Sukses

Harga Emas Tertekan Imbas Wall Street Menguat

Liputan6.com, New York - Harga emas melemah didorong kenaikan wall street dan indeks dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan harga emas itu juga terjadi jelang pertemuan bank sentral AS atau the Federal Reserve yang diperkirakan menaikkan suku bunga.

Harga emas untuk pengiriman Desember melemah 0,8 persen ke posisi USD 1.201,30 per ounce. Harga emas itu merosot ke level terendah sejak 14 September. Harga emas selama sepekan naik tipis 0,1 persen.

Sementara itu, indeks dolar AS naik 0,4 persen ke posisi 94,25. Indeks dolar AS susut 0,7 persen selama sepekan. Dolar AS dan emas yang berdenominasi dalam mata uang AS cenderung bergerak terbalik. Demikian mengutip laman Marketwatch, Sabtu (22/9/2018).

Harga emas tetap tertekan, tapi naik tipis dari posisi terendah USD 1.196 usai HIS Markit melaporkan indeks yang mencakup perusahaan berorientasi layanan turun ke level terendah dalam 18 bulan.

Analis terus memantau pergerakan harga emas di posisi USD 1.200. Harga emas berdasarkan kontrak paling aktif, telah melemah 8,3 persen sepanjang 2018.

Pergerakan harga emas juga dipengaruhi laju wall street. Indeks saham Dow Jones yang menguat mencerminkan permintaan aset yang dianggap cenderung tertekan.

Harga logam lainnya yaitu harga perak naik 0,4 persen ke posisi USD 14.359 per ounce. Harga perak bertahan di atas level terendah baru-baru ini di posisi USD 14.142.

 

2 dari 2 halaman

The Federal Reserve Bakal Dongkrak Suku Bunga

Adapun perhatian harga logam termasuk harga emas dan mata uang dipengaruhi keputusan suku bunga acuan oleh the Federal Reserve pada pekan depan.

Pejabat the Federal Reserve akan gelar pertemuan selama dua hari yang berakhir pada 26 September. Diperkirakan bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan sekitar 25 basis poin.

Sepanjang tahun ini, the Federal Reserve menaikkan suku bunga sebanyak empat kali. Suku bunga the Federal Reserve akan kembali naik pada Desember.

Diharapkan the Federal Reserve menaikkan suku bunga pada 2020 dan 2021 yang berdampak terhadap dolar AS dan harga emas.

"Saya pikir pesan dari komite menaikkan suku bunga acuan secara bertahap. Kurang lebih satu setiap kuartal kemungkinan berlanjut," ujar Chief Strategist ACLS Global, Marshall Gittler.

Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan berlanjut dan tingkat pengangguran sentuh posisi terendah, inflasi sesuai target akan mendorong the Federal Reserve menaikkan suku bunga pada 2021.

Hal tersebut dapat memaksa pasar menaikkan harapan suku bunga sehingga  dapat mendorong kenaikan dolar AS. Suku bunga tinggi mendorong kenaikan dolar AS.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Artikel Selanjutnya
Wall Street Bervariasi, Dow Jones Sentuh Level Tertinggi Baru
Artikel Selanjutnya
Harga Emas Antam Stabil di Posisi Rp 663 Ribu per Gram