Sukses

Dua Atlet Soft Tenis Grogi Tampil Perdana di Asian Games 2018

Liputan6.com, Jakarta Cabang olahraga (cabor) Soft Tenis Asian Games 2018 yang digelar di Venue Tennis Center Jakabaring Sport City (JSC) Palembang diperkuat para petenis Indonesia yang berkualitas. Namun, ternyata ada beberapa atlet Soft Tenis yang baru pertama kali mencoba kemampuannya di even sekelas Asian Games.

Muhammad Hemat Bhakti Anugerah, atlet Soft Tenis di Asian Games 2018, baru pertama kali bertarung di even internasional. Karier pertamanya di tenis membuat dia percaya diri untuk berpindah haluan ke Soft Tenis.

“Ikut pertandingan hanya di PON 2016, saat itu meraih medali emas nomor mix double. Senang bisa ikut berkontribusi di even besar ini walau sedikit grogi pertama kali berlaga di kelas internasional,” katanya kepada Liputan6.com, Jumat (31/8/2018).

Keputusan Hemat untuk pindah dari Tenis ke Soft Tenis, karena melihat peluang untuk meraih medali emas lebih besar. Persaingan di cabor tenis juga dirasa sangat ketat dan kurangnya atlet yang mau terjun di cabor Soft Tenis.

Atlet kelahiran 9 Oktober 1993 ini juga akan setia di cabor Soft Tenis hingga bisa meyumbangkan medali emas di berbagai even lainnya usai Asian Games 2018.

“Untuk kedepannya, semoga bisa terus ikut bertanding hingga even internasional. Ingin juga ikut di Sea Games nanti,” ungkapnya.

 

*Update terkini Asian Games 2018 mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga informasi terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di sini

2 dari 2 halaman

Pertama Kali

Sama halnya dengan Gusti Jaya Kusuma. Atlet Soft Tenis asal Samarinda ini, menjajal kemampuannya untuk pertama kali di even tingkat Asia di Asian Games 2018. Padahal sebelumnya, dia sudah vakum bertanding selama enam tahun.

Atlet kelahiran 7 Febuari 1992 ini awalnya terjun di cabor tenis sejak usia 13 tahun. Beberapa laga besar pun diikutinya, salah satunya Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 dengan nomor tunggal dan ganda putera tenis. Dari even tersebut, Gusti berhasil mengantongi medali perunggu.

Namun, di tahun 2010, Gusti memilih gantung raket dan hijrah ke kampung halamannya di Samarinda. Saat seleksi Pelatnas Asian Games 2018 cabor Soft Tenis, keinginan Gusti untuk kembali bertanding pun mencuat. Namun dirinya lebih tertarik untuk memilih Soft Tenis.

“Baru pertama kali ini tampil di even besar skala internasional. Agak tegang dan grogi, tapi lama-kelamaan timbul rasa percaya diri,” ucapnya.

Meskipun baru perdana tampil di even internasional, peraih medali perak Soft Tenis di PON 2016 Jawa Barat (Jabar) ini berharap bisa mewakili Indonesia menambah Medali Emas Asian Games 2018. (Nefri Inge)

Loading