Liputan6.com, Jakarta - Siapa sangka sebuah lingkungan permukiman dengan hanya 41 rumah di kawasan Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, mampu menarik kunjungan dari berbagai penjuru dunia?
Pada Kamis (29/10/2026), RT 08 RW 04 Malaka Jaya kembali menerima kunjungan internasional. Kali ini rombongan dari Kerajaan Bahrain datang untuk mengenal langsung inovasi lingkungan berbasis masyarakat yang dikembangkan selama tiga tahun terakhir.
Advertisement
Kunjungan Bahrain sekaligus menandai negara ke-14 yang mengunjungi RT 8 Malaka Jaya, sebuah lingkungan permukiman yang berkembang menjadi laboratorium hidup bagi pengelolaan sampah, ketahanan pangan, energi terbarukan, dan konservasi air. Kunjungan tersebut difasilitasi Indonesia-Bahrain Business and Friendship Society yang dipimpin Yundini Husni, bersama delegasi Bahrain Voyagers Association yang dipimpin presidennya, Ahmed Abdulrahman.
Turut mendampingi Dede Muharam dari Indonesia-Egypt Business Council, yang berperan sebagai penerjemah sekaligus penghubung komunikasi antardelegasi. Dede juga merupakan pelaku usaha yang beraktivitas di Jakarta dan Cirebon.
Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang pertukaran budaya, tetapi juga mempertemukan masyarakat kedua negara melalui praktik nyata pembangunan lingkungan berkelanjutan.
Diplomasi Lingkungan dari Gang Sempit
Delegasi Bahrain disambut dengan nuansa budaya Indonesia, termasuk tarian tradisional Papua dan kegiatan pertukaran budaya melalui busana tradisional kedua negara. Bahkan penutup kegiatan diakhri dengan berjoget Maumere GemuFamire di Jalan Nusa Indah IV ini.
Namun, daya tarik utama kunjungan ini adalah berbagai inovasi lingkungan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat RT 8. Ketua RT 08 RW 04 Malaka Jaya sekaligus Founder Survival Architecture Indonesia, Taufiq Supriadi, memaparkan bagaimana sebuah lingkungan dengan lahan terbatas dapat mengembangkan lebih dari 40 inovasi yang saling terintegrasi.
Melalui konsep Survival Architecture Indonesia (SAI), warga diajak memanfaatkan ruang, sumber daya, dan teknologi tepat guna untuk menjawab persoalan lingkungan langsung dari sumbernya, yaitu rumah tangga. "Kalau sebuah kampung kecil dengan 41 rumah mampu menghadirkan solusi pengelolaan sampah, energi bersih, pangan, dan air, maka sesungguhnya peluang untuk mereplikasinya di seluruh Indonesia sangat besar," ujar Taufiq.
Menurutnya, kedatangan delegasi Bahrain merupakan pengingat bahwa praktik baik masyarakat Indonesia memiliki nilai yang dapat dibagikan kepada dunia. "Kami tidak sedang menunjukkan kemewahan sebuah kampung. Kami menunjukkan bagaimana keterbatasan ruang justru dapat melahirkan kreativitas, gotong royong, dan solusi nyata bagi bumi. Dari lorong sempit lahir solusi besar," tambahnya.
Dari Sampah, Pangan, Energi Surya, hingga IPAL
Dalam paparannya, Taufiq menjelaskan bahwa SAI dikembangkan sebagai pendekatan terpadu yang menghubungkan berbagai kebutuhan dasar kehidupan masyarakat. Pengelolaan sampah dilakukan melalui enam jalur utama, yaitu komposting, pemanfaatan maggot Black Soldier Fly, Ayam Petelur, lubang biopori, Mesin penghancur sampah organic dan bank sampah unit (BSU) Pencegah Krisis Planet.
Sampah organik diupayakan tidak lagi sekadar dibuang, melainkan diolah menjadi sumber daya produktif untuk mendukung kegiatan pertanian perkotaan dan ketahanan pangan. Di tengah keterbatasan lahan, masyarakat juga mengembangkan budidaya ikan lele menggunakan saluran beton U-ditch, peternakan ayam, magoot, tanaman produktif, dan berbagai bentuk urban farming.
Untuk mendukung kebutuhan energi, RT 8 telah memiliki pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 10 kilowatt-peak (kWp). Energi surya tersebut dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas lingkungan, termasuk peralatan pengolahan sampah dan budidaya pangan.
Kini, infrastruktur pengelolaan lingkungan RT 8 semakin lengkap dengan kehadiran Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang menjadi bagian penting pengembangan sistem pengelolaan air secara terpadu. IPAL tersebut dirancang untuk mengolah air limbah domestik agar hasil pengolahannya dapat dimanfaatkan kembali sesuai standar mutu dan kelayakan penggunaannya.
Integrasi pengelolaan sampah, pangan, energi, dan air menjadi pondasi pengembangan SAI sebagai model lingkungan permukiman yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan dapat direplikasi. "Bagi kami, sampah bukan akhir dari sebuah proses, tetapi awal dari sumber daya baru. Air harus dijaga, energi harus dimanfaatkan secara bijak, dan setiap ruang sekecil apa pun dapat menjadi sumber kehidupan," jelas Taufiq.
Sudah Dikunjungi 14 Negara, Kini Saatnya Replikasi NasionalBagi Taufiq, keberhasilan RT 8 Malaka Jaya tidak semestinya berhenti sebagai lokasi kunjungan atau contoh kampung inovatif. Setelah menarik perhatian pengunjung dari 14 negara, tantangan berikutnya adalah menjadikan berbagai praktik yang dikembangkan di RT 8 sebagai gerakan yang dapat diadaptasi secara luas.
Ia mengajak pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan organisasi masyarakat untuk terlibat dalam replikasi model SAI.
"Kami telah memperlihatkan bahwa konsep ini dapat dikerjakan pada skala RT dengan sumber daya yang terbatas. Sekarang yang kami butuhkan adalah uluran tangan, kolaborasi, dan keberanian untuk mereplikasinya ke lebih banyak lingkungan di seluruh negeri," ungkapnya.
Menurutnya, Indonesia memiliki ribuan lingkungan permukiman yang berpotensi menjadi pusat pengelolaan sampah, konservasi air, produksi pangan, dan pengembangan energi bersih. Model yang telah diterapkan di RT 8 dapat menjadi salah satu rujukan awal, dengan penyesuaian terhadap kebutuhan, kemampuan, dan karakteristik masing-masing wilayah.
"Kami ingin Indonesia bukan hanya dikenal sebagai negara yang memiliki persoalan sampah dan lingkungan, tetapi juga sebagai negara yang masyarakatnya aktif menghadirkan solusi. Kita tidak harus menunggu semuanya sempurna untuk mulai bergerak," katanya.
Kaderisasi dan Regenerasi
Di balik perhatian internasional tersebut, Taufiq juga menyampaikan pesan penting tentang masa depan kepemimpinan masyarakat. Setelah sekitar tiga tahun memimpin RT 08 sejak 14 Oktober 2023, ia menilai keberlanjutan inovasi lingkungan harus dibangun melalui sistem, kaderisasi, dan regenerasi, bukan ketergantungan pada seorang tokoh.
Menurutnya, salah satu ukuran keberhasilan kepemimpinan adalah kemampuan menyiapkan generasi penerus yang dapat mempertahankan bahkan mengembangkan capaian yang telah dibangun bersama warga.
"Keberhasilan seorang ketua RT bukan diukur dari berapa banyak tamu yang datang atau penghargaan yang diterima. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika sistem yang dibangun tetap berjalan, warga semakin mandiri, dan generasi berikutnya mampu melanjutkan bahkan membuatnya lebih baik," ujar Taufiq.
Ia berharap berbagai pengalaman selama tiga tahun terakhir dapat menjadi bekal bagi pengurus, pemuda, perempuan, dan masyarakat untuk mengambil peran lebih besar dalam menjaga keberlanjutan program.
"Kita harus menyiapkan kader dan suksesi kepemimpinan. Inovasi ini bukan milik ketua RT, melainkan milik warga. Saya ingin apa yang sudah dibangun dapat terus hidup, berkembang, dan memberi manfaat jauh melampaui masa kepemimpinan saya," tambahnya.
Kaderisasi juga dipandang penting untuk mendukung proses replikasi SAI ke berbagai wilayah Indonesia, sehingga semakin banyak penggerak masyarakat yang memiliki kemampuan teknis, manajerial, dan kepemimpinan dalam membangun lingkungan berkelanjutan.
Dari Indonesia untuk Dunia
Kunjungan delegasi Bahrain menjadi simbol bahwa diplomasi internasional tidak harus selalu berlangsung di ruang konferensi, gedung pemerintahan, atau forum berskala besar. Pertukaran pengetahuan dan persahabatan antarbangsa juga dapat dimulai dari gang permukiman, ketika masyarakat mampu memperlihatkan praktik yang relevan dengan tantangan global.
Melalui Survival Architecture Indonesia, RT 8 Malaka Jaya ingin menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan dapat dimulai dari unit sosial terkecil dan berkembang menjadi gerakan yang menjangkau lebih banyak wilayah.
"Empat belas negara telah datang melihat apa yang kami lakukan. Tetapi harapan terbesar saya bukan semakin banyak negara yang berkunjung. Harapan saya adalah semakin banyak RT, RW, sekolah, kampus, dan komunitas di Indonesia yang bergerak melakukan hal serupa," tegas Taufiq.
"Kami ingin meninggalkan warisan berupa sistem, pengetahuan, dan generasi penerus. Sebab bumi tidak membutuhkan satu orang hebat, melainkan jutaan orang yang mau bergerak bersama," tutupnya.
Kunjungan Bahrain pada 29 Oktober 2026 menjadi bagian dari perjalanan tersebut: memperkenalkan inovasi lokal Indonesia ke dunia sekaligus membuka babak baru replikasi dan keberlanjutan gerakan lingkungan berbasis masyarakat.