Sukses

Pemerintah Segera Gelar Rapat Penyesuaian Harga Premium

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pemerintah akan segera menggelar rapat koordinasi untuk membahas mengenai kebutuhan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) Premium.

Darmin belum memastikan kapan waktu penentuan penyesuaian harga premium karena pemerintah masih menjalani beberapa agenda penting Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Bali.

"Tunggu saja, dalam waktu dekat," kata Darmin usai penandatanganan kesepakatan investasi dan pembiayaan infrastruktur oleh 14 BUMN di Bali, seperti dikutip dari Antara, Kamis (11/10/2018).

Darmin masih enggan menjelaskan mengenai kecenderungan sikap pemerintah terkait penyesuaian harga premiun. Menurut Darmin, lebih baik hal itu dijelaskan setelah keputusan benar-benar sudah diambil melalui rapat koordinasi.

"Ya selesaikan dulu acara di sini. Di sini sudah penuh acaranya," tutur Darmin.

Direktur Utama PT Pertamina Persero Nicke Widyawati di kesempatan yang sama menyebut ada tahapan yang harus ditempuh jika mau menaikkan harga Premium. Hal itu dikarenakan Premium merupakan jenis BBM khusus penugasan yang berbeda dengan jenis BBM lain, baik BBM subsidi maupun nonsubsidi.

"Penetapan harganya oleh Menteri yang dilakukan berkoordinasi dengan tiga menteri. Penerapan harganya ada beberapa variabel yang perlu dipertimbangkan," ujar Nicke.

"Pertamina mengikuti apa yang ditetapkan regulator, kalau tidak naik ya kita mengikuti," tambah Nicke.

 

* Update Terkini Asian Para Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru di Sini.

2 dari 3 halaman

Kapan Waktu yang Tepat Naikkan Harga Premium?

Pemerintah memutuskan untuk menunda kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium. Rencananya, harga Premium akan naik menjadi Rp 7.000 per liter untuk Jawa, Madura dan Bali (Jamali) dan di luar Jamali menjadi Rp 6.900‎ per liter.

Lalu kapan waktu yang tepat menaikkan harga BBM jenis Premium?

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, ‎jika dilihat dari biaya produksi yang mengalami kenaikan karena terpengaruh kenaikan harga minyak dunia, maka sudah sewajarnya harga Premium mengalami kenaikan.

"Kalau dari biaya produksinya memang sudah harus naik,"‎ kata Komaidi, saat berbincang dengan Liputan6.com, di Jakarta, Kamis (10/10/2018). 

Kenaikan harga Premium akan berdampak positif pada fiskal negara. Selain itu juga membuat beban keuangan Pertamina.

Untuk diketahui, saat ini perusahaan energi plat merah tersebut menutupi selisih harga pasar dengan harga jual. "Dengan kenaikan tersebut, beban Pertamina relatif dapat berkurang," tuturnya.

Sementara Vice President Corporate Communication Pertamina Adiatma Sardjito mengakui, untuk menaikan harga Premium Pertamina membutuhkan persiapan dan pembahasan dengan pemegang saham.

"Pertamina butuh persiapan dan pembahasan dengan pemegang saham, angkanya saya tidak tahu," ujar Adiatma.

‎Adiatma mengungkapkan, Pertamina perlu melakukan konsultasi besaran kenaikan harga, sedangkan untuk pasokan Premium tidak ada masalah, sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan.

"Pasokan tidak ada maslaah, maslaah harga dan keputusan. Menunggu kesiapan itu konsultasi dulu, harganya gimana," tandasnya.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Puluhan Koki India Buat Dosa Terpanjang di Dunia

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Pertamina Tetap Untung Meski Harga Premium Tak Naik
Artikel Selanjutnya
Harga Premium Batal Naik, Ini Kata Bos Pertamina