Menyusuri Pandansari, `Desa Mati` Akibat Letusan Kelud

Sejauh mata memandang, hanya warna abu-abu yang terlihat di desa yang berjarak 6 kilometer dari puncak Gunung Kelud itu.

oleh Ahmad Romadoni diperbarui 18 Feb 2014, 16:23 WIB
Pandansari bak desa mati. Sejauh mata memandang, hanya warna abu-abu yang terlihat di desa yang berjarak 6 kilometer dari puncak Gunung Kelud itu. Material vulkanik bekas letusan Gunung Kelud menimbun desa itu.

Tak mudah mencapai desa itu pascaletusan Gunung Kelud. Kendaraan harus turun ke jalan yang berada di bawah Waduk Selorejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Jalanan menyempit menjadi 4 meter saat tiba di Kali Sambong.

Air Kali Sambong tak mengalir deras. Sisi kanan dan kiri sungai selebar 20 meter itu tertutup abu vulkanik. Hanya 4 meter di bagian tengah kali saja yang teraliri air.

Menyusuri jalan sempit itu bukan perkara mudah. Abu vulkanik padat setebal 5-10 centimeter harus diterjang. Jalan menanjak harus dilalui jika ingin lebih dekat dengan Desa Pandansari.

Berjalan sekitar 500 meter, gapura bertuliskan Dusun Munjung sudah menyambut. Dari situ, tampak jelas betapa dahsyatnya letusan Gunung Kelud. Permukiman warga hancur.

Tak ada satu rumah pun lolos dari gempuran abu, pasir, dan batu kerikil yang berasal dari perut Kelud. Abu setebal 10-20 centimeter menutupi atap, halaman, bahkan sampai ke dalam rumah warga. Tak ada bangunan yang utuh. Tak hanya itu, berbagai fasilitas umum seperti Balai Dusun Munjung dan SD Pandansari 3 tak luput dari kerusakan parah.

Balai Dusun misalnya. Bangunan ini tertutup abu setebal 20 centimeter. Ruang utama penuh dengan reruntuhan atap dan plafon. Di rungan itu hanya tersisa 2 meja biru yang terselimuti abu. Kursi plastik yang biasa digunakan untuk rapat hanya teronggok di salah satu ruangan.

SD Pandansari lebih parah lagi. 3 Bangunan utama ambrol. Baja ringan sebagai pondasi atap roboh dan menghancurkan gedung. Meja dan kursi di ruang kelas, ruang guru, dan ruang belajar lainnya seluruhnya tertutup abu. Bahkan, lapangan sekolah sudah tak kelihatan dasarnya.

Keadaan lebih parah menimpa Dusun Sambirejo dan Kutut. Ketiga dusun itu bak 'tak bernyawa'. Kondisi ini bahkan bertahan hingga 4 hari pasca erupsi Gunung Kelud. "Sepi, nggak ada orang. Ngungsi semua," kata salah seorang warga, Kristian, saat ditemui Liputan6.com, Selasa (18/2/2014).

Meski status gunung masih Awas, warga tetap memberanikan diri kembali ke rumah. Selain untuk mengetahui kondisi rumah, warga mengaku sudah bosan berada di pengungsian.

"Sekarang sudah lebih baik, ya pulang lihat rumah. Sudah begini bentuknya. Lagian di pengungsian bosen sumpek," lanjut Kristian. Karena itu dirinya memilih segera kembali ke rumah dan mengamankan harta benda yang masih bisa diselamatkan. (Eks/Sss)

Baca juga:

Kondisi Puncak Gunung Kelud Setelah Meletus Dahsyat
Karung-karung Abu Kelud Menumpuk di Jalanan Yogyakarta
Letusan Gunung Kelud Bikin 30 Ribu Ekor Sapi Perah Tak Produktif

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya