Liputan6.com, Beijing - Ucapan sederhana dari sang istri menginspirasi seorang pria di China untuk mengubah lahan tandus menjadi taman bunga hollyhock seluas 80 hektare. Zhou Xiaolin dan istrinya, Yin Jie, kini tinggal di tengah hamparan bunga yang mereka rawat sendiri di Chengdu, Provinsi Sichuan.
Dikutip dari South China Morning Post, Selasa (18/8/2026), ide tersebut bermula pada 2013. Saat itu, Yin mengenang masa kecilnya di Beijing dan menceritakan kecintaannya terhadap bunga hollyhock. Mendengar cerita tersebut, Zhou berjanji akan membuatkan sebuah taman bunga untuk istrinya.
Advertisement
Zhou sebenarnya tidak memiliki pengalaman dalam berkebun. Namun, demi mewujudkan keinginan istrinya, ia menjual rumahnya untuk membeli lahan di Zhuanlong Town. Ia kemudian mempelajari cara menanam hollyhock secara otodidak.
Selama bertahun-tahun, Zhou mencari berbagai jenis bibit dari dalam maupun luar China. Ia menghabiskan sekitar satu dekade untuk mengubah lahan tersebut menjadi taman bunga hollyhock yang disebut sebagai salah satu yang terbesar dan paling beragam di dunia.
Taman yang kini dibuka untuk umum itu memiliki luas sekitar 80 hektare. Di dalamnya terdapat lebih dari 700 varietas hollyhock, hampir 150 ribu bunga lili, serta sekitar 100 ribu tanaman kembang sepatu China.
Kecintaan Zhou terhadap hollyhock juga membuatnya mempelajari sejarah dan makna budaya bunga tersebut. Ia bahkan menyusun panduan bergambar yang disebut sebagai klasifikasi ilmiah pertama untuk bunga hollyhock.
Bagi Zhou, bunga dan istrinya merupakan dua sumber keindahan terbesar dalam hidupnya.
“Kebahagiaan adalah menemukan seseorang yang sangat kau cintai, atau menemukan pekerjaan yang sangat senang kau jalani,” ujar Zhou kepada media China.
Meski hollyhock merupakan tanaman asli Sichuan, pasangan tersebut memandang bunga itu sebagai simbol yang dapat melampaui batas etnis dan agama.
“Ini adalah bunga perdamaian,” kata Yin.
Kisah Cinta yang Seindah Taman Bunga
Kisah cinta dua sejoli ini dimulai di tahun 1985. Yin melakukan perjalanan ke Jiuzhaigou, Sichuan, bersama teman-teman sekelasnya ketika ia masih menjadi mahasiswa keperawatan dari Beijing. Saat itu, Zhou adalah pemandu wisata magang yang ditugaskan untuk kelompok mereka, dan ia langsung terpikat oleh sikap Yin yang tenang di tengah kerumunan yang ramai.
Sejak saat itu, mereka bertukar surat sebagai teman selama lima tahun sebelum akhirnya Zhou datang ke Beijing untuk melamarnya. Yin bercerita bahwa perasaannya terhadap Zhou timbul perlahan dan cinta sejati mekar setelah mereka menikah.
Di waktu itu, Zhou bekerja di bidang perencanaan pariwisata yang membawanya berkeliling negara tersebut, sering juga ditemani oleh Yin. Dalam perjalanan mereka melintasi Tibet, mereka terjebak dalam badai salju yang dahsyat. Zhou menggendong Yin di punggungnya sampai mereka menemukan tempat berlindung di sebuah gua. Mereka menghabiskan tiga hari berpelukan untuk menghangatkan diri sebelum akhirnya diselamatkan.
Bahkan ketika keuangan mereka ketat, Yin berkata sang suami selalu memastikan ia mendapatkan yang terbaik yang mampu mereka beli. “Mengenal pria sebaik ini, aku yakin akan tetap bersamanya seumur hidup,” tuturnya.
Pasangan tanpa anak ini tinggal di taman bersama beberapa kucing dan anjing. Setelah 35 tahun menikah, mereka tetap saling bertukar surat tulis tangan pada hari ulang tahun dan hari jadi pernikahan.
Salah seorang pengguna internet berkomentar: “Hidup bukan hanya soal mencari uang dan memiliki anak. Hidup juga tentang meluangkan waktu untuk menyaksikan bunga mekar dan sungai mengalir.”
“Kebahagiaan sebenarnya adalah dua jiwa yang serasi saling memahami, mengagumi, dan menghargai satu sama lain,” ketik pengguna lain.