus pasar Eropa. Alasannya, teknologi milik Eropa jauh lebih mumpuni. Indonesia sendiri telah menggandeng Eropa untuk meningkatkan kualitas kapal buatan dalam negeri.

"Kalau Eropa kita kalah teknologi. Kita dengan negara negara Eropa itu kerangkanya adalah collaboration stategic, kerja sama untuk meningkatkan teknologi dalam negeri. Kalau kita membangun kapal kita tidak punya tehnologi lebih, maka kita akan gandeng mereka meningkatkan teknologi kita,” ujar dia.

 

Reporter: Anggun P.Situmorang

Sumber: Merdeka.com

 

2 dari 2 halaman

PT PAL Pamer 7 Produk Andalan di Indo Defense 2018

Sebelumnya, PT Penataran Angkatan Laut (PT PAL) menjadi salah satu peserta dalam pameran internasional bidang teknologi industri pertahanan tiga matra, pameran kedirgantaraan dan helikopter serta pameran kemaritiman pada Indo Defence 2018 Expo and Forum.

Dalam kesempatan ini PAL memamerkan sejumlah produk andalannya. "Hari ini hari pertama pembukaan Indo Defence 2018. PAL Indonesia tergabung dalam Indonesia strategis industri. 14 BUMN jadi 1, khusus 3 matra yaitu laut, udara dan darat. Laut diwakili oleh PAL. PAL itu menampilkan beberapa produk unggulan," ujar Manager Humas PT PAL Bayu Witjaksono di JiExpo, Jakarta, Kamis 7 November 2018.

Adapun beberapa produk yang dipamerkan antara lain Kapal SSV ukuran 123 meter, Kapal Cepat Rudal (KCR) ukuran 60 meter, Kapal MRSS ukuran 163 meter.

Selain itu kesempatan ini juga digunakan untuk memamerkan Kapal Bantu Rumah Sakit sepanjang 124 meter, Kapal Selam, Kapal PKR 105 meter dan BMPP 30 MW (pembangkit terapung).

"Yang kita pamerkan kapal selam yang saat ini sedang dibangun, jenisnya U 209. Kemudian KCR 60 Kemudian LPD (Landing Platform Dock) 143 meter yang sedang dibangun dan beberapa produk development seperti MRSS 163 kemudian kapal rumah sakit. Ini yang kita tampilkan untuk menunjukkan seberapa mampu industri pertahanan khususnya makro laut itu," ujar Bayu.

Bayu menambahkan, selama ini kapal produksi PT PAL cukup diminati. Salah satu kapal yang paling laris adalah LPD (Landing Platform Dock) sepanjang 143 meter. Kapal jenis ini juga sempat dipakai untuk evakuasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 PK-LQP pada Senin 29 Oktober 2018 di Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

"Ini paling disukai, di samping dia sebagai support atau kapal pendukung untuk military dia juga bisa untuk kegiatan sosial, korban bencana alam. Kemarin juga produk PT PAL bisa membantu mencari korban JT 610, itu punya PT PAL. Memang kapal ini dilengkapi alat untuk mendeteksi," tutur dia. 

 

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Loading
Artikel Selanjutnya
ABK Indonesia Kerap Jadi Korban Sandera Abu Sayyaf, Ada Masalah Apa?
Artikel Selanjutnya
Ojek Online Bakal Dilarang Beroperasi di Filipina Mulai Pekan Depan