Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik bervariasi pada perdagangan saham Jumat, (25/9/2026). Pergerakan bursa saham Asia Pasifik yang beragam itu seiring pelaku pasar memantau perkembangan pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump-Presiden China Xi Jinping. Selain itu, situasi Timur Tengah dan dampak aksi jual obligasi global juga mempengaruhi bursa saham Asia.
Mengutip CNBC, Jumat pekan ini, di Asia-Pasifik, indeks Nikkei 225 di Jepang naik 0,25%. Indeks Topix bertambah 0,40%. Indeks ASX 200 menguat 0,48%. Sedangkan bursa saham China dan Korea Selatan libur.
Advertisement
Dinamika pasar obligasi terus berlanjut. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun naik menjadi 5,225% pada Kamis malam, level tertinggi sejak 2007, sementara imbal hasil tenor 30 tahun mencapai 5,502%.
Kenaikan imbal hasil pekan ini dipicu oleh pernyataan bernada hawkish dari Gubernur Federal Reserve Michael Barr, harga energi yang tetap tinggi akibat konflik terkait Iran, serta laporan aktivitas manajer pembelian (purchasing managers’ report) yang menunjukkan angka kuat.
Perdagangan kontrak berjangka suku bunga acuan Fed (Fed funds futures) mengindikasikan peluang sekitar 68% untuk kenaikan suku bunga pada Oktober, menurut data alat pemantau CME FedWatch.
Suku bunga hipotek tetap (fixed-rate mortgage) tenor 30 tahun, yang pergerakannya mengikuti obligasi tenor 10 tahun naik menjadi 7,45% (level tertinggi sejak 2024), di tengah sinyal kenaikan biaya pinjaman bagi konsumen menjelang pemilihan umum paruh waktu.
Pelaku Pasar Cermati Data Ekonomi AS
"Bahkan sebelum pergerakan dalam beberapa hari terakhir, penurunan suku bunga tahunan (APR) kartu kredit dan suku bunga pinjaman kendaraan bermotor yang sempat terjadi dari pertengahan 2024 hingga awal 2026, telah terhenti, dan suku bunga hipotek kembali meningkat," tulis Ekonom Morgan Stanley, Heather Berger.
"Kami memperkirakan tekanan ini akan membebani belanja, terutama untuk sektor barang, yang turut berkontribusi pada perlambatan pertumbuhan konsumsi riil sebesar 40 basis poin yang kami proyeksikan untuk tahun depan," ia menambahkan.
Indeks Dow sedang menuju pekan keempat berturut-turut di zona merah. Indeks Dow Jones turun 0,6% selama periode tersebut. Sementara itu, indeks S&P 500 berada di jalur kenaikan 0,7%, dan Nasdaq mencatat kenaikan 1,6% sejak awal pekan ini.
Menjelang perdagangan Jumat, para pelaku pasar akan mencermati laporan sentimen konsumen dari University of Michigan serta data pesanan barang tahan lama (durable goods).