Liputan6.com, Jakarta - Rencana China untuk mengembangkan Artificial Intelligence (AI) dan energi bersih diprediksi menempatkan platinum di posisi yang sama dengan emas dalam pasar logam mulia, berdasarkan laporan Dewan Investasi Platinum Dunia (WPIC). Sedangkan, pasar platinum kerap menghadapi kendala pasokan.
Dilansir dari Kitco News, Minggu (19/7/2026), Pengaruh China terhadap pasar Logam Kelompok Platinum (PGM) menjadi fokus dalam konferensi Shanghai Platinum Week dari WPIC. Penguasa industri menyorot rencana lima tahun ke-15 China sebagai penggerak konsumsi platinum di masa mendatang.
Advertisement
Menurut data WPIC, Beijing telah mengalokasikan hampir US$ 300 miliar, atau sekitar Rp 5,3 kuadriliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.929) untuk pembangunan infrastruktur AI hingga 2030.
Ini menciptakan permintaan baru untuk kelompok metal platinum dalam berbagai sektor teknologi, mulai dari manufaktur semikonduktor dan hard disk drive hingga produksi kristal industri, papan sirkuit tercetak, interkoneksi optik, dan sistem cadangan bertenaga hidrogen untuk pusat data.
Platinum juga diprediksi akan diuntungkan dari ekspansi besar-besaran ekonomi hidrogen China, di mana metal tersebut menjadi kunci dalam produksi hidrogen dan kendaraan listrik bertenaga sel bahan bakar.
Direktur Utama WPIC, Trevor Raymond, menyatakan prospek perkembangan demand platinum yang berkaitan dengan AI adalah faktor tambahan yang mulai disadari oleh pasar. "Yang lebih penting, supply dan demand platinum belum dipertimbangkan dalam hal ini," ia menambahkan.
Beberapa pendapat mengindikasikan platinum dapat bersanding dengan emas di China. Selama dua dekade, China telah menjadi konsumen emas fisik, karena investor mengejar diversifikasi portofolio, dan pemerintah kerap meningkatkan cadangan resmi negara.
Kebijakan industri yang condong kepada AI, manufaktur canggih, dan teknologi hidrogen dapat memposisikan platinum menjadi aset strategis.
Platinum Masih Mengalami Krisis Persediaan
Namun, prospek permintaan platinum yang tinggi terjadi saat pasar platinum sedang menghadapi krisis persediaan.
WPIC memprediksikan pasar platinum akan mencatatkan defisit pasokan selama empat tahun berturut-turut pada 2026. Ini akan semakin menekan persediaan di atas tanah menjadi kurang dari tiga bulan pada akhir tahun.
Di saat yang bersamaan, persediaan tambang tetap tidak mampu untuk cepat merespon harga yang meningkat karena jangka waktu pengembangan yang panjang di industri serta jumlah produksi pada operasi bawah tanah.
“Berdasarkan kondisi fundamental saat ini, daya tarik nilai platinum tetap menjanjikan,” ujar Raymond, mengingatkan bahwa pasokan yang terbatas secara struktural terus menjadi penopang pasar.
Meskipun persediaan tetap tertekan, eksekutif penambangan yang jadi pembicara percaya bahwa operasi yang sudah ada dan proyek perluasan lahan bekas (brownfield) akan memenuhi permintaan jangka panjang.
Investor China Mulai Melirik Platinum
Selain permintaan industri, konferensi tersebut juga menyorot minat investasi platinum yang meningkat di China.
WPIC mengungkap China memiliki pasar terbesar bagi batangan dan koin platinum yang baru dicetak sejak tahun 2023. Permintaan investasi fisik berkembang, yang sebelumnya kurang dari satu ton pada 2019 menjadi hampir 13 ton pada tahun 2025.
Di acara yang sama, dewan juga mengumumkan kerjasama strategis dengan Beijing Caishikou Department Store (Caibai) yang akan meluncurkan seri batangan investasi platinum pertama, yang menempatkan platinum berdampingan dengan produk batangan emas dan perak yang sudah mapan.
Dewan juga mengutarakan rencananya untuk bekerja dengan institusi finansial China demi memperluas akses investor melalui rencana akumulasi platinum dan reksa dana yang diperdagangkan di bursa, memperkuat posisi platinum di pasar logam China.
Meskipun sentimen di konferensi tersebut cenderung optimis, analis menilai, logam mulia tersebut masih mengalami tekanan. Ini disebabkan oleh kekhawatiran inflasi yang mendorong bank sentral untuk menerapkan kebijakan yang lebih ketat, meningkatkan biaya peluang dari kepemilikan aset riil yang tidak menghasilkan.
Analis memprediksi, harga platinum didukung oleh permintaan yang melimpah dalam jangka panjang, tetapi harga platinum tetap melambung di US$ 1.600 per ons, atau sekitar Rp 28,6 juta.