Sukses

6 Kiat Irit Bensin saat Libur Lebaran

Liputan6.com, Jakarta - Saat libur lebaran, Masyarakat Indonesia pun melakukan ritual tahunan, mudik ke kampung halaman. Jika Anda menggunakan mobil pribadi, pastikan beberapa langkah ini agar irit bensin. Sudah pasti Anda pun dijamin anti galau saat mudik.

Ya, mudik dengan mobil pribadi memang lebih nyaman ketimbang menggunakan moda transportasi umum. Hanya saja, memang harus merogoh kocek lebih dalam. Bukan saja untuk urusan uang tol yang tarifnya cukup tinggi, namun juga butuh dana ekstra untuk bensin.

Bahkan, anggaran untuk membeli BBM atau bahan bakar bisa besar jika tidak diantisipasi sejak dini. Apalagi, para pemudik biasanya berhadapan dengan kemacetan maha dahsyat yang menjadi salah satu penyebab boros BBM. Seperti mudik dua tahun lalu di mana para pemudik terjebak macet hingga belasan jam di jalanan?

Dalam pameran otomotif beberapa waktu lalu, General Manager (GM) Technical Plan Isuzu, Rodko Purba mengungkapkan, mengemudi kendaraan dengan kecepatan relatif rendah, sangat efektif menghemat bahan bakar.

“Kita sarankan mereka menjaga kecepatan, misalnya 60 atau 70 kilometer per jam sudah cukup. Tidak usah lebih tinggi,” jelasnya seperti dikutip dari Wormtraders.com.

Selain itu, Rodko juga menyarankan agar pengemudi menjaga kestabilan kecepatan saat melaju. Rodko menilai rpm yang tinggi saat kendaraan melaju, membuat konsumsi bahan bakar kendaraan tersebut relatif tinggi.

Nah, daripada boros bensin yang berujung membengkak anggaran mudik, mari simak beberapa tips mengemudi mobil irit BBM berikut ini. Dijamin Anda akan meraih mudik anti galau:

Servis kendaraan

Kenapa bengkel selalu ramai pelanggan menjelang mudik? Karena banyak orang ingin mobil dalam kondisi prima sebelum menempuh perjalanan panjang. Mobil diservis teliti sebelum mudik.

Jika mobil belum diservis, tidak menutup kemungkinan ada saja kendala yang muncul. Contoh sederhana, tarikan mobil jadi berat. Tarikan berat membuat mobil boros BBM. Tidak ada salahnya servis mobil sebelum mudik. Prioritaskan untuk tune-up dan ganti oli

Jaga putaran mesin saat mengemudi

Metode ini mudah dilakukan oleh pengendara mobil bertransmisi manual. Intinya, Anda  harus menjaga putaran mesin dengan konstan dan mengoper gigi di kisaran  1.500 –  2.200 rpm untuk mobil berbahan bakar bensin, dan 1.100 –  2.100 untuk mesin diesel.

Mengoper gigi di 4.000 rpm hingga mesin mendengung memang bisa menambah akselerasi. Tapi, itu tidak disarankan bila Anda ingin menghemat BBM.

Bagi Anda yang mengendarai mobil matic, tekan pedal gas secara perlahan karena sejatinya dengan tuas transmisi di posisi D, mobil sudah berjalan. Kelihatannya sederhana, tapi pada prakteknya tidak semudah itu.

Kadang karena faktor emosi, Anda bakal menekan gas dengan dalam. Hal itulah yang membuat mobil matic boros.

Hindari pengereman mendadak atau berlebihanJangan salah, rem juga memiliki peranan penting dalam urusan mengirit bahan bakar. Maka biasakanlah mengerem pada waktunya, tidak secara mendadak atau berlebihan.

Ketika mobil kita melaju secara beriringan dan lampu mobil di depan kita menyala, lepas saja pedal akselerator dan manfaatkanlah momentum untuk mengambat laju mobil.

Metode ini jauh lebih baik ketimbang tetap menekan pedal gas dan mengeremnya ketika jarak sudah dekat. Jika Anda terlalu sering mengerem, mobil juga akan lebih sering memulai tarikan dari titik bawah. Hal itu menyebabkan meningkatnya jumlah bensin yang harus dibakar.

Tekanan angin ban

Ban yang kurang angin justru menyebabkan gesekan yang lebih besar dengan jalanan. Akibatnya, traksi ban berkurang dan beban mobil bertambah berat. Ujung-ujungnya, boros BBM.

Hal ini tentu membuat biaya mudik membengkak, karena harus membeli bahan bakar yang cukup mahal.Isi dengan BBM berkualitasKualitas BBM yang dipakai juga memengaruhi boros tidaknya kendaraan.

Jika terlalu sering menggunakan BBM berkualitas rendah, premium misalnya, akan cepat habis. Sebaliknya, jika kamu menggunakan petralite atau pertamax yang kualitasnya semakin bagus dan harga hanya selisih sedikit, BBM Anda akan awet atau tidak cepat habis.

 

1 dari 2 halaman

Jangan Asal Pilih Penghemat BBM

Penghemat bensin di pasaran kebanyakan memanfaakan kinerja magnet. Menurut DR Ir H Djoko Sungkono Kawano MengSc, Kepala Laboratorium Motor Pembakaran Dalam dan Pencemaran Udara, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Jurusan Tenik Mesin,  unsur kimia bensin yaitu iso oktan (C8H18) dan n-pentana (C5H12).

“Medan magnet memengaruhi kandungan karbon (C) dan hidrogen (H) dalam bensin. Hingga bisa memaksimalkan proses pembakaran dan mengurangi kadar CO2,” jelas DR Djoko.

Ada beberapa syarat yang harus dilakukan supaya medan magnet berpengaruh terhadap aliran bahan bakar di selang bensin.

Pertama, selang bahan bakar harus terbuat dari bahan non metal. Selanjutnya, posisi pemasangan juga harus diperhatikan. Jangan dipasang melintang. Bisa ditempatkan di luar selang.

“Abaikan kedua kutubnya, atur magnet secara sejajar dengan selang bahan bakar,” ujarnya.

Terakhir, supaya tetap bisa bekerja mempengaruhi senyawa bensin, jauhkan dari benda lain yang juga mengandung magnet. Begitu juga dengan bahan bakar yang mengalir. Unsur karbon dan hidrogen akan tertata saat melintasi medan magnet yang kita ciptakan. Hingga kedua unsur tidak lagi tercampur.

“Secara teratur bergantian mengalami proses pembakaran. Keadaan ini yang bisa membuat kandungan zat berbahaya CO2 atau CO,” ungkapnya.

Ada beberapa risiko pemakaian penghemat bahan bakar pada mobil yang wajib diperhitungkan, seperti kebocoran tangki bahan bakar.

Risiko penghemat bahan bakar pada mobil ini akan membuat tangki bahan bakar bocor. Lebih parahnya, mesin mobil akan rusak parah jika terus menerus memakai alat penghemat tersebut.

Oleh karena itu, jangan asal memakai penghemat bahan bakar jika belum tahu risikonya.Hal sama berlaku pada penghemat bahan bakar dengan bahan bakar cair. Pilihan ini bisa membawa risiko timbulnya kerak pada mesin yang tentu saja bisa mengurangi kinerja mesin. Bahkan, bisa merusak kualitas mesin.

Cairan penghemat bahan bakar ini mengandung cairan adiktif yang bisa menghasilkan unsur logam yang tentu saja akan berefek buruk di saluran bahan bakar dan di ruang pembakaran mobil.

Jika Anda menggunakan bahan penghemat bahan bakar dengan bahan cairan ini secara terus menerus, akibatnya akan lebih berbahaya. Kerusakan mesin mobil akan lebih parah.

Nah, irit bensin boleh saja. Namun, lakukan dengan benar tanpa harus memanfaatkan penghemat bensin yang justru akan memunculkan masalah baru.

Artikel Selanjutnya
Harta Melimpah, Intip 5 Gaya Hidup Sederhana ala Mark Zuckerberg
Artikel Selanjutnya
Meski Putus Sekolah, Pria Ini Bisa Menghasilkan Uang Saat Tidur