Mengenal Konsep “Survival Architecture Indonesia” Ala Pak RT Taufiq Supriadi

Konsep Survival Architecture Indonesia disampaikan oleh Ketua RT Malaka Jaya sekaligus Founder Gerakan Pencegah Krisis Planet, Taufiq Supriadi.

Diterbitkan 26 Mei 2026, 14:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kesadaran menjaga lingkungan tidak bisa dibangun hanya melalui seremoni sesaat, tetapi membutuhkan gerakan kolektif dengan “napas panjang”. Pesan tersebut disampaikan oleh Taufiq Supriadi, seorang Community Development Expert sekaligus Founder Gerakan Pencegah Krisis Planet, dalam kegiatan edukasi dan bimbingan teknis persiapan Program Kampung Iklim (ProKlim) di RW 07 Jatinegara, Kecamatan Cakung. 

Dalam forum tersebut, Taufiq memaparkan konsep “Survival Architecture Indonesia”, sebuah pendekatan pembangunan lingkungan berbasis komunitas yang mengintegrasikan pengelolaan sampah, pangan, energi, air, ekonomi sirkular, hingga komunikasi digital dalam satu ekosistem yang hidup.

Kegiatan yang dihadiri oleh Camat Cakung Rohmad, Lurah Faqieh, para Ketua RW dan RT, kelompok Dasawisma, masyarakat, serta dukungan pihak swasta seperti PT Pama ini berlangsung penuh antusias. Menurut Taufiq, tantangan utama kota besar saat ini bukan hanya persoalan sampah, tetapi bagaimana membangun perilaku masyarakat secara konsisten.

“Antrian sampah di kota besar bahkan bisa mencapai kilometer panjangnya. Karena itu solusi lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau seremoni sesaat. Kuncinya adalah perubahan perilaku warga dari level RT,” ujar Taufiq.

Dalam paparannya yang berjudul “Dari Lorong Sempit Lahir Solusi Besar”, Taufiq menjelaskan bagaimana wilayah RT 08 RW 04 Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur dikembangkan menjadi living laboratory lingkungan berbasis masyarakat melalui konsep Survival Architecture Indonesia. Model tersebut mengintegrasikan:

  1. pemilahan sampah dari sumber
  2. pengolahan organik
  3. urban farming
  4. ketahanan pangan
  5. konservasi air
  6. energi surya
  7. hingga edukasi lingkungan berbasis media digital.

Gerakan tersebut kini dikenal publik melalui nama “Pencegah Krisis Planet”, yang telah memperoleh lebih dari 1.248 ulasan bintang lima di Google Maps dan menjadi lokasi studi berbagai sekolah, kampus, pesantren, komunitas, media nasional, hingga tamu internasional.

Survival Architecture Indonesia untuk Kampung Tangguh

Dalam sesi diskusi, berbagai pertanyaan disampaikan peserta. Camat Cakung Rohmad menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan gerakan lingkungan agar tidak berhenti pada kegiatan simbolik semata. Sementara Ketua RT dan RW mengangkat tantangan mengumpulkan warga di wilayah padat penduduk dengan jumlah warga yang sangat besar.

Menjawab hal tersebut, Taufiq menegaskan bahwa perubahan lingkungan harus dimulai dari langkah paling sederhana.

“Pilah sampah sesuai kemampuan masing-masing. Jangan menunggu sempurna. Yang penting bergerak dulu dan konsisten,” jelasnya.

Pertanyaan lain juga datang dari kelompok Dasawisma mengenai strategi mengubah kesadaran masyarakat menjadi aksi nyata. Menurut Taufiq, pendekatan terbaik adalah melalui keteladanan dan contoh nyata yang bisa langsung dilihat warga sehari-hari.

“Masyarakat tidak cukup hanya diberi teori. Mereka harus melihat bukti nyata bahwa lingkungan bersih bisa memberi manfaat sosial, ekonomi, dan kesehatan,” tambahnya.

Kegiatan ini juga membahas tahapan Program Kampung Iklim mulai dari kategori ProKlim Pratama, Madya, Utama, hingga Lestari. Taufiq menekankan bahwa setiap wilayah memiliki kemampuan berbeda sehingga keberhasilan tidak boleh diukur dari kemewahan infrastruktur, melainkan konsistensi gerakan warga.

Selain itu, peserta juga menanyakan kemungkinan pendampingan teknis apabila ingin mengembangkan konsep seperti RT 8 Malaka Jaya. Menurut Taufiq, model tersebut sangat mungkin direplikasi karena yang terpenting bukan alatnya, melainkan metode menggerakkan masyarakat.

“Yang kami bangun bukan sekadar lingkungan hijau, tetapi sistem gotong royong yang hidup,” katanya.

Kegiatan edukasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan krisis lingkungan perkotaan. Kegiatan tersebut juga mendapat perhatian berbagai pihak, termasuk media nasional.

Dalam kesempatan itu, tim dari Trans7 turut melakukan pengambilan gambar dan dokumentasi terkait perkembangan gerakan lingkungan berbasis masyarakat yang berkembang di wilayah Jakarta Timur.

Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan pemberdayaan warga melalui konsep Survival Architecture Indonesia mulai dipandang sebagai salah satu model edukasi lingkungan perkotaan yang menarik untuk dipelajari lebih luas. Taufiq menegaskan bahwa perhatian media bukanlah tujuan utama, melainkan sarana untuk memperluas dampak edukasi lingkungan kepada masyarakat.

“Kalau media datang, itu bukan untuk membesarkan individu atau wilayah tertentu. Tetapi supaya semakin banyak masyarakat percaya bahwa perubahan lingkungan bisa dimulai dari gang kecil dan dari tindakan sederhana,” ujarnya.

Dengan konsep Survival Architecture Indonesia, Taufiq berharap kampung-kampung di Indonesia dapat berkembang menjadi komunitas yang lebih tangguh, mandiri, dan berkelanjutan di tengah tantangan urbanisasi dan perubahan iklim global.