Sukses

Wall Street Menguat Meski Data Tenaga Kerja AS Melambat

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat dengan indeks saham S&P 500 dan Nasdaq catatkan performa terbaik selama sepekan.

Penguatan wall street tersebut juga terjadi di tengah rilis data ekonomi AS yaitu pertumbuhan tenaga kerja AS pada Desember melemah dari yang diharapkan.

Pada penutupan perdagangan saham Jumat (Sabtu pagi WIB), indeks saham Dow Jones naik 139,75 poin atau 0,56 persen ke posisi 25.214,88. Indeks saham S&P 500 bertambah 12,24 poin atau 0,45 persen ke posisi 2.736,23. Indeks saham Nasdaq menguat 44,38 poin atau 0,63 persen ke posisi 7.122,30.

Indeks saham Dow Jones dan S&P 500 mencatatkan performa terbaik sejak 2013. Sepekan ini, bursa saham AS mendapatkan katalis positif dari laporan penguatan ekonomi secara global. Ditambah persetujuan reformasi pajak AS sehingga memberikan tenaga untuk wall street pada akhir tahun lalu. Bahkan indeks saham S&P 500 naik 19,4 persen.

"Bursa saham AS naik dua persen untuk pertama kali dalam empat hari ini pada 2018 itu sangat baik. Pasar masih mencari tahu dampak dari pemangkasan pajak. Ini mendorong persepsi kalau prediksi ekonomi sudah baik," ujar Mike Baele, Direktur Pelaksana US Bank Private Client Wealth Management, seperti dikutip dari laman Reuters, Sabtu (6/1/2018).

Rilis data ekonomi AS pun tidak pengaruhi wall street. Rilis data tenaga kerja pada Desember 2017 yang melemah mendorong bank sentral AS atau the Federal Reserve tetap pada kebijakan menaikkan suku bunga pada 2018. Bale menuturkan, sentimen itu baik untuk pasar saham.

Pertumbuhan tenaga kerja di AS melambat dari yang diperkirakan pada Desember. Ini seiring penurunan tenaga kerja. Akan tetapi, upah bulanan menguat sehingga menekankan data tenaga kerja masih kuat.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan kalau data tenaga kerja non sektor pertanian naik 148 ribu pada Desember. Ekonom perkirakan 190 ribu.

Adapun penguatan wall street ditopang indeks saham S&P 500 sektor teknologi yang naik satu persen. Sektor saham tersebut catatkan performa terbaik di antara 11 sektor saham. Sektor saham teknologi menguat didorong saham Microsoft, Apple dan induk usaha Google yaitu Aplhabet.

Sementara itu, sektor saham energi melemah di wall street. Sektor saham energi turun 0,3 persen didorong harga minyak melemah lantaran produksi AS melonjak.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Dow Jones Cetat Rekor pada Perdagangan Saham Kemarin

Sebelumnya, Dow Jones Industrial Average (DJIA) mampu ditutup di atas 25.000 untuk pertama kalinya pada perdagangan Kamis dan indeks utama lainnya juga menyentuh level tertinggi didukung oleh data ekonomi yang kuat.

Mengutip Reuters, Jumat 5 Januari 2018, Dow Jones Industrial Average naik 152,45 poin atau 0,61 persen menjadi 25.075,13. Untuk ​​S&P 500 menguat 10,93 poin atau 0,40 persen menjadi 2.723,99. Sedangkan Nasdaq Composite menambahkan 12,38 poin atau 0,18 persen ke 7.077,92.

Pada 2017 kemarin, Dow Jones mampu naik 1.000 poin didukung oleh rencana reformasi kebijakan perpajakan Presiden AS Donald Trump. Selain itu, kinerja dari indeks yang berisikan 30 emiten tersebut juga didukung oleh kinerja perusahaan yang baik.

Di 2018 ini, Wall Street memulai kinerja dengan catatan yang cukup baik. Indeks patokan S&P 500 juga ditutup di atas 2.700 untuk pertama kalinya pada perdagangan Rabu kemarin.

Sedangkan untuk Nasdaq berada di atas 7.000 pada perdagangan sehari sebelumnya. Kedua indeks acuan tersebut mencatatkan rekor tertinggi pada perdagangan Kamis.

Data dari sektor manufaktur dan jasa yang kuat mendorong ekonomi dari negara terbesar di dunia ini mendorong industri pasar modal melus melompat. Sementara itu, perusahaan-perusahaan swasta juga terus menambah tenaga kerja yang memberikan kepercayaan kepada para investor.

"Anda memiliki kinerja perusahaan dengan pondasi yang sangat kuat," jelas Quincy Krosby, analis Prudential Financial di Newark.

Artikel Selanjutnya
Sektor Saham Teknologi Tekan Bursa Asia
Artikel Selanjutnya
Saham Bank dan Konflik di Suriah Bebani Wall Street