Sukses

Manfaat Pendirian Wisata Edukasi Pusat Konservasi Kamojang

Liputan6.com, Jakarta Apa Anda tahu atau bahkan pernah melihat elang jawa? elang jawa merupakan satwa endemik yang memiliki ciri khas kepala berwarna cokelat kemerahan dan berjambul.

Elang jawa menyukai ekosistem hutan hujan tropika yang selalu hijau, di dataran rendah maupun tempat-tempat yang lebih tinggi. Pada umumnya tempat tinggalnya sukar untuk dicapai, meski tidak selalu jauh dari lokasi aktivitas manusia.

Saat ini, elang jawa sudah semakin jarang dijumpai. Ini akibat menipisnya kawasan hutan di Pulau Jawa yang menyebabkannya nyaris punah. Jika tidak dilestarikan, bisa jadi elang jawa hanya bisa dilihat dalam cerita bergambar bagi generasi mendatang.

Beragam cara dilakukan untuk mencegah kemungkinan buruk tersebut terjadi. Salah satunya adalah dengan mendirikan Pusat Konservasi Elang Kamojang. Pendirian tempat ini, dapat menjadi salah satu tempat di mana kita bisa melihat dari dekat berbagai jenis elang, termasuk elang jawa.

Selain elang jawa, di sana terdapat pula elang brontok. Sesuai namanya, elang ini memiliki warna bulu bercak-bercak di dasar bulu yang didominasi warna terang.

Tonton Video Pilihan Ini:

2 dari 3 halaman

Dibangunnya Pusat Konservasi Elang Kamojang

Pusat Konservasi Elang Kamojang yang berstandar IUCN (International Union for Conservation of Nature), dibangun melalui program CSR lingkungan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang bersinergi dengan BBKSDA Jawa Barat dan Forum Raptor Indonesia.

Program ini dilatarbelakangi kekhawatiran musnahnya habitat elang jawa. Saat ini saja populasi elang jawa hanya menyisakan sekitar 108-542 ekor, ini semua disebabkan akibat perburuan dan perdagangan satwa. Bahkan, data per tahun mencatat perdagangan illegal Elang Jawa cukup besar, yaitu mencapai 30-40 ekor.

Corporate Secretary PGE, Tafif Azimudin menyatakan pendirian Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) bertujuan menjamin kelestarian satwa yang nyaris punah. PGE telah memanfaatkan investasi sekitar Rp 5 miliar sejak 2014.

Investasi untuk keberlanjutan keragaman hayati tersebut meliputi peningkatan infrastruktur Pusat Konservasi Elang Kamojang, seperti Pusat Informasi, Pondok Kerja, Pos Jaga, Kandang Karantina, Kandang Observasi, Kandang Rehabilitasi, Kandang Pelatihan Terbang, dan Kandang Display Edukasi.

Sejak berdiri tahun 2015, pusat konservasi ini telah menjadi sarana edukasi keragaman hayati dengan lebih dari 10 ribu kunjungan, baik untuk riset maupun kunjungan sekolah.

Sebagai tujuan wisata edukatif, di tempat ini pengunjung bisa melihat elang di kandang rehabilitasi sementara, mengetahui seluk beluk elang, serta menikmati suasana alam sekitarnya.

3 dari 3 halaman

Selanjutnya

Hingga Oktober ini, Pusat Konservasi Elang Kamojang telah menampung sebanyak 119 ekor elang, di mana 25 ekor di antaranya merupakan penyerahan dari warga dan sudah dilepasliarkan sebanyak 20 ekor.

Tafif menambahkan, keberadaan Pusat Konservasi Elang Kamojang di PGE Area Kamojang, tidak hanya mendorong keberlanjutan habitat elang, tetapi juga memiliki efek berganda bagi masyarakat setempat.

“Kehadiran PKEK telah memberdayakan masyarakat dalam penyediaan pakan ternak, dimana saat ini terdapat 50 peternak dengan omzet mencapai Rp 84 Juta per tahun,” jelas Tafif.

Yang tak kalah pentingnya, PKEK telah melahirkan kesadaran masyarakat untuk tidak lagi berburu elang, dan secara sukarela menyerahkan elang tangkapan untuk dikonservasi dan dilepasliarkan.

Kembalinya elang di alam bebas tersebut, juga mendorong masyarakat setempat melakukan perbaikan habitat dengan melakukan reboisasi pohon endemik yang kini telah mencapai 20 ribu batang.

Tanpa Pengawalan, Wali Kota Gerebek Arena Judi

Tutup Video