Sukses

Ombudsman Minta Kemenhub Lebih Awasi Sistem Garuda Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - PT Garuda Indonesia Tbk sempat alami keterlambatan dan pembatalan penerbangan pada 1-4 Desember 2017. Meski pada Sabtu, 9 Desember 2017 sudah dinyatakan normal kembali, Ombudsman Indonesia menemukan sumber masalahnya.

Anggota Komisioner Ombudsman, Alvin Lie, menyebut Garuda Indonesia ternyata mengalami masalah dengan sistem yang mengatur jadwal kerja kru dan alokasi pesawat. Hal ini dampak dari peralihan sistem yang tidak mulus.

Diketahui, sejak akhir Agustus 2016, Garuda menandatangi kontrak Platform Teknologi Operasi dan Awak Pesawat Sabre Airline Solutions. Menggantikan sistem lama, paket aplikasi ini digadang-gadang menyempurnakan pelacakan pesawat, kontrol dan pencegahan gangguan serta operasi manajemen awak kabin.

"Beralih dari sistem Crewlink ke Sabre. Peralihan tidak mulus. Dampaknya GA (Garuda Indonesia) kesulitan melacak keberadaan dan jam kerja crew maupun pesawat. Mismatch antara crew dengan pesawat. Ada crew, (tapi) tak ada pesawat dan sebaliknya. Crew juga kesulitan akses info apakah hari ini off, standby, atau terbang. Kalau terbang, terbang jam berapa, kemana dan pakai pesawat yang mana," ucap Alvin kepada Liputan6.com, Selasa (12/12/2017).

Meski demikian, Alvin menjelaskan, saat ini sudah berangsur diatasi. Namun, sungguh disayangkan terjadi hal tersebut.

"Sayang banget manajemen kurang cermat laksanakan peralihan sistem. Pas peak season, tanpa persiapkan jalur darurat bila terjadi masalah, dalam implementasi dan gelagatnya juga tidak punya rencana mitigasi bila terjadi gangguan seperti kemarin," ungkap Alvin.

Namun, dia menuturkan, masalah ini akan diserahkan sepenuhnya ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan BUMN. Jika tak bisa dibina atau ditemukan hal serupa, Ombdusman tak tinggal diam.

"Ini ranah Kemenhub dan Kementerian BUMN. Kalau mereka diam saja, baru Ombudsman masuk," tutur Alvin.

Mahal Harganya

Dia menuturkan, apa yang dilakukan Garuda Indonesia adalah kesalahan yang sangat mahal. Bukan soal biaya riil saja, tapi juga potensi kehilangan kepercayaan pelanggan.

"Tidak murah dan mudah kembalikan confidence pelanggan. Yang pasti, on time performance GA hancur selama kemarin. Saya yang hampir selalu naik GA, hingga hari ini belum berani naik GA. Takut terdampak delay dan cancel," ujar Alvin.

Dia menuturkan, hal ini merupakan dampak dari kebijakan direksi. Itu karena dalam menangani manajemen dibutuhkan seorang yang paham seluk beluk industri penerbangan.

"Ini dampak salah satu keputusan Direksi. Saya yakin kedua kementerian sudah mendampingi dan membina Direksi GA untuk cepat tanggulangi krisis ini," ujar Alvin.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 2 halaman

Garuda Indonesia Pastikan Penerbangan Kembali Normal

Sebelumnya, PT Garuda Indonesia Tbk memastikan penerbangan kembali normal usai sempat alami keterlambatan dan pembatalan penerbangan pada 1-4 Desember 2017. Manajemen PT Garuda Indonesia Tbk meminta maaf atas pembatalan dan keterlambatan penerbangan tersebut.

"Kami memohon maaf kepada masyarakat kalau misalnya ada yang mengalami kendala, kondisi operasionalnya kemarin selama mengalami pembatalan penerbangan," ujar Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk, Pahala N Mansyuri di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, seperti ditulis Sabtu, 9 Desember 2017.

Maskapai pelat merah itu sempat mengalami pembatalan penerbangan pada 1-4 Desember 2017. Ada 160 penerbangan yang harus dibatalkan. Pahala menuturkan, penerbangan Garuda Indonesia kembali normal pada 5 Desember 2017. Ia turun langsung mengecek kondisi operasional di Terminal 3 Bandara Soetta. Hasilnya, semua berjalan baik seperti semula.

"Mulai hari ini (Jumat) hingga jam 10 (pagi) tadi perfomance Garuda Indonesia sudah kembali mencapai di 97 persen. Tentunya kita tetap harus mengikuti dari hari ke hari, semuanya ini memang lancar tidak ada kendala apa pun," kata dia.

Pahala menuturkan, pembatalan penerbangan tersebut terjadi karena Bandara Internasional Lombok dan Bandara Internasional Ngurah Rai tertutup akibat erupsi Gunung Agung di Bali.

"Awal mulanya memang dengan adanya penutupan bandara di Lombok dan Denpasar, sehingga kurang lebih ada sekitar 700 hingga mencapai 800 kalau kita lihat dari cabin crew yang juga memang terpengaruh dari kondisi itu," ujar dia.

Pahala menambahkan, ada pembatalan dan penundaan penerbangan tidak terlalu pengaruhi kinerja PT Garuda Indonesia Tbk. "Pengaruh hal itu bisa kita minimalisasi, selama empat hari memang kita mengalami pembatalan dan kerugian empat hari cukup kecil tidak pengaruh," ujar dia.

Loading