Gaji Median CEO Perempuan Lampaui Pria, Tetap Ada Kesenjangan di Posisi Puncak

Gaji median CEO perempuan di S&P 500 melampaui pria pada 2025, mencapai $18,5 juta. Namun, representasi di posisi puncak dan kesenjangan gaji tertinggi masih ja

oleh Vinsensia DianawantiDiterbitkan 21 Agustus 2026, 09:13 WIB
Ilustrasi CEO Perempuan (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Liputan6.com, Jakarta - Para pemimpin perempuan di perusahaan-perusahaan besar Amerika Serikat kini mencatatkan median gaji yang lebih tinggi dibandingkan rekan-rekan pria mereka. Fenomena ini menandai pergeseran signifikan dalam lanskap kompensasi eksekutif global, menyoroti kemajuan dalam kesetaraan gender di level tertinggi dunia korporat. Pada tahun 2025, CEO perempuan di S&P 500 memperoleh gaji median sebesar $18,5 juta, atau sekitar Rp296 miliar.

Angka tersebut 11% lebih tinggi dibandingkan median gaji yang diterima CEO laki-laki pada periode yang sama. Tren peningkatan ini bukan hal baru, karena pada tahun 2023, paket gaji median untuk CEO perempuan juga menunjukkan kenaikan 21% menjadi $17,6 juta (sekitar Rp281,6 miliar). Kenaikan ini melampaui peningkatan 12% yang dialami CEO laki-laki, yang saat itu memiliki gaji median sebesar $16,3 juta (sekitar Rp260,8 miliar).

Meskipun demikian, kompensasi bagi CEO perempuan seringkali lebih banyak terikat pada insentif berbasis kinerja ketimbang gaji tetap. Hal ini menunjukkan bahwa preferensi risiko mungkin tidak semata-mata terkait gender, melainkan bergantung pada konteks dan struktur tata kelola perusahaan. Permintaan akan keragaman kepemimpinan pasca-krisis juga memposisikan CEO perempuan sebagai aset yang sangat berharga.

Kesenjangan di Puncak Piramida dan Tantangan Akses

Ilustrasi perempuan bekerja/copyright unsplash.com/Mateus Campos Felipe

Walaupun CEO perempuan menunjukkan kemajuan dalam hal gaji median, kesenjangan signifikan masih terlihat di level kompensasi tertinggi. CEO laki-laki dengan bayaran tertinggi tercatat masih jauh melampaui CEO perempuan dengan bayaran tertinggi. Sebagai ilustrasi, pada tahun 2023, CEO Broadcom Hock Tan berhasil memperoleh $161,8 juta atau sekitar Rp2,59 triliun. Angka ini jauh melampaui Lisa Su dari Advanced Micro Devices, CEO perempuan dengan bayaran tertinggi, yang menerima $30,3 juta atau sekitar Rp484,8 miliar pada tahun yang sama.

Jumlah CEO perempuan di perusahaan S&P 500 juga masih sangat terbatas. Pada tahun 2024, hanya 25 dari 341 CEO yang disurvei adalah perempuan, meskipun ini merupakan jumlah tertinggi sejak survei dimulai pada tahun 2011. Data tahun 2025 menunjukkan bahwa perempuan hanya menduduki 7% posisi CEO di S&P 500 dan 6% di Russell 3000. Andrew Jones, seorang peneliti utama di The Conference Board Governance & Sustainability Center, menegaskan bahwa tantangan utamanya bukanlah kesetaraan kompensasi, melainkan akses. "Memastikan lebih banyak perempuan mencapai level CEO," ujarnya, menjadi kunci untuk mengatasi disparitas ini.

Fenomena 'tebing kaca' atau glass cliff juga kerap menjadi hambatan bagi CEO perempuan. Mereka lebih sering ditunjuk untuk memimpin perusahaan yang sedang menghadapi krisis atau kesulitan, menempatkan mereka pada posisi yang lebih rentan terhadap kegagalan.

Dampak Positif pada Perusahaan dan Sektor Unggulan

ilustrasi perempuan bekerja/Photo by Annika Palmari on Unsplash

Kehadiran CEO perempuan tidak hanya membawa dampak pada aspek kesetaraan, tetapi juga secara positif memengaruhi kinerja perusahaan. Berbagai penelitian menunjukkan adanya korelasi kuat antara keragaman gender dalam kepemimpinan dengan peningkatan kinerja keuangan. "Perusahaan dengan lebih banyak perempuan di posisi eksekutif cenderung mengungguli rekan-rekan mereka dalam hal profitabilitas, pangsa pasar, dan pengembalian pemegang saham secara keseluruhan," demikian laporan dari National Girls Collaborative Project.

Studi yang dilakukan oleh bank Finlandia Nordea terhadap 11.000 perusahaan menemukan bahwa entitas yang dipimpin oleh CEO atau kepala dewan direksi perempuan mencatatkan pengembalian tahunan sebesar 25% selama delapan tahun. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan 11% yang dicapai oleh indeks perusahaan global yang lebih luas. Selain itu, riset lain menunjukkan bahwa perusahaan yang dipimpin perempuan dalam daftar Fortune 1000 menghasilkan pengembalian 226% lebih tinggi dibandingkan S&P 500 antara tahun 2002 dan 2014.

CEO perempuan juga cenderung mendorong inovasi dan manajemen risiko yang lebih efektif. Mereka memiliki kecenderungan 50% lebih besar untuk memiliki Chief Financial Officer (CFO) perempuan dan 55% lebih mungkin memiliki perempuan yang memimpin unit bisnis. Industri teknologi, keuangan, perawatan kesehatan, pertahanan, dan energi umumnya menjadi sektor di mana CEO perempuan dengan bayaran tertinggi ditemukan. Pada tahun 2025, sektor IT mencatat gaji median CEO tertinggi, diikuti oleh keuangan dan perawatan kesehatan yang mengalami peningkatan terbesar dalam kompensasi.

Di Selandia Baru, CEO perempuan memperoleh gaji rata-rata $5,9 juta (sekitar Rp94,4 miliar), lebih dari dua kali lipat dari rekan-rekan pria mereka yang rata-rata $2,6 juta (sekitar Rp41,6 miliar). Kontras dengan negara-negara seperti Swiss, Belanda, dan Jerman yang memiliki kurang dari 5% CEO perempuan. Korea Selatan juga menunjukkan bahwa CEO perempuan mendapatkan penghasilan lebih besar daripada rekan-rekan pria mereka, meskipun representasi mereka masih rendah.

10 CEO Perempuan dengan Kompensasi Tertinggi di Dunia (2025)

Berikut adalah daftar 10 CEO perempuan dengan total kompensasi tertinggi di dunia pada tahun 2025, yang mencakup gaji, bonus, tunjangan, serta penghargaan saham atau opsi:

  • Jane Fraser (Citigroup): Total Kompensasi: $95,76 juta (sekitar Rp1,53 triliun)
  • Lisa Su (Advanced Micro Devices - AMD): Total Kompensasi: $55,16 juta (sekitar Rp882,56 miliar)
  • Mary Barra (General Motors): Total Kompensasi: $29,90 juta (sekitar Rp478,4 miliar)
  • Phebe Novakovic (General Dynamics): Total Kompensasi: $25,92 juta (sekitar Rp414,72 miliar)
  • Adena Friedman (Nasdaq): Total Kompensasi: $25,01 juta (sekitar Rp400,16 miliar)
  • Kathy Warden (Northrop Grumman): Total Kompensasi: $24,09 juta (sekitar Rp385,44 miliar)
  • Stephanie Ferris (Fidelity National Information Services): Total Kompensasi: $22,93 juta (sekitar Rp366,88 miliar)
  • Carol Tomé (UPS): Total Kompensasi: $22,88 juta (sekitar Rp366,08 miliar)
  • Gail Boudreaux (Elevance Health): Total Kompensasi: $22,58 juta (sekitar Rp361,28 miliar)
  • Reshma Kewalramani (Vertex Pharmaceuticals): Total Kompensasi: $21,14 juta (sekitar Rp338,24 miliar)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya