Anak Krakatau Delapan Kali Erupsi Saat 17 Agustus

Kolom abu tertinggi mencapai 400 meter.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 17 Agustus 2026, 11:33 WIB
Gunung Anak Krakatau delapan kali erupsi

Liputan6.com, Jakarta - Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi, Senin (17/8/2026). Hingga pukul 09.22 WIB, gunung api tersebut tercatat mengalami delapan kali erupsi sejak dini hari.

Erupsi terbaru terjadi pukul 09.22 WIB. Kolom abu teramati mencapai 400 meter di atas puncak atau 557 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal teramati mengarah ke barat laut. Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 57 milimeter dan berlangsung selama 32 detik.

Sebelumnya, erupsi juga terjadi pada pukul 06.26 WIB. Saat itu, kolom abu mencapai sekitar 400 meter di atas puncak atau 557 mdpl.

Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal bergerak ke arah utara dan barat laut. Erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimum 57 milimeter dan berlangsung selama 107 detik.

Aktivitas erupsi tercatat berulang sejak dini hari. Erupsi pada pukul 04.20 WIB memiliki amplitudo maksimum 55 milimeter dengan durasi 27 detik.

Pukul 04.05 WIB, erupsi terekam dengan amplitudo maksimum 58 milimeter selama 38 detik. Pukul 03.29 WIB dengan amplitudo maksimum 57 milimeter dan durasi 43 detik. Pukul 03.04 WIB dengan amplitudo maksimum 64 milimeter selama 55 detik.

Pukul 02.13 WIB dengan amplitudo maksimum 61 milimeter dan durasi 53 detik. Erupsi pertama dalam rangkaian tersebut terjadi pukul 01.30 WIB. Erupsi terekam dengan amplitudo maksimum 57 milimeter dan berlangsung selama 36 detik.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Lampung Selatan, Andi Suwardi sebelumnya mengatakan aktivitas vulkanik gunung api tersebut masih mengalami fluktuasi.

"Memang dari kemarin Krakatau aktif. Tremornya mulai keluar harmonik dan amplitudonya agak besar. Magmanya sudah dekat," kata Andi saat dikonfirmasi, Senin (17/8/2026).

Menurut Andi, aktivitas Gunung Anak Krakatau sempat mengalami penurunan. Namun, kondisi tersebut kembali berubah dengan meningkatnya aktivitas vulkanik.

 

"Masih naik, masih turun. Makanya statusnya masih Siaga," ujarnya.

Andi meminta masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau selama aktivitas vulkanik masih meningkat.

Sesuai rekomendasi pengamatan, masyarakat dilarang mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Dia menegaskan masyarakat tidak perlu mengambil risiko dengan mendekati kawasan gunung api tersebut selama statusnya masih Siaga.

"Kita kan masyarakat umum tidak punya alat pendeteksi kegiatan dari dalam. Kalau tiba-tiba ada letusan, risikonya sangat besar," ungkapnya.

Andi juga mengingatkan peningkatan amplitudo tremor tidak selalu dapat diketahui secara kasatmata.

"Makanya lebih baik jangan ke sana dulu selama status Siaga," tegasnya.

Masyarakat diminta mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan karena aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dapat berubah sewaktu-waktu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya