Ketua POGI: Dokter Tak Boleh Merasa Super

Pelajaran yang bisa diambil oleh sejawat dokter adalah masalah komunikasi.

oleh Fitri Syarifah diperbarui 14 Feb 2014, 16:15 WIB
Meskipun Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), dr. Nurdadi Saleh, SpOG sangat menyayangkan penangkapan ketiga dokter yang sempat masuk Rutan (Rumah Tahanan) di Manado, namun ia merasa harus membesarkan hati para dokter yang pernah terkait kasus kematian seorang pasien bernama Julia Fransiska Makatey.

Seperti disampaikan Nurdadi, pelajaran yang bisa diambil oleh sejawat dokter adalah pentingnya komunikasi. Karena pada dasarnya, sebagai dokter, kita tidak boleh melupakan komunikasi.

"Hikmah yang bisa ditarik memang utamanya adalah komunikasi. Komunikasi seringkali tidak terukur secara pendidikan kami. Maka mulai sekarang, apa yang disebut informed concern atau pendapat pasien itu harus didengarkan dan kita tidak boleh merasa berada di posisi super. Mari kita lebih komunikatif lagi," kata Nurdadi, ditulis Jumat (14/2/2014).

Sedangkan bagi Dr Ayu, Dr Hendry dan Dr Hendy, hikmah dibalik penangkapan dan penahanan di Rutan (Rumah Tahanan) Manado menjadi semakin dalam karena ketiganya berharap bisa mendapat tempat kembali di hati pasiennya.

Dr Ayu mengatakan, selain komunikatif, ia berharap bisa besar hati membantu pasien kembali. Hampir sama dengan dr Ayu, dr Hendry mengatakan akan lebih sering berkomunikasi dengan pasien agar mereka bisa menerima kondisinya.

Dr Hendy menilai, hikmah yang dapat diambil dari kasus ini baginya cukup membuka pikirannya. "Walaupun kami sudah melakukan SOP (standard operating procedure), tapi saya sadar bukan gitu saja terlepas dari tuntutan. Ke depan harus ada perbaikan," katanya.

Menurutnya, meskipun dokter sudah melakukan tugas sesuai prosedur, belum tentu tindakan itu sesuai keinginan pasien.

"Saya harap tidak ada lagi dokter dipidana dan akan ada undang-undang yang mengatur segala macam tuntutan malpraktik dari kedokteran" ujar Hendy.

(Fit/Abd)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya