Sukses

Bos Mustika Ratu: Asing Sukses Mengeruk Keuntungan di Indonesia

Pengusaha Mooryati Soedibyo prihatin jika kekayaan sumber daya alam Indonesia tidak bisa dikembangkan oleh anak bangsa tapi justru dinikmati asing.Wanita kelahiran Surakarta Jawa Tengah ini sangat membanggakan kekayaan sumber daya alam Indonesia yang wajib dikembangkan oleh tangan terampil serta keahlian putra-putra bangsa menjadi sebuah produk yang bernilai jual tinggi."Kita punya sumber daya alam berlimpah, mulai dari pertanian, minyak, batu bara dan mineral, hasil laut dan sebagainya. Coba hitung berapa triliunan rupiah yang kita hilangkan karena tak mampu memanfaatkan sumber daya tersebut dengan baik dan justru dimanfaatkan negara lain," keluh dia.

Mooryati menambahkan, banyak perusahaan asing yang sukses mengeruk keuntungan di Indonesia karena mereka mampu memanfaatkan kesempatan dengan baik.Menurut Wanita berusia 85 tahun itu, APEC yang telah berlangsung pada 1-8 Oktober lalu di Nusa Dua Bali sangat membuka kesempatan bagi para investor asing untuk melongok betapa besarnya sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia dan bisa dimanfaatkan menjadi peluang bisnis."Antar negara Asia Pasifik bisa saling membantu menumbuhkan ekonomi bersama dan memberi gambaran serta kesempatan yang bisa dilakukan investor dari luar negeri di Indonesia. Negara ini juga bisa mendapatkan kesempatan guna meningkatkan ekspor," ungkap Mooryati yang dijuluki sebagai Empu Jamu saat berbincang santai dengan Liputan6.com disela-sela acara APEC, seperti ditulis Senin (14/10/2013).Meski tidak menjadi pembicara di Forum Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) Indonesia 2013, namun pendiri PT Mustika Ratu Tbk (MRAT), Mooryati Soedibyo nampak bersemangat mendengarkan paparan dari para CEO perusahaan dunia.Sebagai pemain di bisnis jamu dan kosmetik, pendiri perusahaan publik dengan kode MRAT ini berupaya menelurkan produk-produk berkualitas yang bersumber dari bahan baku asli dari lokal."Kami menggali sumber daya alam berupa bahan baku herbal dari para petani dalam negeri dan diproduksi sesuai standarisasi internasional. Hasilnya tercipta produk jamu dan kosmetik yang praktis, moderen dan efisien," ujarnya.Sebab, Mooryati bilang, jamu saat ini tidak lagi identik dimasak dengan cara menggodok atau merebusnya. Kini sudah bergeser menjadi produk jamu ekstrak dalam bentuk bubuk, pil dan sebagainya."Kita ini sudah kaya dengan tanaman-tanaman herbal. Jadi ini harus dikembangkan oleh sumber daya manusia yang pintar karena saingan kita masuknya produk herbal luar negeri ke pasar Indonesia," pungkasnya. (Fik/Nur)

Loading